Kajian Muhammadiyah Batang, Mantan Biarawati Ingatkan Gerakan Pemurtadan

sangpencerah.id – Kajian rutin ahad pagi At Tanwir yang dipusatkan di Masjid Al Manar, Kelurahan Kasepuhan, Batang, Minggu (6/12), dihadiri mantan biarawati dari Solo, yakni Dra Dewi Purnamawati. Penuturannya tentang proses menemukan Islam cukup mampu menyedot ratusan jamaah yang hadir.


Dewi yang lahir dan didik sebagai misionaris, akhirnya memilih Islam sebagai agamanya di tahun 1999. Namun hidayah yang dia peroleh melewati proses yang panjang dan melelahkan, terkait pergulatan batin yang terus menghantui pikirannya terhadap doktrin-doktrin agama lamanya yang dia anggap banyak yang tak logis.


“Di saat kecamuk pikiran itu semakin hebat, sebuah peristiwa mengerikan nyaris merenggut nyawa saya. Mobil yang saya kemudikan sangat kencang menuju Madiun mengalami kempes ban dan sulit saya kendalikan. Saya pucat pasi dan berpikir akan mati, tetapi takut karena belum menemukan agama yang benar,” tuturnya mengisahkan pengalaman.


Ketika akhirnya berhasil mengendalikan mobil dan menepi di pinggiran hamparan sawah, suara adzan maghrib menggetarkan hatinya. Peristiwa itu mendorongnya untuk memperlajari Islam. “Ketika saya membaca buku tentang akhlak Islam, saya kagum, betapa agama ini telah mengatur hal-hal kecil sekalipun. Maka Februari 1999 saya mantap memutuskan untuk memeluk agama ini, menjadi mualaf,” ujar lulusan IKIP Yogya itu.


Tetapi pilihan selalu mengundang konsekuensi. Sejak itu, Dewi mengalami ujian berat yang bertubi-tubi; dikucilkan dan diceraikan hubungan biologisnya dari orang tua dan keluarga, menerima ancaman dan berbagai intimadi, hingga kesulitan hidup. Termasuk saat dia dipisahkan dari anaknya.


“Beruntung menjadi orang mukmin. Saat diuji penderitaan, dia harus bersabar dan itu baik baginya. Pun saat diberi nikmati, dia bersyukur, itu pun baik baginya. Seberat apapun ujian itu, Allah lebih layak saya cintai. Dia tidak mungkin menyengsarakan hambanya,” terang mantan misionaris yang pernah memurtadkan beberapa teman-temannya yang Islam itu.


Dari kisahnya memilih Islam itu, Dewi pun mengajak jamaah untuk terus menjaga dan memantapkan akidahnya. Terutama bagi orang tua, dia berpesan untuk mendidik dan membekali anaknya dengan akidah yang kuat.


“Sebab, gerakan pemurtadan selalu membayangi umat Islam, terutama kalangan remajanya. Maka selain waspada, bekal akidah yang kuat sangat dibutuhkan untuk membentengi anak-anak kita dari pemurtadan,” pesannya bersemangat.


Gaya penyampaian Dewi yang heroik cukup mampu menyihir jamaah At Tanwir. Mereka serius menyimak pesan-pesan mualaf yang kini aktif sebagai pendakwah itu. Dalam kesempatan itu, Lazismu Batang juga berkesempatan mentasharufkan paket sembako untuk warga yang memutuhkan. Seperti biasa, acara ditutup dengan sarapan meogono bersama. (muh.or.id/sp)