Islam Agama Emansipatorik Bukan Hanya Soal Surga dan Neraka

Di hampir setiap subuh, musholla sebelah rumah saya mengadakan kultum. Saya termasuk yang menyimaknya selama ini, mengingat pada jam itu tentu lebih baik saya gunakan untuk kegiatan yang produktif diantaranya menimba ilmu. Namun akhir akhir ini saya mulai suntuk dengan guliran tema khutbah yang serasa hanya berkutat pada satu dimensi saja. Tak akan jauh jauh dari kata surga dan neraka. Saya yang masih 19 tahun tentunya merasa jenis khutbah seperti ini masih terlalu jauh-tentu saya tidak menafikkan bahwa Tuhan bisa menjemput saya kapan saja-namun disaat permasalahan dunia yang juga semakin kompleks sudah seharusnya Islam saat ini mengubah ranah perbincangannya yang tidak hanya sekedar masalah masalah yang berbau metafisis.

Saya mengingat kembali awal ketika Nabi Muhammad sedang akan mendirikan agama Islam. Pada saat itu kaum quraisy dianggap sebagai kaum yang jahiliyah, dikarenakan perilaku mereka yang sudah keluar dari koridor kemanusiaan. Bayangkan saja, jika ada anak perempuan lahir, maka akan langsung dibunuh, termasuk Umar bin Khattab yang mengubur hidup hidup anak perempuannya. Islam lewat Muhammad merespon hal tersebut dan tentu kita tahu bahwa Islam secara keras melarang perbuatan perbuatan keji tersebut, termasuk membunuh. Islam adalah agama yang sedari awal menghargai kemanusiaan, bagaimana kemudian nyawa tidak ditentukan oleh jenis kelamin anda, laki laki maupun perempuan berhak hidup. Tak sekedar itu, Mekkah disaat itu adalah tempat pelarian bagi kalangan kalangan kristen yang dianggap menyimpang dari daerah kekaisaran besar Romawi dan Persia, dan kita dapati dalam ajaran agama Islam, ada pembaharuan akidah mengenai apa yang disebut sebagai Tuhan. Islam kemudian juga menata bagaimana masyarakat sebaiknya berperilaku, tak berjudi, tak minum minuman keras, perbuatan yang sebenarnya sangat merugikan. Islam merespon langsung terhadap permasalahan yang muncul dalam dinamika kehidupan sosial. Munculnya ekonomi syariah sebagai respon terhadap sistem ekonomi konvensional yang dianggap kurang sehat, dan sistem ekonomi syariah menunjukkan progres yang baik akhir akhir ini. Inilah semangat dasar Islam, semangat emansipasi, Islam bukan hanya perihal anda masuk surga atau nereka-yang bagi saya itu adalah hak prerogatif Tuhan-namun Islam adalah agama emansipasi.

Semangat emansipatorik inilah yang juga menjadi latar belakang Muhammadiyah berdiri. Dengan berbekal adanya kesalahan arah kiblat, maka Amad Dahlan tergerak untuk memperbaiki hal tersebut. Dan dilanjutkan dengan pergerakan yang tidak hanya sekedar mengubah arah kiblat, namun juga mencoba menyelesaikan masalah masalah sosial seperti pendidikan, kemiskinan dsb. Kenapa kemudian Muhammadiyah dikenal sebagai salah satu organisasi yang memiliki basis penyedia lembaga pendidikan yang baik di masyarakat Indonesia.

Dan penyebab arah pergerakan Islam yang cenderung menuju arah metafisis ini saya tengarai diantaranya dilatarbelakangi oleh adanya elitisme dalam dunia Islam, selain tentu karena semakin masifnya pergerakan pemikiran kalangan puritan yang selalu menggunakan iming iming surga. Tak perlu dipungkiri bahwa terjadi pola pengeksklusifan dalam Islam. Seorang ulama semakin hari semakin tak tersentuh, dan hanya bergaul dengan sesama ulama. Tentu saya tidak mempermasalahkan gaya bergaul beliau beliau, namun karena karena lingkaran tersebut bisa jadi menjadikan mereka kurang peka terhadap permasalahan yang muncul dalam masyarakat kalangan menengah kebawah. Karena ada gap antara kaum elit ulama dengan makmum menengah kebawah.

Berbeda dengan Rasulullah, karena beliau membangun Islam justru dengan jalan mencari bantuan dari kaum budak dan perempuan-Islam berdiri diatas darah dan tulang belulang kaum marjinal-sehingga semasa beliau hidup, Rasul adalah orang yang sangat mudah ditemui dan diajak berbincang mulai dari urusan kasur sampai pada strategi perang. Pun perkataan perkataan Nabi tidak semuanya benar-dalam perkaradunia-terbukti manakala membuat straegi perang, beliau sering meminta masukan dari para sahabat. Dan ketika strategi yang diusulkan nabi margin of error nya lebih tinggi, tak segan para sahabat mengoreksi, dan Nabi pun menerima dengan lapang dada. Tentu, sangat saya nantikan, para ulama di zaman sekarang dalam memutuskan hal hal yang berkaitan dengan dunia juga mendengar masukan dari para makmum, sehingga beberapa putusan tidak ditertawai oleh para makmum.

Islam yang tampaknya diakhir ini semakin menjauhi ranah dunia justru karena memang dijauhkan oleh mereka para pegiat Islam itu sendiri. Saya berharap Muhammadiyah terus memelihara adat emansipatorik ini, karena dengan begitu Tuhan tidak akan sia sia menciptakan dunia, karena ingat setiap doa yang diajarkan nabi yang anda ucap, saya bisa pastikan yang didahulukan adalah kepentingan dunia, karena justru dengan memperbaiki dunia tersebut adalah tangga menuju akhirat.

]
Fathul Purnomo
Department of Philosophy
Faculty of Humanity
Universitas Indonesia