Kader Kehidupan Dalam Muhammadiyah

Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam terbesar yang masih eksis hingga kini, didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 8 Dzulhijjah 1330 (18 November 1912) di Yogyakarta. Hal ini menunjukkan bahwa gairah generasiKH. Ahmad Dahlan semakin menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi Islam yang patut diperhitungkan. Muhammadiyah telah dikenal sebagai organisasi yang mengembuskan roh perubahan dalam Islam di Indonesia dan melakukan gerakan di berbagai lini kehidupan sosial.
Muhammadiyah tampil sebagai obor dalam kegelapan hingga menembus tirai kebodohan dan bangkit dalam membangun Indonesia cerdas. Muhammadiyah dalam gerakannya melakukan terobosan-terobosan yang membantu umat manusia terbebas dalam jerat kemunafikan dan kebodohan. KH. Ahmad Dahlan bolehlah tersenyum di alam sana melihat perkembangan Muhammadiyah yang begitu pesat, di mana-mana kampus-kampus dan rumah sakit – rumah sakit berdiri megah menunjukkan siar agama yang diemban semakin dekat dengan kesempurnaan. Tapi dibalik itu KH. Ahmad Dahlan juga akan menangis pilu melihat kader-kadernya yang sikut-menyikut memperebutkan sesuatu yang semu dalam persyerikatan dan itu banyak terjadi di amal usaha Muhammadiyah (AUM). Barangkali inilah wujud cinta kepada Muhammadiyah. Yang lebih sadis lagi yang mengaku-ngaku Muhammadiyah padahal membawa ideology lain ke dalam tubuh Muhammadiyah.
Menurut Buya Syafi’i Ma’arif (2010), alasan yang paling logis yang menjadikan Muhammadiyah tetap mampu berkiprah dan menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat Islam dan bangsa Indonesia, adalah kecerdikan memilih visi dan misi gerakannya. Ketika KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah, beliau sudah memikirkan dan menekankan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi yang bertumpu pada kekuasaan dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai tumpuan dan tujuan gerakannya.
Sudah sangat jelas bahwa kader Muhammadiyah seharusnya memiliki bekal berupa kemampuan yang berkualitas, memiliki modal integritas, dan komitmen dalam memperjuangkan misi Persyerikatan. Identitas dan keberadaan pemimpin serta kader merupakan komponen organisasi yang mesti dirawat dan dikembangkan. Upaya ini menjadi tanggung jawab yang besar dan sekaligus berat terutama bagi pemimpin Persyerikatan, yang harus menjadi contoh bagi anggota-anggotanya dan masyarakat pada umumnya.
Oleh karena itu kader Muhammadiyah harus berhati-hati dalam bertindak, menjaga kestabilan dan mengambil peran aktif dalam melakukan gerakan kemandirian umat, pencerahan umat, pencerdasan umat, dan penyejahteraan umat, dengan melihat konteks lokal, nasional, dan internasional. Dalam konteks lokal, kader Muhammadiyah harus dapat membuka diri dan terlibat aktif dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan, peningkatan mutu pendidikan, dan pengawalan moral kekuasaan, serta penciptaan lahirnya pemerintahan yang jujur.
Menurut Azyumardi Azra (2010), dengan kekuatannya dan jaringan organisasinya yang tersebar di seluruh Indonesia, Muhammadiyah bisa memberikan kontribusi besar pada masyarakat melalui dakwah, pendidikan, penyantunan sosial, pengembangan ekonomi, dan amal usaha lainnya untuk penataan masyarakat yang lebih baik. Dengan peran itu, masyarakat tidak terjebak pada permainan Negara dan partai politik yang sering berpura-pura membela dan memberdayakan rakyat.

Penulis : Dr. Siti Suwadah, M.Hum.
Jabatan : Dosen Unismuh Makassar
Sumber : Majalah Khittah
Diketik Ulang : Ilham Kamba, S.ST.