Gerak Muhammadiyah Kabupaten Semarang : Dari Gerakan Infaq 1000 Qur’an hingga Infaq 10000 Sandal

ilustrasi
ilustrasi

SangPencerah.com- Tidak tersedianya sandal di banyak masjid-masjid dan musholla, kadang membuat jamaah kebingungan. Terdorong oleh alasan sederhana seperti ini, Muhammadiyah Kabupaten Semarang, melalui Lazismu menggalakan gerakan infaq 10000 sandal.

Ketua Lazismu Kabupaten Semarang, Zainal Abidin ketika dihubungi Sang Pencerah mengatakan bahwa “Selama ini kami banyak melihat masjid tidak difasilitasi sandal, ketika orang mau ambil air wudhu agak kerepotan, sehingga muncul inisiatif dari kami untuk menggalakkan infaq 10000 sandal. sandal-sandal yang dapat diinfaqkan tidak harus baru, yang penting pantas pakai”.

Zainal Abidin menambahkan bahwa bagi masyarakat yang ingin menginfaqkan sandal dalam bentuk uang, sepasang sandal dihargai 10 ribu rupiah. Setelah terkumpul, sandal-sandal ini akan disalurkan ke masjid-masjid dan musholla-musholla di Kabupaten Semarang dan sekitarnya. Tidak hanya untuk masjid maupun musholla milik Muhammadiyah, tetapi untuk seluruh masjid yang membutuhkan.

Geliat gerakan filantropi yang dilakukan Lazismu Kabupaten Semarang tidak sebatas gerakan 10000 sandal saja, banyak kegiatan-kegiatan lain yang sudah di lakukan, seperti: gerakan program bedah rumah milik kaum dhuafa, gerakan resik-resik masjid dan musholla, serta gerakan 1000 Al Qur’an. Untuk gerakan 1000 Al Qur’an ini di laksanakan saat bulan Ramadhan, dimana banyak sekali permintaan Al Qur’an, khususnya di kegiatan-kegiatan pesaantren kilat. Para donator dapat menginfaqkan 50 ribu rupiah untuk setiap satuan al qur’an. Respon masyarakat pun sangat positif, gagasan kreatif Muhammadiyah Kabupaten Semarang ini pun mengundang banyak perhatian media massa, baik itu media lokal maupun nasional.

“Semua kegiatan-kegiatan yang dilakukan Lazismu Kabupaten Semarang ini murni untuk kepentingan dakwah Muhammadiyah. Sasaran kami adalah semua umat, tidak membeda-membedakan, sehingga Muhammadiyah bisa lebih berkembang di Kabupaten Semarang”, pungkas aktivis kelahiran Palembang ini. (sp/juwita)