Bela Negara Kokam Muhammadiyah, Latihan Lempar Pisau dan Memanah


sangpencerah.id – Yogyakarta – Seratusan pemuda berpakaian loreng dari Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) berkumpul di Sekolah Menengah Kejuruan 3 Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Minggu pagi, 25 Oktober 2015.

Mereka datang menggunakan bus dan puluhan kendaraan pribadi dari Sleman, Kulonprogo, Gunungkidul, Bantul, dan Kota Yogyakarta. Pagi itu, Kokam menggelar apel akbar memperingati pencanangan program bela negara yang diluncurkan pemerintah.

“Apel ini bentuk kesiapan pemuda Muhammadiyah sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang melaksanakan program bela negara,” ujar Iwan Setiawan, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Yogyakarta selaku pemimpin apel.

Sejak Kokam dibentuk pada 1965, lembaga ini diproyeksikan menjadi elemen Muhammadyah yang khusus bergerak menjadi kekuatan untuk melindungi negara dari unsur yang dianggap merongrong. Seperti paham komunisme dan separatisme.

Apel Kokam itu diisi berbagai acara. Selain mendatangkan pembicara Mayor Denny Kartika dari Komando Resor Militer 072/Pamungkas Kota Yogyakarta, acara juga diisi dengan kompetisi memanah dan lempar pisau antarkontingen dari kabupaten.

Darojat, Komandan Kokam se-DIY, menuturkan, aksi memanah dan lempar pisau bukan diadakan khusus menyambut pencanangan program bela negara. “Kegiatan itu sudah rutin, selalu dikompetisikan organisasi, tapi tujuannya bukan untuk persiapan perang.”

Panah dan lempar pisau menurut Darojat sebagai upaya melatih ketrampilan dan psikologis anggota agar siap menghadapi berbagai situasi. “Ini juga upaya menjalankan hadis, agar umat muslim menguasai bidang memanah, berenang, dan berkuda,” ujarnya.

Dalam memanah dan lempar pisau, anggota Kokam diajarkan mengendalikan diri. Peserta yang sedang kalut atau stres dilarang ambil bagian. Seperti pagi itu, saat tiga papan sasaran panah dipasang, hanya anggota dengan emosi stabil yang bisa tepat sasaran.

“Kami juga mencetak atlet profesional dari kegiatan ini, ada tujuan olahraga juga,” ujar Darojat. Misalnya anggota Kokam, Arif Fahari, asal Kabupaten Sleman, merupakan atlet panah peraih emas pada Pekan Olahraga Daerah Yogyakarta 2015.

Dengan antusiasme anggota pada panah dan lempar pisau sebagai bagian materi bela negara, rencananya Kokam ingin melebarkan sayap dengan memasukkan materi kegiatan tersebut menjadi kegiatan intra sekolah di jejaring yayasan Muhammadiyah.

“Baru satu sekolah dari jaringan Muhammadiyah yang sudah memasukkan kegiatan lempar pisau dan memanah menjadi mata pelajaran ekstrakurikuler di sekolahnya,” ujar Darojat.

Darojat mengakui, jika konsep bela negara tidak diterapkan dalam bentuk wajib militer, maka akan lebih mudah diterima oleh masyarakat. Ia sangsi jika bela negara diaplikasikan dalam bentuk wajib militer, banyak penolakan warga karena dampaknya yang luas.

“Tak perlu sampai wajib militer, tapi sukarela dan melalui kerjasama TNI-elemen masyarakat,” ujar Darojat yang tidak merinci apa dampak bela negara jika diaplikasi dalam bentuk wajib militer.

Mayor Denny menjelaskan, kegiatan yang digagas Kokam ini sudah masuk upaya menjadi hak dan kewajiban bela negara sesuai UUD 1945 dan undang-undang tentang Hak Asasi Manusia. “Bela negara memiliki payung hukum, diterapkan sebagai hak juga kewajiban.”