Dialektika Pemimpin: Dakwah dan Komunikasi

Oleh: Anang Amiruddin Nugroho
(Ketua Korkom IMM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ketua Umum PC Pemuda Muhammadiyah Wirobrajan Yogyakarta)

Rintik hujan membasahi tanah, seketika itu terangkatlah parfum bumi yang sekian lama terpendam, khas aroma sedap nan segar tercium lepas dalam hembusan nafas. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kesan enerjik mewarnai kalian wahai adik-adik, seolah-olah gairah ini pun tertular muda kembali. Barangkali ini yang sering saya sebut “guru”, tak memandang siapa, tak memandang usia, tak memandang kapan dan tak memandang dimana. Kuntum khaira ummah! Kalian adalah umat terbaik, maka buktikanlah yang terbaik!

Melihat semangat kalian, rasanya semakin bergairah saja organisasi ini, menjadi tak pantas jika kalian mengeluh. Seberapa besar tantangan yang ada didepan, walau sudah kalian ukur dengan seribu kalkulator sekalipun, menjadi wajib untuk kalian hadapi. Besar kecilnya permasalahan tergantung besar kecilnya optimisme kita dalam berjuang. Tentunya dalam setiap lini organisasi ada beberapa hal yang menjadi tolok ukur, maka harus disiapkan pula plan-plan selanjutnya.

Kullukum ra’in wakullukum masulun, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Seperti tertuang dalam hadits, maka jadikanlah setiap kadar pikiran dalam diri menjadi seorang pemimpin. Baik sebagai pemimpin untuk diri sendiri, maupun pemimpin bagi orang lain. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang mampu mendialektikakan dakwah menjadi komunikasi efektif kepada para pimpinan disekitarnya. Menyadarkan bahwa apa yang diemban dalam sebuah kumpulan, merupakan setitik pertanggung jawaban yang harus segera diselesaikan.

Satu hal yang menjadi catatan, kepemimpinan bukanlah kepiawaian didalam menginstruksi dan memerintah, namun kepemimpinan adalah hasil kontrol diri untuk dikembangkan ke ranah yang lebih luas. Ketika diri berhasil untuk dikontrol, dipacu untuk senantiasa berlari, maka pacuan itu akan menjadi ghirah tersendiri bagi orang disekitarnya. Inilah yang dimaksud mendialektikakan dakwah ke dalam sebuah komunikasi, tidak memerlukan banyak bekal namun lebih kepada sejauh mana kita dapat berbuat.

Ketika orang disekitar masih berfikir dilevel satu, maka dialektika seorang pemimpin harus mencapai level dua. Persoalannya adalah terkadang seorang manusia memerlukan pacuan untuk beranjak ke level selanjutnya, mereka masih berfikir panjang dan enggan untuk segera berpindah. Ini lebih dikarenakan kontrol diri yang belum sepenuhnya terkuasai. Menunggu orang lain, hingga orang lain mencontohkan, mental seperti ini yang harus diubah. Karena pada dasarnya mental seorang pemimpin adalah mental seorang pembaharu, jika masih menunggu maka dapat dikatakan pula sebagai mental seorang pengekor. Perbedaan antara pemimpin dan pengekor terletak pada tingkat kemandiriannya.

Satu kata terucap dari lisan seorang pemimpin, maka ucapan tersebut adalah sebuah makna yang akan ia lakukan. Pemaknaan disini adalah beratnya kata yang ia keluarkan, karena pada dasarnya seorang pemimpin bukanlah orang yang ahli dalam berucap, namun lebih kepada aksi yang terucap. Konsistensi menjadi harga mati untuk seorang pemimpin, karena ketika pemimpin tersebut telah berikrar, maka seketika itulah dimulai ikhtiar yang akan ia jalankan, seberapa besar tantangan bukan menjadi persoalan. Bagi mereka proses adalah sebuah jalan, sedangkan hasil adalah reward daripada sebuah proses.

Jika realisasi sebagai bentuk ikhtiar yang ia lakukan telah dimulai, maka tunggulah hasil dan prosesnya, berbagai plan telah ditulis dan diusahakan sedemikian rupa. Tahapan yang ia rancang menjadi tombak, yang dipersiapkan dengan seruncing-runcingnya, laksana pedang yang siap menghunus musuh-musuhnya. Pemimpin adalah mereka yang tidak takut gagal, karena kadar optimisme sudah menjadi obat antibiotik dalam menghadapi arah keputusasaan. Jadilah pemimpin dengan sebaik-baiknya, tiada kata seindah tindakan! Be a leader!