Waspada ! Ajakan Lembut Gerilyawan Kaum Sesama Jenis

Berita heboh datang dari Bali. Pernikahan antara Joe Tully dan Tiko Mulya. Mereka menikah di New York, Amerika Serikat kemudian mengadakan resepsi di Bali. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Kapolda Bali Irjen Sugeng Prijanto.
Kaum homo sudah berani untuk terang-terangan dengan sikapnya. Mengingat jumlah mereka terus bertambah mencapai 760 ribuan orang. Angka diperoleh oleh Dede Oetomo dari Kementrian Kesehatan tahun 2006. Sangat mungkin jika tahun 2015 ini angka itu sudah lewat. Jika ditambah dengan kaum Waria dan Lesbian maka akan mencapai 3% penduduk Indonesia.
Ledakan jumlah kaum penyuka sejenis ini dipicu oleh 20 negara yang mengakui pernikahan ini. antara lain Jerman, Norwegia, Perancis dan Amerika Serikat. Negara adidaya tersebut dalam pengesahan oleh Mahkamah Agung tanggal 26 Juni 2015. 
Sambutan luar biasa mulai dari kalangan artis seperti Milley Cyrus sampai pengusaha seperti pemilik Facebook. Bahkan di facebook sendiri bentuk hingar bingarnya dengan muncul pelangi sebagai background foto profil.
Sebagai seorang muslim, angka ini cukup miris. Kemungkaran dahsyat yang pernah terjadi di jaman kaum Nabi Luth menjadi biasa di era modern ini. Yang menjadi pertanyaan, apakah akan ada adzab seperti yang ditimpakan kaum nabi Luth di jaman modern ini?
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: ’Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?’ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf:80-81).
Ibnu Katsir berkata, “Allah swt mengutus Nabi Luth AS kepada penduduk kampung Sodom dan sekitarnya, guna menyeru kepada mereka untuk beribadah kepada Allah swt, berbuat amar ma’ruf nahi munkar, serta hal-hal yang haram dan keji, yang dosa tersebut tidak pernah dilakukan oleh seorang pun dari anak cucu Adam sebelumnya, yaitu mendatangi leleki (untuk melampiaskan nafsu birahi), bukan kepada wanita.
Kemudian dalam ayat ke 84 dari surah yang sama Allah menjelaskan bentuk hukumannya,”Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS. Al A’raf: 84).
Hukuman hujan batu dan bumi dibalik adalah sebuah contoh. Hal itu yang dialami oleh kaum Nabi Luth. Sedangkan bagi ummat sekarang bisa saja dalam bentuk yang lain. Contohnya apa yang terjadi di Jerman. Ketika ada road show kaum homo di jalanan dengan praktek homonya, tiba-tiba mereka disambar petir. Korban meninggal sampai ratusan orang. Dan kejadian ini sengaja ditutup karena mencoreng muka negara Hitler tersebut.
Mereka saat ini masih sembunyi-sembunyi. Jika kemungkaran ini  dipamerkan dimuka umum dengan bangga, tanpa ada pihak-pihak yang melarang dan mencegahnya. Maka adzab Allah akan turun dengan jelas. Sebagaimana dalam hadits yang mengutarakan tentang disegerakannya hukuman bagi maksiat yang disiarkan dengan penuh kebanggaan.
Kemudian bagaimana jika ada orang disekitar kita yang seperti ini?
Tentu bukan tindakan hukuman yang diberikan. Seperti dibunuh dengan dilemparkan dari tempat ketinggian. Apalagi ini negara Indonesia. Bisa-bisa ini membuat simpati banyak orang dan membuat mereka semakin meledak jumlah penduduknya.
Ajakan dengan lembut tetap dikedepankan. Kejadian perlakuan diskriminasi kepada mereka membuat militansi mereka semakin besar. Bahkan mereka tak segan-segan bersikap seperti gerilyawan. Ketika masyarakat ramai-ramai mengangkat isu LGBT mereka akan tiarap. Tapi jika isu sudah surut maka mereka akan kembali bergerilya mencari mangsa. 
Jika dia teman kita maka tetap menjadi temannya dan terima dia sebagai manusia. Bukan juga kita jadi membenarkan apa yang mereka perbuat. Hal ini dilakukan semata-mata untuk hubungan silaturahmi agar tetap terjalin. Sehingga nasehat mudah tersampaikan. Urusan hidayah biar urusan Allah.
Sebuah pertemanan dengan mereka akan mewarnai sisi pergaulan mereka. Sehingga fanatisme mereka tidak semakin parah. Akibat mereka hanya bergaul dengan sesamanya saja. tetap merahasiakan keadaan mereka jika kemungkinan besar kelurganya akan menolak dia.
Semoga Indonesia tetap istiqomah dengan nahi mungkar kepada maksiat ini.