Risalah Falsafah Ajaran K.H. Ahmad Dahlan

KH Ahmad Dahlan

sangpencerah.id – Siapa yang tak kenal dengan KH. Ahmad Dahlan? Beliau ini merupakan pendiri organisasi Muhammadiyah. Selain itu, beliau juga merupakan tokoh nasional yang banyak berjasa bagi dunia pendidikan dan perkembangan Islam di Indonesia.

Semasa hidupnya. KH. Ahmad Dahlan memiliki pemikiran yang begitu cerdas dan luar biasa. Saking luar biasanya, ajaran beliau dalam menyampaikan dakwah dianggap bertentangan dengan pemahaman agama serta budaya pada masa itu yang memiliki latar belakang suasana kebangkitan nasional. Jika ingin mengetahui informasi lebih lengkapnya, anda bisa membaca artikel tentang biografi dan dakwah KH. Ahmad Dahlan.

Nah, penasaran seperti apa ajaran KH. Ahmad Dahlan yang begitu luar biasa? Haji Majid, seorang murid K.H. Ahmad Dahlan menuliskan pengalamannya dalam risalah singkat Falsafah Ajaran K.H. Ahmad Dahlan. Setidaknya ada tujuh point yang dapat dipetik yaitu,

1. Mengutip perkataan al-Ghazali, K.H. Ahmad Dahlan mengatakan bahwa manusia itu semuanya mati (perasaannya) kecuali para ulama. Adapun yang dimaksud para ulama di sini adalah orang-orang yang berilmu. Namun begitu, ulama tersebut akan selalu dalam kebingungan kecuali bagi mereka yang mengamalkan ilmunya. Dan yang mengamalkan pun semuanya dalam kekhawatiran kecuali bagi mereka yang melakukannya dengan ikhlas dan bersih.

2. Kebanyakan manusia bertingkah angkuh dan takabur. Mereka mengambil keputusan sendiri-sendiri. K.H. Ahmad Dahlan heran kenapa pemimpin agama dan yang tidak beragama selalu hmengambil keputusan sendiri tanpa mengadakan pertemuan di antara mereka. Para pemimpin itu tidak mau bertukar pikiran memperbincangkan dan membahas mana yang benar dan mana yang salah. Mereka hanya meminta pendapat pada orang-orang terdekatnya, tentu saja hal itu akan dibenarkan. Tetapi KH. Ahmad Dahlan mengajak para-para pemimpin tersebut untuk mengadakan suatu musyawarah dari luar golongannya masing-masing supaya keseimbangan opini pun terlihat, mana sesungguhnya yang benar dan mana sesungguhnya yang salah.

3. Manusia jika mengerjakan pekerjaan apapun, sekali, dua kali, dan akhirnya sampai berulang-ulang maka akan menjadi sebuah kebiasaan. Jika sudah menjadi kesenangan yang dicintai, maka kebiasaan yang dicintai tersebut sulit untuk dirubah. Sudah menjadi tabiat bahwa kebanyakan manusia membela adat kebiasaan yang sudah diterima, baik dari sudut i’tiqat, perasaan maupun amal perbuatan. Jika ada yang akan merubah hal tersebut, maka orang tersebut mampi membela sesuatu yang dicintainya dengan mengorbankan jiwa raga.

4. Manusia perlu digolongkan menjadi satu dalam kebenaran, harus sama-sama menggunakan akal pikirannya untuk memikirkan bagaimana sebenarnya hakikat dan tujuan manusia hidup di dunia. Manusia harus mempergunakan pikirannya untuk mengoreksi soal i‘tikad dan kepercayaannya, tujuan hidup dan tingkah lakunya, mencari kebenaran yang sejati.

5. Setelah manusia mendengarkan pelajaran-pelajaran fatwa yang bermacam-macam, membaca beberapa tumpuk buku dan sudah memperbincangkan, memikirkan, menimbang, membanding-banding ke sana ke mari, barulah mereka dapat memperoleh keputusan, memperoleh barang benar yang sesungguhnya. Dengan akal pikirannya sendiri dapat mengetahui dan menetapkan, inilah perbuatan yang benar. Sekarang kebiasaan manusia tidak berani memegang teguh pendirian dan perbuatan yang benar karena khawatir, kalau barang yang benar, akan terpisah dan apa-apa yang sudah menjadi kesenangannya, khawatir akan terpisah dengan teman-temannya.

6. Kebanyakan para pemimpin belum berani mengorbankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha membawa umat manusia dalam kebenaran. Yang ada pemimpin-pemimpin itu biasanya hanya mempermainkan dan memperalat manusia yang bodoh dan lemah.

7. Ilmu terdiri atas pengetahuan teori dan amal (praktek). Dalam mempelajarinya, harus dilakukan secara bertahap. Jangan sampai keduanya dipelajari secara langsung. Kuasai dulu ilmu pertama, jika sudah mahir, barulah dilanjutkan ke ilmu selanjutnya.

Bagi Ahmad Dahlan, ajaran Islam tidak akan membumi dan dijadikan pandangan hidup pemeluknya, kecuali jika dipraktikkan. Menurut KH. Ahmad Dahlan, betapapun bagusnya suatu program, jika tidak dipraktikkan, maka tidak bisa mencapai tujuan bersama. Oleh Karena itu, Ahmad Dahlan tak terlalu banyak mengelaborasi ayat-ayat Al-Qur’an, tapi ia lebih banyak mempraktekkannya dalam amal nyata.

Penulis : Sofyan Hadi