Kisah Tokoh NU Yang Lebih Memilih Sekolahkan Anak di Muhammadiyah

sangpencerah.id Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) merupakan dua organisasi terbesar di negeri ini. Keduanya diharapkan saling berkontribusi dalam membangun bangsa ini. NU dan Muhammadiyah memiliki perbedaan dalam sistem pendidikan.

NU lebih fokus ke pesantren, sedangkan Muhammadiyah lebih konsen ke pendidikan umum. Walaupun saat ini dapat kita lihat bahwa NU sudah mulai mengikuti ‘saudara’-nya untuk mendirikan Universitas di kota-kota, serta, Muhammadiyah yang mulai menyentuh sistem pesantren di pedesaan. Kembali kepada tema pokok, dengan banyaknya jumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah, tak jarang warga NU juga merasakan manfaat atas kehadirannya. Salah satu contohnya adalah apa yang telah diutarakan oleh Prof Mahfud MD (mantan Ketua MK),

“Anak-anaknya orang NU banyak yang disekolahkan di SD Muhammadiyah Sapen. Dua anak Katib Aam NU Dr. KH Malik Madani, misalnya, adalah lulusan SD Muhammadiyah Sapen dan selalu menjadi juara  mulai SD sampai lulus perguruan tinggi berkelas seperti UGM. Bukan hanya anaknya Malik Madani. Anak-anaknya Prof. Machfoed Mas’oed, Prof. Miftah Thoha, Pak Ghazali, dan anak saya sendiri disekolahkan di SD Muhammadiyah Sapen karena NU belum punya lembaga pendidikan formal yang seperti itu.

Muhammadiyah punya Universitas-universitas dan sekolah-sekolah yang dari ukuran akreditasi dan pemeringkatan sudah maju. Sebutlah UMM (Malang), UMS (Solo), UMY (Yogya). Anak-anak NU banyak yang masuk universitas-universitas Muhammadiyah karena di NU belum tersedia bidang yang dibutuhkan. Di NU ada Unissula dan Unisma yang bisa diharapkan menjadi mercu suar, tapi masih agak jauh. Bahkan pada tingkat SD  dan sekolah menegah begitu.”


Hal tersebut membuktikan bahwa Muhammadiyah tidak antipati terhadap organisasi keagamaan lainnya, seperti yang masyarakat pada umumnya pikirkan dewasa ini.

sumber :http://www.kompasiana.com/aprianita/muhammadiyah-rumah-untuk-semua_565d2c155693735f06c4dc47