Ketika Nabi Jadi Korban Berita Hoax


sangpencerah.id – Zaman Nabi ada peristiwa populer yang dikenal dengan haditsul ifki alias hoax atau berita bohong. Sebuah kebohongan yang disebar dari mulut ke mulut untuk mendeskreditkan dan mencemarkan Aisyah istri Nabi.


Waktu itu Nabi sedang memimpin ekspedisi melawan para pengkhianat dari Bani Mushtalik. Adapun istri Nabi yang ikut adalah Aisyah. Aisyah sendiri dikenal sebagai perempuan cantik, berperawakan kecil dan ringan badannya. Sehingga ketika tandu yang berisi Aisyah diangkat ke atas unta, bagi yang mengangkat itu terasa ringan.


Ketika itu ekspedisi dalam perjalanan kembali ke Madinah. Pada suatu malam, rombongan berhenti di suatu tempat untuk istirahat. Karena ada keperluan, Aisyah pun keluar tandu. Ketika hendak kembali ke tandu, Aisyah tersadar kalung miliknya hilang terjatuh. Maka Aisyah pun menghabiskan waktunya untuk mencari kalungnya.


Ketika Aisyah masih mencari kalungnya itulah rombongan mulai berangkat. Para penjaga Aisyah mengangkat tandu Aisyah keatas unta. Karena saking ringannya Aisyah, para pengangkat tandu tidak sadar kalau Istri Nabi itu belum masuk ke dalam tandu. Begitu Aisyah sudah menemukan kalungnya dan kembali ke tempat semula, rombongan sudah pergi.


Aisyah sadar kalau dia sudah tertinggal rombongan. Tetapi putri Abu Bakar ini orang cerdas. Dia tidak panik dan mengejar rombongan. Karena berjalan seorang diri di tengah padang pasir tanpa tahu arah, pasti akan tersesat. Aisyah memutuskan untuk berdiam diri di tempat dia tertinggal. Aisyah yakin kalau rombongan sudah menyadari dia tertinggal, pasti akan ada sekelompok orang yang kembali untuk menjemputnya.


Ketika Aisyah menunggu itulah muncul Shafwan bin Almu’attal. Seorang pemuda gagah dan shaleh. Dia tertinggal karena memang ada tugas yang mesti dia selesaikan terlebih dulu. Mengetahui Istri Nabi yang tertinggal, Shafwan lalu mempersilahkan menaiki untanya, dan Shafwan menuntun unta tersebut. Mereka berusaha mengejar rombongan, tetapi tetap tertinggal karena rombongan juga mempercepat langkahnya. Akhirnya mereka masuk kota Madinah terpisah dari rombongan. Inilah yang kemudian terlihat oleh masyarakat Madinah. Shafwan berjalan berdua dengan istri Nabi yang cantik.


Maka munculah berbagai prasangka negatif. Kenapa Aisyah sampai berjalan berdua di padang pasir dengan seorang lelaki?Kenapa Aisyah tidak pulang bersama rombongan?Semua prasangka negatif itu diceritakan dari mulut ke mulut. Dengan banyak tambahan, bumbu dan dramatisasi tentunya. Informasi penuh distorsi merambat cepat ke seluruh penduduk kota tanpa ada verifikasi. Ditambah adanya kaum musyrik dan Yahudi yang tidak suka terhadap Nabi, maka berita bohong itu seperti mendapatkan promotor untuk lebih dikembangkan baik secara isi maupun jangkauannya.


Segala berita buruk, prasangka yang menyebar dari mulut ke mulut itu, tidak hanya merepotkan Aisyah, tetapi juga Abu Bakar orang tua Aisyah bahkan Nabi sendiri. Aisyah sampai jatuh sakit karena gossip ini. Nabi memang tidak memarahi dan berlaku kasar pada Aisyah karena gosip itu, tetapi sikap Nabi terhadap Aisyah berubah. Nabi yang biasa lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap Aisyah, sekarang jadi kaku. Bahkan ketika menjenguk Aisyah yang sakit, Nabi hanya bertanya “Bagaimana keadaan Aisyah?” Tidak lebih dari itu. Nabi bimbang dengan hoax yang beredar. Di satu sisi Nabi mengakui bahwasannya Aisyah dan Shafwan adalah orang suci, baik dan teguh imannya, di sisi lain gosip di masyarakat sangat santer dan susah dihentikan.


Sampai akhirnya Nabi berbicara pada Aisyah dihadapan orang tuanya untuk memverifikasi berita tersebut. Sebuah upaya yang bagi Aisyah sangat menyakitkan. Karena merasa bahwa suami yang dia banggakan dan cintai itu, seperti tidak mempercayai dirinya.
Kata Nabi pada istrinya “Aisyah, engkau sudah mengetahui apa yang menjadi pembicaraan orang. Hendaknya engkau takut kepada Allah jika engkau telah melakukan suatu kejahatan seperti apa yang dikatakan orang. Bertobatlah engkau kepada Allah, sebab Allah akan menerima segala tobat yang datang dari hambanya”


Mendengar pertanyaan ini, meski sedih karena merasa tidak dipercaya, tapi dengan tegas dan penuh percaya diri Aisyah menjawab: “Demi Allah, sama sekali saya tidak akan bertobat kepada Tuhan seperti yang kau sebutkan itu, sedang Tuhan mengetahui bahwa saya tidak berdosa, berarti saya mengatakan sesuatu yang tidak ada. Tetapi kalaupun saya bantah, kalian takkan percaya. Saya hanya dapat berkata seperti apa yang dikatakan oleh ayah Yusuf: Maka sabar itulah yang baik, dan hanya Allah tempat meminta pertolongan atas segala yang kamu ceritakan itu”


Pada saat itulah kemudian turun Firman Tuhan yang menjelaskan pada Nabi perihal gosip itu. Kata Tuhan “Mereka yang datang membawa berita bohong itu sebenarnya dari golongan kamu juga. Jangan kamu mengira ini suatu bencana buat kamu, tetapi sebaliknya, suatu kebaikan juga buat kamu. Setiap orang dari mereka itu akan mendapat ganjaran hukum atas dosa yang mereka perbuat. Dan orang yang mengetuai penyiarannya di antara mereka itu akan mendapat siksa yang berat. Mengapa orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, ketika mendengar berita itu tidak berprasangka baik terhadap mereka sendiri, dan mengatakan : ini adalah suatu berita bohong yang nyata sekali?Mengapa dalam hal ini mereka tidak membawa empat orang saksi. Kalau mereka tidak dapat membawa saksi-saksi itu, maka mereka itu di sisi Allah adalah pendusta. Dan sekiranya karena bukan kemurkaan Tuhan dan kasih-sayang Nya juga kepadamu, di dunia dan di akhirat, niscaya siksa Allah yang besar akan menimpamu karena fitnah yang kamu lakukan itu. Tatkala kamu menerima berita itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan sendiri dengan mulut kamu apa yang tidak kamu ketahui dengan pasti, dan kamu mengiranya hanya soal kecil saja, padahal pada Allah itu adalah perkara besar. Dan tatkala kamu mendengar nya, mengapa tidak kamu katakan saja: Tidak sepatutnya kami membicarakan masalah ini. Maha Suci Tuhan. Ini adalah kebohongan besar. Allah memperingatkan kamu, jangan sekali-kali serupa itu akan terulang jika kamu memang orang beriman. Allah menjelaskan keterangan-keterangan itu kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. Mereka yang suka melihat tersebarnya pembuatan keji di kalangan orang-orang beriman, akan mengalami siksaan pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Quran: An-Nur; 11-19)


Karenanya kadang-kadang saya sering mencoba mafhum kenapa orang itu senang sekali menyebarkan hoax kesana kemari [ Meski saya sering berhati-hati, kadang saya juga sering tidak sengaja melakukannya heuheuheu.. ] Karena itu ternyata kebiasaan sejak lama. Sepertinya membumbui, menambah-nambah, mendramitisir dan menyebarkan sebuah informasi itu sudah jadi karakter dasar manusia dari dulu.


Tapi di zaman sekarang kebiasaan menyebar berita bohong terjadi lebih sadis lagi. Mengalahkan peristiwa haditsul ifki masa Nabi. Penyebarannya bukan hanya dari mulut ke mulut, tapi juga lewat broadcast di instant message atau share di media sosial. Lebih dari itu, bahkan juga dilembagakan dan diorganisir secara khusus. Banyak yang membuat website berita, khusus untuk menyebar hoax ke tengah masyarakat. Bahkan media mainstream yang sudah menjadi rujukan banyak orang pun suka sekali menyebarkan hoax. Ada yang lebih kacau lagi. Beberapa kalangan entah bagaimana suka “Menabikan” pemimpin nya hanya karena sering diserang hoax #‪#‎eits‬…


Hanya aneh nya kenapa banyak orang atas nama agama juga suka sekali menyebarkan hoax. Seperti mengatakan si A sesat, si B kafir, si C tidak toleran, si D tidak pluralis, si E tidak inklusif dan lain sebagainya. Padahal menurut agama, menyebar hoax itu dilarang. Apa mereka tidak tahu kalau Nabi dan Istrinya pernah menjadi korban hoax?Begitu jahatnya hoax, bahkan untuk memverifikasi nya pun membutuhkan firman Tuhan


Andai mereka konsisten mengatakan semua itu demi menegakkan ajaran agama Tuhan, mestinya mereka bersedia untuk di dera sampai delapan puluh kali pukulan karena menyebar berita bohong. Karena itulah hukuman yang diberikan Nabi pada para penyebar hoax tentang Aisyah dan Shafwan. Disamping kesaksiannya tidak bisa diterima lagi (Quran: An Nur; 4)
Oleh : Delianur