Refleksi Penganugerahan Pahlawan Nasional Ki Bagus Hadikusumo

Sebagai salah seorang penulis buku “Dari Muhammadiyah untuk Indonesia; Pemikiran dan Kiprah Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Kasman Singidimedjo dan KH Abdul Kahar Mudzakkir”, sebagai warga Persyarikatan Muhammadiyah dan bangsa, saya ikut bersyukur karena pada akhirnya setelah hampir lebih tahun tahun usulan Muhammadiyah melalui tim yang dipimpin oleh Pak AM Fatwa berhasil. 
Ki Bagus Hadikusumo diberi anugerah gelar Pahlawan Nasional bersama tiga tokoh lainnya yaitu Bernard Wilhem Lapian (Sulut), Mas Isman (Jatim), Komjen Pol. Dr. H. Mohammad Jasin (Jatim) dan I Gusti Ngurah Made Agung (Bali) pada tahun ini.
Apresiasi juga saya sampaikan kepada pemerintah yang telah mendengar, memperhatikan dan mempelajari dokumen pengusulan tiga tokoh penting Muhammadiyah yaitu Ki Bagus Hadikusumo, Mr. kasman Singodimedjo dan KH prof Kahar Mudzakkir. Berharap dalam waktu dekat pemerintah kembali membuat keputusan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk Mr. Kasman dan Prof Kahar. 
Keputusan penerintah ini sangat penting tidak saja sekedar pengakuan dan apresiasi formal terhadap apa yang telah diperjuangkan oleh Ki Bagus dan tokoh-tokoh lainnya, akan tetapi sekaligus menunjukkan adanya kesadaran sejarah bahwa umat Islam merupakan elemen penting dari Bangsa dan Negara RI ini. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Pancasila adalah hadiah terbesar umat Islam dan Ki Bagus adalah tokoh kunci. Sebagai ideologi bangsa, Pancasila harus dipertahankan dan kembali umat Islam haruslah terus menjadi key player dan trend setter bagi kehidupan dan masa depan bangsa.
Memperhatikan kompleksitas masalah dan tantangan yang dihadapi umat dan bangsa ini, maka penting untuk menjadi perhatian beberapa hal:
Pertama, Islam sebagai ajaran luhur diyakini tetap kompatibel dengan kehidupan termasuk masalah-masalah kebangsaan seperti demokrasi, hak-hak asasi manusia dan lain sebagainya. Karena itu, tugas umat adalah menerjemahkan dan menghadirkan Islam sebagai ajaran yang tidak sekedar memberikan solusi terbadap berbagai persoalan yang berkembang, tetapi sekigus mengarahkan perjalanan ke depan tetap dalam bingkai Pancasila. Tentu tugas yang tidak ringan.
Kedua, dalam kaitan di atas, maka gagasan besar Muhammadiyah tentang Indonesia sebagai Dar al-Ahdi wa al-Syahadah menjadi sangat relevan. Semua elemen bangsa dari latar belakang agama, etnis, kultural maupun politik apapun harus tetap istiqomah dan berkomitmen tinggi untuk menjaga, merawat NKRI dan falsafah bangsa Pancasila. 
Dalam kaitan ini, maka semua tindakan atas nama apapun yang secara nyata merusak ideologi bangsa dan martabat serta kedaulatan rakyat bangsa dan negara merupakan common enemy dan harus diambil tindakan tegas. Korupsi yang saat ini nampak semakin menggurita misalnya adalah salah satu common enemy kita. Karena itu upaya pemberantasan korupsi haruslah lebih kuat jangan sampai ada proses pelemahan dari siapapun.
Ketiga, Indonesia saat ini masih merupakan negara dan bangsa dengan penduduk muslim yang terbesar di dunia. Peran strategis global Indonesia sangatlah dinantikan karena bagaimanapun juga Indonesia akan menjadi cermin. Ini mensyaratkan national leadership yang kokoh dan terpercaya serta visioner. Harus ada upaya yang sangat menyakinkan bahwa Indonesia adalah a peacefull  muslim country dan mampu menginspirasi terwujudnya tatanan dunia yang damai, mampu menyelesaikan dan menghindar dari berbagai konflik. 
The Arab spring seharusnya tidak terjadi dan kekuatan dunia seharusnya tidak ikut memperkeruh suasana. Minimal yang bisa dilakukan adalah membangun Indonesia sebagai negeri yang penuh harmoni bebas dari friksi dan pertentangan atas nama agama atau atas nama apapun. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh para tokoh bangsa seperti Ki Bagus semua ini membutuhkan dedikasi tinggi tak diragukan dan pengorbanan yang tulus. 
Semangat memberikan yang terbaik sangat dibutuhkan khususnya bagi penyelenggara negara. Sayangnya, tak sedikit hari ini kita saksikan semangat mengambil dan mengeruk aset bangsa justru yang muncul. Akibat dari semangat mengeruk inilah yang berbagai akibatnya sudah mulai dirasakan oleh banyak masyarakat; kesengsaraan umum. (rmol)
Sudarnoto Abdul Hakim 
Lektor Kepala Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta,
Ketua Dewan Pakar Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM).