Jangan Paksa Aku Tahlilan Dengan Berita Bohong

sangpencerah.id – Muhammadiyah memang mengiurkan mungkin itu kata yang tepat menggambarkan ulah sekelompok orang atau media yang masih saja gatal dan ga tahu diri memlintir dan menyebar berita hoax tentang Muhammadiyah ke ranah publik

Yang terbaru beredarnya link blogspot dengan judul bombastis ” Tahlil Modern Ala Muhammadiyah – Tahlil Bukan Bid’ah Lagi – Muhammadiyah Mulai Sadar Akan Tahlilan ” berikut linknya muhammadiyah-tahlil
Seperti yang kami ulas di artikel sebelumnya beginilah model orang – orang dengan daya nalar tidak kritis cengan cukup mengcopy paste tulisan orang kemudian judul diganti dan ditambah tambahkan dengan maksud menggiring opini pembaca jadilah sebuah berita bohong yang disodorkan ke ranah publik
Ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam tulisan dan sumber artikel tersebut. Pertama bahwa memang benar yang menulis “Tahlilan Modern Muhammadiyah” adalah Dr. Mujiono Abdillah dalam bentuk makalah yang disampaikan di Seminar Universitas Muhammadiyah Purworejo dan dalam tradisi akademik hal itu adalah lumrah sebuah gagasan pribadi diajukan dalam seminar namun itu hanyalah gagasan atau pendapat individu bukan pendapat lembaga secara resmi ataupun Fatwa Tarjih Muhammadiyah apalagi yang bersangkutan saat ini tidak ada dalam jajaran Majelis Tarjih PWM Jateng periode 2010 – 2015 dan belum kami temukan profil beliau.
Kedua apa yang disampaikan dalam tulisan itu hal yang sangat jauh berbeda dengan praktek upacara tahlilan yang selama ini dipraktekan ketika ada kematian di 3, 7, 30 hari dan seterusnya sehingga memberikan judul bahwa Tahlilan sudah tidak bid’ah lagi hanya rekayasa dan bualan yang punya blog karena tidak memahami esensi tulisan tersebut.Muhammadiyah tetap berpedoman dengan apa yang selama ini diyakini terkait upacara tahlilan salah satunya bisa dirujuk di link ini fatwa-muhammadiyah-tentang-tahlilan.html
Ketiga mengklaim bahwa tulisan itu sebagai produk resmi Persyarikatan Muhammadiyah atau Fatwa Tarjih adalah hal yang sangat fatal dan keliru karena lagi – lagi tidak ada dokumen resmi yang dikeluarkan oleh Majelis Tarjih ataupun Persyarikatan berkaitan dengan itu kemudian diklaim dengan maksud bahwa Muhammadiyah sudah sadar akan tahlilan hanyalah upaya meraih legitimasi dari Muhammadiyah terhadap praktek tahlilan mereka, muncul pertanyaan apah mereka yang Tahlilan itu belum merasa afdhal kalau Muhammadiyah belum mempraktekannya? 
Sungguh konyol cara berpikir kelompok atau media ini hanya untuk meraih legitimasi terhadap praktek amalan Tahlilannya kemudian main klaim dan menyebarkan berita bohong, bahkan informasi yang kami terima ( walau perlu divalidasi juga) ada khotib ketika khotbah menyampaikan ke jamaah bahwa Muhammadiyah sekarang sudah tahlilan. Lucu bukan, sejak kapan tulisan bersumber dari blog yang faktanya tidak bisa dipertanggungjawabkan kemudian menjadi sumber literatur ketika berkhotbah hanya untuk meraih simpati terhadap amalannya.
Terakhir persoalan furuiyah ini memang tidak elok dibahas berlarut – larut apa yang kami tulis hanyalah sebuah reaksi terhadap fenomena yang ada di media online, bagi Muhammadiyah menjadi fokus saat ini adalah tantangan ummat islam dan bangsa ke depan serta peran Muhammadiyah di dunia Internasional. Muhammadiyah tidak mau terlalu larut urusan remeh temeh begini. Muktamar Muhammadiyah kemarin menunjukkan organisasi yang modern dan profesional berjalan teduh dan lancar bukan Muktamar yang gaduh dan saling jegal sampai berujung ke gugatan di Pengadilan.

Bagi warga muhammadiyah jika ingin mengetahui sikap resmi persyarikatan silahkan mengakses sumber – sumber terpercaya tidak terpancing oleh opini dan propaganda yang dilancarka media – media kelompok lain yang hanya mencari sensasi. (redaksi)