5 Point Khasais al-Muhammadiyah (Karakteristik Muhammadiyah)

Menjadi
Muhammadiyah adalah menjadi berbeda. Berbeda motivasi, visi, aksi, juga prestasi.
Bukan berbeda untuk sekedar mencari sensasi. Bukan pula berbeda untuk unjuk
diri. Apalagi berbeda untuk saling mencaci maki. Bukan itu keinginan KH. Ahmad
Dahlan mendirikan Persyarikatan ini. Muhammadiyah dengan kekhasannya
menampakkan wajah ketulusan membangun peradaban yang lebih baik, dari hari ke
hari. Sebagaimana pernah diungkapkan oleh Prof. Dien Syamsuddin dalam pengajian
puncak acara Lustrum ke-13 SMA Muha Yogyakarta, “To be good is not good enaugh.
Why not the best. Fastabiqul khairat.”
Lalu apa yang
membedakan Muhammadiyah dengan organisasi lainnya? Dalam pengajian refleksi
Milad Muhammadiyah ke-106 di Gedung PWM DIY, beberapa waktu lalu, Prof. Dr.
Yunahar Ilyas memaparkan beberapa karakteristik Muhammadiyah, sebagai berikut:
Pertama, berpegang teguh
pada al-Quran dan al-Sunnah. Berbeda dengan ormas lainnya, spirit al-ruju ila
al-quran wa al-sunnah ini mensyaratkan bahwa Muhammadiyah kembali kepada
Al-Quran tidak secara literal (sebagaimana penjelasan di poin selanjutnya).
Persyaratan
ini memberikan konsekuensi bahwa Muhammadiyah bersikap tidak terikat dengan
mazhab, aliran, theologi, dan sekte manapun. Ketidakterikatan ini meliputi
aspek aqidah (theologi), fikih, dan tasawwuf (thariqah), baik wilayah eksoterik
maupun esoterik. Ketidakterikatan ini tidak bermakna bahwa Muhammadiyah menolak
kehadiran mazhab, aliran, theologi, tasawwuf, atau sekte tertentu, namun
kesemua ini hanyanya wujud dari sikap independensi. Artinya dalam setiap
kebijakan, fatawa, pandangan ideologi, sikap hidup, dan keputusan di
Muhammadiyah tetap mengindahkan dan mempertimbangkan berbagai macam ajaran dari
berbagai sumber mazhab, sekte, dll. Lalu, hasil pembacaan berkelanjutan,
analisis mendalam dengan multi pendekatan, dan ijtihad penuh ikhtiyat itulah yang
kemudian ditarik atau dipilih mana yang paling rajih (kuat) dan compatible
diterapkan dalam kehidupan beragama dan berbangsa.
Dalam hal
aqidah, Muhammadiyah berpegang pada kaidah ahlu al-sunnah wa al-jamaah, lebih
tepatnya berusahan menempatkan diri pada apa yang disebut Nabi sebagai
al-firqah al-najiyah min al-salaf. Kalimat ini misalnya populer dalam hadis
tentang berpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan.
Di ranah
fiqih, Muhammadiyah cenderung sangat independen. Di sini, prinsip independensi
Muhammadiyah termasuk sebagai sebuah kelebihan. Dengan alasan lebih luwes,
rigid, penuh dinamisasi, dan tidak kaku. Dikarenakan sumber pengetahuan yang
sangat tidak terbatas. Makanya bukan tidak mungkin ada fatwa tarjih
Muhammadiyah di tahun ini akan berbeda dengan fatwa Muhamamdiyah pada sepuluh
atau dua puluh tahun kedepan. Sesuai dengan kaidah ushul bahwa berubahnya zaman
akan merubah suatu produk hukum. Prinsip fikih Muhammadiyah bukan terletak pada
fikih mazhabi, namun fikih manhaji. Artinya Muhammadiya lebih mempertimbangkan
aspek-aspek yang rajih pada setiap mazhab, yang kemudian dielaborasi sedemikian
rupa.
Bisa jadi,
bahwa produk dari majlis tarjih ini termasuk sebagai mazhab baru. Karena sebuah
mazhab haruslah memenuhi beberapa persyaratan; pertama, memiliki metode
berpikir (metode intinbat hukum) yang khas. Kedua, memiliki produk hukum
yang khas. Ketiga, dibukukan dalam bentuk buku atau kitab. Keempat,
ada pengikut yang mempraktekkan. Namun para pengurus Muhammadiyah enggan
menyebutnya sebagai sebuah mazhab baru. Muhammadiyah tetap sangat menhormati
imam mazhab, namun tidak berfanatik dan taklid begitu saja, karena para imam
mazhab pun masih terdapat kemungkinan kekeliruan. Muhammadiyah menghindari
taklid dengan mengikuti praktis yang dibuat oleh Majelis Tarjih, dengan cara tau
argumentasinya, tahu cara pengambilan dalilnya (istidlal dan istinbat), tahu
pendapat lain yang berbeda, dan tahu proses sampai kepada kesimpulan yang
rajih.
Keberanian
Muhammadiyah melakukan ijtihad bukan berarti bahwa Muhammadiyah berani menyebut
ada tokoh mujtahid mutlak di organisasi ini. Muhammadiyah berargumen bahwa
memang di masa modern ini sudah tidak ada mujtahid mutlak layaknya imam mazhab,
namun di Muhammadiyah keberadaan seorang mujtahid diperankan oleh gabungan
banyak orang atau dalam satu majelis (majelis tarjih). Gabungan beberapa orang
yang berkompeten dan ahli dalam bidang masing-masing itu pada akhirnya memenuhi
syarat seorang mujtahid. Ada si A ahli bahasa Arab, si B ahli ilmu-ilmu sosial,
si C ahli ilmu kedokteran, si D pakar maqasid syariah, si E sangat mumpuni
dalam ranah fikih, si D sebagai ahli quran dan hadis, si E ahli sejarah, dst.
Keberadaan para pakar ini dalam satu majelis yang saling bertukarpikiran dan
bekerjasama dalam menyelesaikan suatu perkara, menjadikan majelis itu dipenuhi
oleh orang-orang yang mumpuni dan bisa dikatakan sebagai mujtahid-kolaboratif,
meskipun tidak mutlak.
Dalam bidang
tasawwuf atau thariqah, Muhammadiyah tidak anti thariqah. Namun tetap mengikuti
prinsip-prinsip dasar dan atau pandangan hidup para sufi selama sesuai dengan
apa yang diajarkan oleh para guru semua sufi, yaitu Nabi saw.
Kedua, Muhammadiyah
sebagai gerakan tajdid, dengan dua sayap yang berjalan beriringan. Di satu sisi
ada sayap purifikasi (dalam ranah aqidah) dan di sisi lain terdapat sayap
dinamisasi (dalam ranah muamalah dan budaya). Kedua sayap ini mengepak secara
seimbang. Ketika berat di sayap purifikasi maka cenderung konservatif,
sementara jika terlalu berpihak di sayap dinamisasi akan berdampak pada
progresif yang berlebih alias liberal.
Contohnya,
dalam hal ibadah qurban. Muhammadiyah berpandangan bahwa qurban sebagai asas
adalah ibadah mahdhah, tidak bisa dilakukan dinamisasi dengan misalkan
mengganti waktu dan jenis hewan yang harus disembelih. Dalam hal ini,
Muhammadiyah melakukan purifikasi, kembali ke syariat murni. Adapun dalam hal
budaya qurban, Muhammadiyah melakukan dinamisasi, semisal pengadaan kupon
qurban, kepanitiaan yang profesional, tata cara penyaluran dan penerima daging
qurban, kemasan qurban, dst.
Demikian
halnya dalam budaya berpakaian, Muhammadiyah melakukan berbagai dinamisasi.
Semisal terhadap hadis bahwa nabi memakai jubah, maka Muhamamdiyah memandang
bahwa pakaian bukanlah masuk dalam ranah ibadah mahdhah, namun hanya sebatas
budaya. Karena pada prinsipnya, pakaian yang baik dan pantas itu harusnya
memenuhi dua syarat saja, jika dua syarat itu terpenuhi, maka siapapun boleh
memakai pakaian apapun. Dua syarat sebagai rambu-rambu tersebut yaitu menutup
aurat dan tidak sombong (berlebihan). Dalam kaitannya dengan jubah bisa dilacak
tidak ada dalilnya yang menyuruh dan atau melarangnya. Andaipun ada dengan
dipaksakan, maka kevalidan keharusan berjubah bisa dibuktikan dengan dua
pertanyaan sederhana, “Sejak kapan nabi memakai jubah? Dan siapa saja yang
memakai jubah di Makkah ketika itu?” jawaban pertama bahwa Nabi memakai jubah
sejak kecil, sejak sebelum diutus menjadi nabi, sejak belum turun wahyu, maka
jubah bukanlah perkara ibadah. Jawaban kedua bahwa yang memakai jubah bukan
hanya nabi, bukan hanya muslim, bahkan kebanyakan justru non muslim di Arab,
semisal abu Jahal, abu Lahab, dll. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa jubah
merupakan bagian dari perkara al-urf (tradisi) masyarakat Arab.
Ketiga, Muhammadiyah
berprinsip wasathiyah (moderat). Sikap moderat ini memiliki plus karena
Muhammadiyah tidak cenderung ke salah satu, tidak berpihak pada sikap ekstrem,
juga jauh dari kesan berlebihan. Baik lebih atau cenderung terlalu kanan maupun
terlalu kiri.
Keempat, Muhammadiyah
berprinsip modernis. Dalam hal ini bisa diartikan sebagai sikap yang
berkemajuan. Terminologi modernis sering membingungkan dan mis persepsi antara
modernis dalam tradisi barat dan Indonesia. Dalam tradisi barat, modernis
adalah dominasi akal, dan hampir meninggalkan wahyu. Sementara modernis yang
dimaksud Muhamamdiyah adalah berimbang atau setidaknya sesuai kapasistasnya,
antara akal dan wahyu.
Kelima, Muhamamdiyah
sebagai gerakan yang gemar beramal. Hal ini terbukti di lapangan. Terlalu
sering Muhammadiyah bekerja dalam diam, dalam keikhlasan, ketulusan, dan
semangat mencari ridha ilahi. Bayangkan berapa ribu amal usaha Muhammadiyah
yang dibangun dari hasil swadaya dan bantuan warga Muhammadiyah. andaikan di
suatu daerah ada kumpulan warga mauhammadiyah, maka hampir dapat dipastikan
bahwa disana terdapat atau dibangun sebuah amal usaha dari sumbangan warga
Muhammadiyah. Dalam bahasa lain, Muhammadiyah adalah gerakan ilmu-amaliyah dan
juga amal-ilmiyah. Dimensi gerak inilah yang menjadikan Muhammadiyah terus bisa
eksis hingga usianya melebihi 106 tahun.

(Catatan ini
merupakan ringkasan notulensi Muhammad Ridha Basri, intisari dari studium
general Prof. Dr. Yunahar Ilyas, M.A. pada milad Muhammadiyah ke-106 di Gedung PWM
DIY, 8 Zulhijjah 1436 H/19 September 2015)