Memobilisasi Komitmen dan Konsistensi

Pernah mencermati betapa bergairahnya warga, kader, dan lebih-lebih elit pimpinan Muhammadiyah jelang Muktamar Satu Abad? Termasuk di dalamnya di lingkungan organisasi otonom, majelis, lembaga, amal usaha, dan seluruh lini gerakan Muhammadiyah. Sungguh merupakan panorama yang bergelora, bahkan fantastik. Semuanya memiliki ghirah yang luar biasa dalam pergerakan Muhammadiyah. Di antara yang selama ini tidak aktif pun dalam kepemimpinan, bahkan tiba-tiba aktif dan tampak bergairah. Ada yang sedikit terganggu atau kurang terlayani maksudnya bahkan bisa bersuara nyaring baik di dalam maupun di luar arena, karena demikian merasa “memiliki” Muktamar. Berbagai hasrat pun bercampur baur dalam segala suasana dan aktivitas yang multiragam untuk “berkiprah” dalam gerakan. Permusyawaratan Muktamar, demikian pula musyawarah-musyawarah di tingkat Wilayah, Daerah, Cabang, dan Ranting, memang merupakan magnit tersendiri bagi seluruh komponen gerakan Muhammadiyah.
Pesta Muktamar sudah usai, hasilnya sudah ditanfidz, dan semuanya kembali ke tempat masing-masing. Gedung megah Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tempat berlangsungnya Muktamar Muhammadiyah, juga kampus mentereng Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta tempat Muktamar Asiyiyah dan kompleks perguruan Muhammadiyah Bantul yang bagus tempat Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah di Bantul hanya tinggal kenangan dengan seribu satu kesan yang menyertainya. Yogyakarta sebagai Ibukota Muhammadiyah kembali ke kehidupan normal. Mungkin yang masih tersisa adalah ringtone Theme Song Muktamar yang masih mengalun indah di banyak handphone warga Persyarikatan: Ke Yogya kitakembali/Abad kedua kita mulai.
Jika setiap hari, bulan, dan tahun diisi dengan ghirah Muktamar tentu gerakan Muhammadiyah akan luar biasa. Semua hal mudah atau gampang dimobilisasi untuk kepentingan perjuangan. Dana, pikiran, fasilitas, relasi, sumberdaya, dan apapun yang terdapat di tubuh Persyarikatan semuanya dapat dimobilisasi dengan cepat dan besar untuk menyukseskan gerakan. Warga, kader, dan elit pimpinan yang selama ini kurang aktif pun dapat termobilisasi atau malah memobilisasi diri dengan ringan hati. Gerakan Muhammadiyah dari tingkat pusat atau nasional sampai akar rumput akan bergelora luar biasa. Hasilnya tentu saja berbagai usaha dalam bentuk amal usaha, program, dan kegiatan yang progresif, maju, produktif, dan unggul sehingga Muhammadiyah menjadi gerakan yang benar-benar utama.
Kini setelah bulan berlalu, adakah gelora ber-Muhammadiyah itu tetap tumbuh, mekar, dan berkembang? Harapannya tentulah demikian. Gairah Muktamar terus menjalar sepanjang waktu hingga tiba pada Muktamar berikutnya. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun dijalani dengan kegiatan menyemarakkan, menyiarkan, membesarkan, memajukan, dan menjadikan Muhammadiyah benar-benar unggul dan menjadi rumah sendiri yang dikelola dengan penuh komitmen tinggi. Rapat-rapat dan pertemuan Persyarikatan diikuti dengan optimal, tugas-tugas dan kewajiban dijalankan dengan rutin dan seksama hingga akhir periode. Pendek kata seluruh denyut gerak warga, kader, dan lebih-lebih elit pimpinan Muhammadiyah di seluruh tingakatan apalagi yang memperoleh amanat langsung benar-benar berkomitmen secara konsisten untuk berkhidmat menjalankan amanat, misi, dan usaha Muhammadiyah sehingga gerakan Islam ini makin maju dan unggul di segala lapangan kehidupan.
Tengoklah gerakan-gerakan Islam lain yang mekar pasca reformasi. Beragam organisasi Islam bermunculan penuh militansi. Tampak kecil dan sederhana, bahkan kurang fasilitas, tetapi daya jelajah gerakannya masuk ke berbagai lingkungan, bahkan masuk ke dalam Muhammadiyah dan organisasi-organisasi Islam yang selama ini mapan dan terbilang besar. Gerakan-gerakan Islam ini lincah, progresif, dan ofensif luar biasa. Para kader dan elitnya memiliki daya militansi yang tinggi, sehingga penuh kepercayaan dan pengkhidmatan diri dalam menggerakkan organisasinya. Memang banyak yang orientasi ke-Islamannya cenderung militan dan keras yang berbeda dengan arus utama Islam yang tengahan seperti Muhammadiyah, tetapi daya juang atau semangat jihad gerakannya luar biasa. Dalam serba keterbatasan gerakan-gerakan Islam ini benar-benar ekspansi dan memiliki daya jelajah tinggi dalam menyiarkan misi gerakannya.
Bagaimana dengan warga, kader, dan elit pimpinan di lingkungan Muhammadiyah? Harapan utamanya tentu demikian, berkomitmen tinggi dan konsisten dalam menggerakkan Muhammadiyah sebagaimana spirit dan gelora pada waktu Muktamar. Dalam dirinya terus mengalir gelora Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku, Tiada Hari Tanpa Muhammadiyah. Tiada Muhammadiyah tanpa keterlibatan dirinya. Semuanya tiada lain lil-izzat al-Islam wa al-muslimun, demi kejayaan Islam dan umat Islam. Tiada kiprah dan gerakannya selain untuk menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Tiada komitmen dan pengkhidmatan dirinya kecuali mengaktualisasikan beribadah dan kekhalifahan untuk mewujudkan risalah Islam sebagai rahmatan lil-’alamin di muka bumi melalui Muhammadiyah.
Bukan gelora ber-Muhammadiyah yang sebaliknya. Berkiprah seolah musiman dalam Muhammadiyah. Bergerak minimalis, lebih sekadar menjalankan tugas rutin apa adanya, sedapatnya, bahkan asal terpenuhi ala kadarnya. Bukan pula aktif ketika berkepentingan dengan Muhammadiyah, manakala keperluan dirinya sudah terpenuhi maka ber-Muhammadiyah sekadar formalitas saja. Lain pula sekadar mengurus hal-hal yang memikat diri, yang mudah-mudah, yang ada bersifat materi atau fasilitas belaka, dan hal-hal yang menyenangkan dalam Muhammadiyah. Lebih bergairah kalau mengurus hal-hal yang berkaitan dengan amal usaha, tetapi pasif dan tidak berkiprah dalam menggerakkan Muhammadiyah yang bersifat pengabdian dan pengkhidmatan atau yang banyak terjal dan tantangannya.
Kita percaya pada niat baik, ketulusan, dan semangat setiap warga, kader, dan elit pimpinan Muhammadiyah di seluruh tingkatan dan lini organisasi untuk berkomitmen tinggi dan konsisten dalam berkiprah atau berkhidmat optimal untuk menjalankan amanat dan keputusan Muktamar memajukan serta membesarkan, memajukan, dan menjayakan Muhammadiyah sehingga menjadi gerakan Islam yang unggul dan utama. Namun semuanya memerlukan mobilisasi niat, ketulusan, semangat, dan komitmen itu agar benar-benar terwujud dalam kenyataan, bukan berhenti di atas kertas. Karena itu diperlukan langkah-langkah yang konsisten dan optimal dari seluruh anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah di segenap tingkatan dan lini organisasi, antara lain sebagai berikut:
Pertama, pahami dan jadikan rujukan hasil-hasil keputusan Muktamar sebagai bahan baku dan utama dalam menggerakkan Muhammadiyah lima tahun ke depan. Apakah itu keputusan-keputusan umum, program, pernyataan pikiran, revitalisasi gerakan, maupun hal-hal yang berkaitan dengan isu-isu strategis Muhammadiyah. Jangan sampai ada anggota pimpinan Muhammadiyah yang tidak memahaminya.
Kedua, laksanakan amanat dan keputusan Muktamar tersebut dengan kerja yang sungguh-sungguh, optimal, dan penuh komitmen secara konsisten sehingga jika tidak seluruh keputusan Muktamar dapat diwujudkan setidak-tidaknya sebagian terbesar dapat dilaksanakan dalam satu periode. Jangan sampai keputusan Muktamar sekadar tanfidz formal tetapi tanpa penjabaran dan pelaksanaan secara konsisten.
Ketiga, khusus Majelis dan Lembaga sebagai unsur pembantu pimpinan yang secara nyata akan menjadi pelaksana keputusan Muktamar, seharusnya seluruhnya merujuk langsung pada keputusan dan program yang sejalan dengan fungsi majelis serta lembaganya secara konsisten. Jangan sampai majelis dan lembaga malah menyusun keputusan dan program baru, sehingga menambah beban. Juga tidak perlu melakukan rapat kerja nasional yang menyerupai Muktamar majelis dan lembaga, sehingga mengangkasa lagi dan bukan membumi.
Keempat, satukan semangat, kebersamaan, dan langkah gerakan secara kolektif-kolegial dan tersistem. Muhammadiyah tumbuh, besar, dan berkembang hingga usianya satu abad karena kekuatan kolektivitas dan sistemnya, bukan karena personalnya. Sosok atau figur sebesar apapun boleh datang dan pergi, tetapi Muhammadiyah sebagai sistem gerakan Islam tetap kokoh dan eksis dalam dinamika perjuangan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan global sesuai dengan kepribadiannya.
Kelima, seluruh tingkatan pimpinan Muhammadiyah bersama organisasi otonom, majelis, lembaga, amal usaha, dan unit-unit institusi lainnya dari Pusat hingga Ranting harus semakin bergerak secara sinergi dan simultan sehingga gerakan Islam ini benar-benar tampil sebagai organisasi Islam terbesar.
Keenam, mereka yang berada di amal usaha harus terlibat pula dalam kegiatan Muhammadiyah di Ranting, Cabang, Daerah, dan Wilayah masing-masing sehingga tidak eksklusif sekaligus menjadi kekuatan penggerak Muhammadiyah. Dalam beramal shalih tidak ada hitung-hitungan, setelah berprofesi di amal usaha masih ditambah dengan kegiatan ber-Muhammadiyah, tetapi justru menambah pahala dan kekuatan dalam gerakan. Komitmen ber-Muhammadiyah diuji ketika bergerak dalam kegiatan Persyarikatan yang serba terbatas fasilitas.
Akhirnya, segala hal itu tergantung pada kekuatan niat atau kemauan dan konsistensi untuk menjalankan seluruh amanat dan keputusan Muktamar dari segenap warga, kader, dan pimpinan Muhammadiyah dengan senantiasa berserah diri dan berdoa kepada Allah agar segala ikhtiar gerakan Islam ini benar-benar memperoleh pertolongan dan berkah-Nya. Faidza azamta fatawakkal ‘ala Allah.
*dimuat dalam SUARA MUHAMMADIYAH 20/95/Oktober 2010