Skandal Gerakan IMM di Tengah Eksistensinya

Oleh : Ali Husni Umar (Ciung Wanara)
Mahasiswa IAIN Palopo
Jurusan BKI, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
Kabid Hikmah PC IMM Palopo 2015.
Eksistensi Ikatan Mahasiswa muhammadiyah (IMM) yang merupakan anak bungsu setelah Nasi’atul Aisiyah (NA), Pemuda Muhammadiyah (PM) dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dari organisasi induknya yaitu Muhammadiyah, kini semakin menunjukkan kedewasaannya, baik dalam keberadaan, arah dan gerakannya di lingkup persyarikatan Muhammadiyah secara khusus, Mahasiswa dan Masyarakat serta bangsa Indonesia secara umum. Keberadaan IMM (baca: Sejarah IMM, Kelahiran yang di Persoalkan) sejak awal telah terakumulasi oleh para founding father yang mencita-citakan Generasi penerus dakwah Muhammadiyah dapat terakselerasi pada ranah yang lebih luas seperti di kalangan masyarakat kampus (Mahasiswa) maupun di lingkungan sosial masyarakat secara umum.
Sesuatu yang ada tentunya masih dapat berfungsi (Adagium teori Sosial). Lalu kemudian tidak sedikit di antara mereka (Muhammadiyah, Kader, Ortom, dan warga di luar matahari 12 ini serta Mahasiswa lainnya) melakukan gugatan di tengah eksistensi IMM. terhadap peran dan fungsi apa yang tengah IMM jalankan saat ini..? Jika memang IMM adalah organisasi kader, maka apa yang telah IMM lakukan untuk kader dan membinanya. jika memang IMM adalah anak panah Muhammadiyah, maka apa yang telah IMM persembahkan untuk muhammadiyah dan warga muhammadiyah.?  Jika IMM adalah organisasi Kemahasiswaan, maka apa yang telah ia lakukan kepada para kader dan mahasiswa yang bukan kadernya di lingkungan tempat IMM Eksist..??.
Menanggapi gugatan sejarah di tengah Eksistensi ini, tentunya kita sebagai Pioner sekaligus kader IMM memiliki jawaban tersendiri . Entah jawaban yang kita lontarkan berupa program kerja,  aksi nyata, dan malah geram terhadap gugatan tersebut, atau mungkin mengacuhkan saja  bagaikan wadah tak berguna.!!!Persoalan gugatan tersebut dapat di katatakan tidak terlalu membutuhkan jawaban yang  bersifat retorika belaka, Karna menurut penulis retorika terkadang sifatnya menglabui sang penggugat. Akan tetapi, gugatan tersebut membutuhkan jawaban yang nyata dalam bentuk praksis gerakan.
Zona nyamanpun masih kental dalam lingkungan para pendekar merah, sehingga terkadang mengendorkan semangat  dan motivasi. Ataukan kapasitas yang memang tidak mendukung pula??? Entahlah dimana rimba klimaks persoalan. Namun yang jelas berbagai persoalan-persoalan tersebut selayaknya kita pecahkan bersama-sama.  Sehingga cita-cita IMM “mengusahakan terbentuknya mahasiswa islam yang berahlak mulia dalam rangka mencapai tujuan muhammadiyah” dapat terejawantahkan dalam praksis gerakan, bukan praksis retorika belaka.
Itulah sebabnya secara khusus mengapa IMM kota palopo pada 24 mei 2015 lalu, mengambil tema dalam dalam Musyawarah Cabang (Musycab) “Integralistik Gerakan IMM upaya upaya wujudkan peradaban progresif”. Dalam tema tersebut telah jelas bahwa gerakan IMM upaya wujudkan peradaban progresif tidak akan pernah terwujud sesuai dengan harapan para penggerak IMM tanpa adanya satu-kesatuan dari para penggeraknya, atau dengan kata lain tidak akan dapat terwujud tampa adanya satu kerja sama  antar penggerak. Integral pada tema ini berarti keseluruhan, baik secara gerakannya, maupun para penggeraknya dalam menatap arah dan tujuan IMM.
Saya sebagai penulis ingin mengatakan bahwa, IMM tak hanya menginginkan mata, hati, pendengaran dan fikiran kita. Namun yang IMM inginkan adalah secara utuh dari para kadernya. IMM juga tak menginginkan aku, kamu, ataupun mereka. Namun lebih dari pada itu IMM menginginkan “KITA” semua secara keseluhan yang utuh dalam satu Ikatan yang kita Cintai tampa memandang siapa dan bagaimana serta dari mana asal kalian.
Tulisan ini di tulis bukan untuk menjatuhkan para penggeraknya, namun lebih dari itu sebagai bahan refleksi gerakan agar cit-cita terbentuknya tatanan hidup dan kehidupan “Tayyibatun Warabbun Gafur” memiliki realita dalam praksis gerakan yang telah di cita-citakan para founding father IMM. Untukku, untukmu, untuk mereka dan untuk Kita semua. (Nuun Walqalami Wama Yasturun, Billahi fii Sabilil haq)