Tafakur Akhir Tahun : Sejenak untuk (kembali) Bergerak

Sudah 31
Desember lagi, sudah tahun baru lagi. Mungkin masih terngiang di dalam memori
kita saat-saat akhir tahun yang lalu, ketika kita ketik kan kata demi kata
dalam sebuah tulisan sederhana bertuliskan harapan dan target kebaikan-kebaikan
kita di tahun 2015 ini. Tapi tak disangka kita sekarang sudah melihat  matahari di hari terakhir tahun ini. Benar
kata pepatah arab bahwa waktu adalah pedang yang setiap saat bisa menebas leher
orang-orang yang menyia-nyiakannya. Jelas dalam pepatah ini waktu diibaratkan
sebuah benda yang bisa melesat cepat meninggalkan yang hanya berdiam, ia juga
tajam siap menindas apapun yang hanya berpangku tangan.
Berbicara
mengenai waktu, dalam Islam ada prinsip yang sangat sederhana. Barangsiapa hari ini lebih baik dari hari
kemarin maka ia tergolong beruntung, barangsiapa yang sama kondisinya dari hari
ke hari ia merugi, dan paling parah yang justru ia lebih buruk, inilah golongan
yang celaka.
Sudah tersurat dengan jelas, prinsip ini berusaha untuk
menjaga kita agar senantiasa melakukan perbaikan dari setiap waktunya, atau pun
kalau kita zoom in ke dimensi yang
lebih kecil, perbaikan dari setiap jam ke jam berikutnya, menit ke menit, dan
detik demi detik. 
Seorang muslim adalah seorang yang sadar akan pentingnya
memanfaatkan waktu  untuk melakukan
perbaikan. Ia sadar betul jika setiap saat ia bisa dipanggil oleh sang pemilik
kehidupan, jadi ia selalu berusaha untuk melakukan perbaikan disetiap waktunya.
Jangan sampai saat ia meninggal, ia dalam kondisi yang lebih buruk dari
sebelumnya. Kalau kita hayati lagi, cukup simple konsep ini, hanya berbuat
lebih baik dari sebelumnya kita sudah menjadi orang yang beruntung. Namun
secara pengamalan akan sulit kalau kita tidak konsisten dalam menjaganya.
Cara terbaik
untuk melihat apakah kita masuk dalam kategorisasi yang beruntung, merugi, atau
pun celaka itu cukup gampang yakni dengan tafakur diri di setiap waktunya.
Sederhananya mungkin kita ada waktu khusus sejenak dalam setiap harinya untuk
mengurai apa yang kita kerjakan dalam setiap harinya. Apa kebaikan yang sudah
kita lakukan, pun dengan keburukan dan kelalaian kita. Dari sinilah kemudian
kita bisa tahu progress yang telah kita lakukan, apakah menghasilkan progress
yang naik dari sisi kebaikannya ataukah justru menurun.  
Boleh kita mulai dengan menganalisis amalan
yaumi kita, tentang sholat fardhu kita, sholat sunnah kita, tilawah kita,
sedekah kita hingga apakah kita sudah memberikan kemanfaatan untuk orang lain
di hari itu. Perlu juga kita renungkan apa saja kekhilafan yang telah kita
lakukan di hari itu, mungkin kita telah berkata kotor, mengumpat, menyakiti
teman atau keluarga kita atau kita pernah berbohong atau bermaksiat sekalipun. 
Dari
sinilah kemudian kita bisa mengetahui apakah kebaikan kita lebih banyak
ketimbang keburukan kita, atau justru ada ketimpangan sebaliknya. Tentunya kita
bisa menginstropeksi diri untuk hari selanjutnya, agar kita makin baik
timbangan kebaikan kita. Sembari kita beristighfar untuk memohon ampun kepada
Allah atas segala khilaf dan kesalahan kita hari itu, karena boleh jadi
sepanjang hari kita sama sekali beristighfar kepadaNya. Padahal kalau kita
menilik seorang Rasulullah yang notabene sudah di jaga dari dosa, beliapun
selalu beristighfar dalam setiap harinya, tak hanya sekali saja, namun lebih
dari seratus kali.
Wahai sekalian manusia.
Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya
dalam sehari sebanyak 100 kali.
” (HR. Muslim)
Dalam sebuah sebuah
ayat sudah dijelaskan bahwa kita sebagai hambaNya diperintahkan untuk bertakwa  kepada Allah dan introspeksi diri (muhasabah).
Karena dengan muhasabah, maka jiwa akan menjadi istiqamah, sempurna dan
bahagia. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”
 
(QS. Al-Hasyr: 18)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya:
“Firman Allah, وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ , maksudnya
introspeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan perhatikan amalan sholeh
yang telah kalian persiapkan untuk hari kemudian dan pertanggungjawaban di
hadapan Allah.”
Konsep tafakur
diri setiap harinya ini alangkah lebih baik juga kita implementasikan dalam
setiap akhir tahun. Kita bisa menginstropeksi pencapaian kita dalam sepanjang
tahun ini, apakah kita sudah menjadi hambaNya yang bertaqwa, meskipun kita tahu
semua penilaian tentang ibadah kita adalah hak prerogative Allah SWT tapi
dengan kita mentafakuri diri seperti ini setidaknya kita bisa memetakan apakah
kita sudah mengarah menuju perbaikan diri atau justru kebalikannya. 
Termasuk
dengan pencapaian target-target aktivitas keduniaan kita. Kalau kita sudah
baik, kita harus termotivasi
untuk meningkat lebih baik lagi. Kalau kita belum baik kita harus memperbaiki
celah-celah dan kekurangan kita untuk bisa lebih baik kedepannya. 
Kita bisa meluangkan mungkin di hari terakhir
setiap tahunnya untuk merenungi diri tentang apa yang telah dikerjakan selama
ini. Di malam tahun baru memang tidak ada anjuran khusus untuk melakukan suatu
hal, namun alangkah baiknya kita gunakan slot itu untuk bertafakur diri tentang
apa yang kita kerjakan sepanjang tahun itu. Hanya sejenak, mungkin 2-4 jam
cukup atau bahkan lebih.
 Kadang kita merasa berat meluangkan waktu sejenak kita
untuk hal-hal seperti ini. Tapi kalau untuk bersenang-senang merayakan tahun
baru mungkin 4 jam saja tidak cukup. Sah-sah saja merayakan tahun baru asalkan
tidak berlebihan dan kita tetap meluangkan waktu untuk mentafakuri diri. Akhir
tahun bukanlah waktu untuk berkelakar dan bersenang-senang semata, namun jauh
dari itu.
 Akhir tahun kita bisa sejenak menonaktifkan segala keriuhan dunia ini
untuk mentafakuri diri ini sembari menyusun rencana-rencana kebaikan apakah
yang akan kita kejar di tahun yang baru esok harinya. Selepas itu kita saatnya
kembali bergerak menyongsong tahun yang baru dengan semangat dan perencanaan
yang lebih matang untuk menjadi orang-orang yang beruntung dengan semangat
perbaikan kita. Terus Berderap!
Phisca
Aditya Rosyady
Mahasiswa Master di Seoul National Univ. of Science and Technology,
Alumni Elektronika dan Instrumentasi UGM 2010, Santri di PPSDMS Nurul Fikri
Regional III Batch 6, Aktif di Indonesian Muslim Students Association in Korea
(IMUSKA), pernah aktif di IMM UGM Komisariat Al Khawarizmi dan IPM Cabang
Imogiri, (Pernah) Magang di BPPM Balairung, ex-Programmer Astra Graphia IT