Home Opini Muhammadiyah Tetap Terjaga Sebagai Kelompok yang Waras

Muhammadiyah Tetap Terjaga Sebagai Kelompok yang Waras

oleh : Prof. Dr. Thohir Luth, MA (Wakil Ketua PWM Jawa Timur 2015-2020)

Muhammadiyah dalam perjalanannya pasti vis a vis (berhadapan) dengan berbagai dinamika sosial dan ritual dalam masyarakat. Dinamika tersebut bisa berupa dukungan, dan juga bisa berwujud tantangan dengan segala macam dampaknya. Dukungan dan tantangan yang dihadapkan pada Muhammadiyah bisa berpeluang untuk menimbulkan militansi kita dalam ber-Muhammadiyah.

Tetapi kita juga tidak boleh lengah, apalagi memandang remeh atas dukungan dan tantangan tersebut. Sebab bisa jadi dukungan itu bisa membuat kita mudah puas atau mungkin menjadi benih munculnya sombong dan ego sektoral dalam Muhammadiyah. Kalau hal tersebut terjadi, maka kita sepertinya membangun Muhammadiyah, tetapi sejatinya kita sedang merusaknya.

Maka, ber-Muhammadiyah itu pada dasarnya menaati semua aturan main yang telah menjadi pedoman bersama dalam mengurus Muhammadiyah ini. Bukan berarti kita hanya berfikirtekstual saja mengabaikan kontekstual, tetapi bagaimana meramu atau merajut pemikiran tekstual dengan kontekstual dalam satu bingkai ber-Muhammadiyah yang terjadi.

Memang harus diakui bahwa menjaga Muhammadiyah di zaman ini, apalagi akan datang tidaklah mudah, karena tantangannya semakin meluas dan merata dengan berbagai dampak turutannya. Sehingga menurut hemat saya, memimpin/mengelola Muhammadiyah layaknya seperti kita bermain layang-layang. Ada waktunya kita mengulur tali layang supaya dia terbang jauh di atas angkasa. tetapi ada juga saatnya kita menariknya agar dia tidak terjun bebas.

Artinya di saat dia terbang menghiasi angkasa sambil melintasi mentari-mentari Muhammadiyah, kita perlu memberi penghargaan dan apresiasi padanya. Tetapi terdeteksinya akan terjun bebas, maka kita juga perlu memberikan punishment padanya agar dia tahu diri. Kesemuanya itu adalah dalam rangka implementasi dakwah, amar makruf nahi al-munkar  sebagai proses perjuangan ber-Muhammadiyah. Hal tersebut bisa diketahui sebagai upaya kita menjaga Muhammadiyah dari berbagai keterpurukan yang hendak ditimpahkan pada Muhammadiyah.

Namun satu hal yang tidak boleh kita lakukan adalah seperti tergambar dalam pepatah. Karena nila setitik rusaknya susu sebelanga, artinya jangan pernah menghapus jasa dan kebaikan orang dalam Muhammadiyah karena harga sedikit kesalahan. Salahkan pada yang bersalah terhadap Muhammadiyah, tetapi hargailah jasa kebaikannya pada Muhammadiyah dengan demikian maka kelanjutan perjuangan Muhammadiyah tetap terjaga dan marwah Muhammadiyah akan menjadi sosok ormas Islam yang berwibawa.

Muhammadiyah yang begitu spektakuler perkembangannya bukan berarti tanpa masalah yang menghadangnya. Tetapi kebesaran Muhammadiyah juga dimotivasi oleh banyak masalah yang menghadangnya. Inilah sebabnya mengapa ada kalimat yang memuji masalah atau persoalan yang dialami oleh Muhammadiyah. Itulah sebait kalimat yang berbunyi “sengsara membawa nikmat, atau kelihatannya buntung, malah untung”.

Rahasianya hanya satu yang menurut saya tidak dimiliki orang lain ataupun ormas Islam lain, yaitu: “kemampuan mengelola tantangan menjadi peluang” atau “menerima badai, menuai berkah”, atau juga mendendangkan sebait pantun yang berbunyi, “seng waras ngalah“.

Perhatikan kisah nyata di zaman Kyai Ahmad Dahlan mendirikan mushola dengan kiblat yang benar menurut perhitungan umum pasti yang akhirnya dirobohkan oleh orang Islam sendiri di zamannya. Demikian pula kisah nyata Muhammadiyah di Jawa Timur yang diporak-porandakan orang di saat lengsernya Gus Dur sebagai presiden.

Subhanallah, para pemimpin Muhammadiyah bersama keluarga besarnya telah memainkan peran penting menjaga Muhammadiyah. Dalam kancah dan perubahan zaman yang seringkali menggunakan jurus-jurus mabuk menghadapi sesama, insya allah Muhammadiyah tetap terjaga sebagai kelompok yang waras menghadapi wong edan.

*dimuat dalam Majalah MATAN Edisi 112 November 2015