Penjelasan Resmi Majelis Tarjih Muhammadiyah Tentang Puasa Arafah dan Idul Adha 1436 H


PENJELASAN
MAJELIS
TARJIH DAN TAJDID PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
TENTANG
PUASA
ARAFAH DAN IDUL ADHA 1436 H / 2015 M
بسم الله الرحمن الرحيم
Maklumat
Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 01/MLM/I.0/E/2015 tanggal 9 Rajab 1436 H / 28
April 2015 M, menetapkan bahwa:
§                        Tanggal 1 Zulhijah 1436 H
jatuh pada hari Senin Legi 14 September 2015 M
§                        Tanggal 9 Zulhijah 1436 H
jatuh pada hari Selasa Wage 22 September 2015 M
§                       Tanggal 10 Zulhijah (Idul
Adha) 1436 H jatuh pada hari Rabu Kliwon 23 September 2015 M.
Maklumat ini didasarkan
kepada hasil hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang
disampaikan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam surat No. 027/I.1/B/2015 tanggal 21
Jumadilakhir 1436 H
/ 11 April 2015 M.
Ketetapan
Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut sama dengan tanggal dalam kalender resmi
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi (Kalender Ummul Qura) yang didasarkan pada
hisab.
Di lain pihak
berkembang informasi bahwa di Arab Saudi tanggal 1 Zulhijah 1436 H jatuh pada
hari Selasa 15 September 2015 M, hari Arafah (9 Zulhijah 1436 H) jatuh pada
hari Rabu 23 September 2015 M dan Idul Adha (10 Zulhijah 1436 H) jatuh pada hari
Kamis 24 September 2015 M. 
Terkait dengan
Maklumat dan perkembangan informasi tersebut timbul banyak pertanyaan di
masyarakat (khususnya warga Persyarikatan) tentang kapan pelaksanaan puasa
Arafah bagi Kaum Muslimin Indonesia? Apakah pada hari Selasa 22 September 2015
M sesuai dengan kalender Muhammadiyah dan kalender Ummul Qura atau pada hari
Rabu 23 September 2015 M sesuai dengan informasi yang diperoleh dari Arab Saudi
yang menetapkan berdasarkan rukyat?
Sehubungan dengan
hal ini, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan
penjelasan sebagai berikut:
A.  
Pandangan Muhammadiyah tentang Hisab dan Rukyat
1.   
Muhammadiyah dalam penetapan awal bulan Kamariah
—termasuk awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijah— berdasarkan hisab hakiki
dengan kriteria wujudul hilal dan hisab itu sama kedudukannya dengan rukyat
sebagai pedoman penetapan awal bulan Kamariah sebagaimana ditegaskan dalam
Putusan Munas Tarjih Muhammadiyah di Padang tahun 2003. Alasan Muhammadiyah
menggunakan hisab, sebagaimana disebutkan dalam Putusan Tarjih adalah:
a.     
Firman
Allah,
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ
نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ
اللهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ اْلآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ [سورة يونس
(10): 5] .
Artinya: Dia-lah yang menjadikan
Matahari bersinar dan Bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah
(tempat-tempat) bagi perjalanan Bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan
tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu
melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada
orang-orang yang mengetahui
[Q.S. Yunus (10): 5].
b.     
Firman
Allah,
الشَّمْسُ
وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ [الرحمن (55) :5] .
Artinya: Matahari  dan  Bulan  (beredar)
 menurut  perhitungan
 [Q.S.  ar-Rahmān
(55): 5].
c.     
Firman
Allah,
لاَ الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ
الْقَمَرَ وَلاَ اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ [يس
(36): 40] .
Artinya: Tidaklah mungkin bagi Matahari mendapatkan Bulan dan
malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis
edarnya
[Q. Yāsīn (36): 40].
2.   
Terdapat
dua nilai dasar Islam (al-qiyam al-asāsiyyah al-Islāmiyyah) yang
mendukung penggunaan hisab ini, yaitu pertama, kepercayaan dan
penghargaan kepada ilmu pengetahuan seperti ditetapkan dalam firman Allah dalam
al-Quran,
… يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ
وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [المجادلة
(58): 11].
Artinya:niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan
[Q.S.
al-Mujadilah (58): 11].
Berdasarkan ayat ini, Islam memberikan penghargaan tinggi
kepada ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan khususnya ilmu
pengetahuan alam dan astronomi, manusia dapat mengetahui rahasia kebesaran
Allah, dan demi kemanfaatan manusia sendiri, yaitu dapat mengetahui bilangan
tahun dan perhitungan termasuk perhitungan waktu semisal bulan, minggu, hari,
jam dan bahkan menit dan detik, dan dengan itu manusia dapat membuat
perhitungan mengenai rencana kehidupannya ke depan.
Nilai dasar Islam kedua
adalah penekanan pentingnya memperhatikan hari depan seperti ditegaskan dalam
firman Allah,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا
اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ
بِمَا تَعْمَلُونَ [الحشر (59): 18].
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan
[Q.S. al-Hasyr (59): 18].
Hisab memungkinkan kita untuk membuat perhitungan waktu
dan tanggal secara tepat jauh ke depan sehingga dengan demikian kita dapat
membuat berbagai rencana mengenai kehidupan kita dalam rangka mempersiapkan
hari depan kita. Sebaliknya dengan rukyat kita tidak dapat menetapkan dan
membuat penanggalan secara pasti ke depan karena sangat tergantung kepada hasil
rukyat pada saat itu.
3.   
Hadis-hadis yang memerintahkan berpuasa dan berhari raya
dengan melakukan rukyat sebagai tanda masuknya awal bulan Ramadan dan awal
bulan Syawal tidak mewajibkan melakukan rukyat untuk memulai puasa dan
Idul Fitri bila peradaban manusia telah mencapai kemajuan di bidang pengetahuan
melalui mana dapat ditentukan secara lebih pasti dan lebih akurat masuk dan
berakhirnya bulan kamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. ‘Illat mengapa
Rasulullah saw menyuruh berpuasa dengan melihat hilal (bila tidak terlihat
dilakukan istikmal) adalah karena rukyat itulah sarana penentuan awal bulan
qamariah yang mudah pada saat itu sebab masyarakat Muslim awal itu adalah
masyarakat yang ummi, yakni belum mengenal baca-tulis secara luas dan belum
mengenal perhitungan astronomi. ‘Illat ini ditegaskan dalam sabda beliau,
عَنِ ابْن عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ
لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً
وَعِشْرِينَ وَمَرَّةً ثَلاَثِينَ [رواه البخاري، واللفظ له، ومسلم، والترمذي، والنسائي،
وأبو داود، وابن ماجه وأحمد].
Artinya: Dari Ibn ‘Umar r.a., dari Nabi saw (diriwayatkan) bahwa
beliau bersabda: Kami adalah umat yang ummi, yaitu tidak dapat menulis dan
tidak mengenal hisab. Bulan itu adalah begini-begini, maksud beliau
kadang-kadang dua puluh sembilan hari, kadang-kadang tiga puluh hari
[HR al-Bukhāri, Muslim,
at-Tirmizi, an-Nasa’i, Abu Dawud, Ibn Majah, dan Ahmad; lafal di atas adalah
lafal al-Bukhari].
Diutusnya Rasulullah saw justru untuk
membebaskan mereka dari keadaan ummi semacam itu sesuai dengan firman Allah,
هُوَ
الَّذِي بَعَثَ فِي اْلأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ
وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ
لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ [الجمعة (62): 2].
Artinya: Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang
Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan
mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan
sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata
[Q.S. al-Jumu‘ah (62): 2].
4.   
Ketika menafsirkan ayat-ayat puasa dalam Surat al-Baqarah
(2: 183-185), Rasyid Rida dalam Tafsir al-Manār
menegaskan,
Penetapan awal bulan Ramadan dan awal bulan Syawal sama
seperti penetapan waktu-waktu salat lima waktu, yaitu Allah mengaitkannya
dengan sarana yang mudah digunakan untuk mengetahuinya bagi masyarakat waktu
itu. Tujuan Pembuat Syariah dalam hal ini adalah agar manusia mengetahui
waktu-waktu tersebut, bukan untuk menjadikan rukyat hilal dan tampak jelasnya
benang putih dari benang hitam yang merupakan fajar itu sebagai ibadah itu
sendiri. Begitu pula Pembuat Syariah tidak menjadikan sebagai ibadah melihat
zawal pada waktu zuhur, melihat telah samanya panjang bayang-bayang benda
dengan dirinya pada waktu asar, melihat terbenamnya matahari dan hilangnya
syafaq pada waktu magrib dan isya. Tujuan Pembuat Syariah hanyalah untuk mudah
mengetahui masuknya waktu-waktu tersebut
.
Rasyid Rida lebih lanjut menegaskan bahwa ‘illat
pengaitan penetapan awal bulan dengan melihat hilal atau istikmal adalah karena
keadaan umat pada waktu itu masih ummi. Ia juga menegaskan bahwa ilmu hisab
(astronomi) yang dikenal di zaman sekarang menghasilkan kepastian yang qat‘i,
oleh karena itu penguasa serta pemimpin umat Islam dapat memutuskan untuk
mengamalkan dan menggunakannya. Rasyid Rida juga mengemukan pernyataan dengan
nada pengingkaran terhadap praktik rukyat sekarang dengan mengatakan: Pilihan
kita hanya ada dua: Kita menggunakan rukyat untuk menentukan waktu-waktu ibadat
dan memandangnya sebagai ta‘abbudiah sehingga muazin wajib melihat cahaya fajar
sadiq, tergelincirnya dan terbenamnya matahari untuk memulai azan salat, atau
sebaliknya kita mengamalkan hisab yang sudah pasti (qat‘i) karena lebih
dekat kepada tujuan Pembuat Syariah, yaitu sebagai sarana untuk mengetahui
waktu. Adapun dalam hal puasa kita mengamalkan rukyat dan ibadah-ibadah lainnya
kita meninggalkan zahir nas dan menggunakan hisab, maka ini tidak ada alasan (wajh)
dan dalilnya dan tidak seorang imam mujtahid pun yang berpandangan seperti itu.
[Al-Manār, 2005, II: 151-153]. 
5.    Perbedaan yang terjadi baik
dalam menentukan Ramadan, Syawal maupun Zulhijah disebabkan penggunaan hisab di
satu sisi dan penggunaan rukyat di sisi lain. Dalam pandangan Muhammadiyah
penggunaan rukyat menimbulkan beberapa masalah:
a.     
Rukyat
tidak dapat meramalkan tanggal jauh ke depan karena dengan rukyat tanggal baru
bisa diketahui pada H-1, sementara kalender menghendaki penjadwalan tanggal
sekurangnya satu tahun ke depan, agar jauh hari kita dapat  membuat rencana jauh ke depan pada jadwal
waktu yang pasti.
b.     
Rukyat
terbatas cakupannya di muka bumi, pada hari pertama visibilitas di mana rukyat
tidak mencakup seluruh muka bumi sehingga akan membelahnya di mana ada bagian
yang sudah dapat melihat sementara bagian lain belum dapat melihat, yang
akhirnya menimbulkan perbedaan jatuhnya tanggal.
c.     
Rukyat
tidak dapat memberikan kepastian karena sangat ditentukan oleh sejumlah faktor
seperti faktor geometris, faktor atmosferik, faktor fisiologis dan bahkan
faktor psikologis.
d.     
Pengunaan
rukyat dapat mengakibatkan orang yang berpergian lintas negara pada bulan
Ramadan dan mengakhiri Ramadan di negara tujuan hanya berpuasa 28 hari.
Misalnya Ramadan 1503 H (2080). Tanggal 1 Ramadan 1503 H di Selandia Baru,
sesuai prinsip rukyat, jatuh pada hari Kamis 20 Juni 2080 M setelah
menggenapkan Syakban 30 hari, dan Idulfitri 1 Syawal 1503 H di negeri tersebut
jatuh pada hari Jumat 19 Juli 2080 M dengan usia Ramadan 29 hari. Di Arab Saudi
sesuai rukyat tanggal 1 Ramadan 1503 H akan jatuh hari Rabu 19 Juni 2080 M dan
1 Syawal 1503 H jatuh hari Kamis 18 Juli 2080 M dengan usia Ramadan 29 hari.
Apabila seorang Muslim di Willington, ibukota Selandia Baru, yang mulai puasa
Ramadan 1503 H pada hari Kamis 20 Juni 2080 M pergi umrah ke Mekah pada bulan
Ramadan itu dan berlebaran di Mekah pada hari Kamis 20 Juli 2080 M, maka puasa
Ramadannya hanya 28 hari. Ini adalah contoh problem penggunaan rukyat. Dalam
buku-buku fatwa banyak pertanyaan yang diajukan oleh para penanya yang secara
riil mengalami problem puasa hanya 28 hari ini lantaran berpergian di bulan
Ramadan.[1]
Bahkan di zaman Ali Ibn Abi Talib hal ini juga pernah dialami karena rukyat
terlambat sebab tertutup awan, dan pada hari ke-28 Ramadan ternyata hilal
Syawal sudah terlihat.[2]
e.     
Rukyat
(fisik/fikliah) tidak dapat ditransfer ke arah timur lebih dari sembilan atau
sepuluh jam karena kawasan dunia di sebelah timur sudah memasuki pagi hari.
f.      
Rukyat
dapat menimbulkan problem berbedanya jatuh hari Arafah antara Mekah tempat
dilaksanakannya wukuf di Padang Arafah dengan tempat lain yang jauh seperti
Indonesia sehingga timbul masalah waktu pelaksanaan puasa Arafah.
B.   Pandangan tentang
Pelaksanaan Puasa Arafah
Bagi
orang yang tidak sedang melaksanakan haji, maka disunatkan untuk melaksanakan
puasa Arafah. Hal ini sesuai dengan beberapa hadis Nabi saw, antara lain
sebagai berikut,
عن أبي
قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ … … … عن صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فقال يُكَفِّرُ
السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ … [رواه
مسلم وأحمد]
Artinya: Dari Abu Qatadah [diriwayatkan] bahwa
Rasulullah saw ditanya … … … tentang puasa hari Arafah, lalu beliau
menjawab: [Puasa hari Arafah itu] menghapus dosa-dosa satu tahun lalu dan satu
tahun tersisa [HR Muslim dan Ahmad].
Bahkan
bukan hanya hari Arafah yang disunatkan untuk dipuasai, tetapi juga hari-hari
sejak tanggal 1 hingga tanggal 9 Zulhijah. Hal ini ditegaskan dalam hadis
Hunaidah,
عَنْ هُنَيْدَةَ
بْنِ خَالِدٍ عَنِ امْرَأَتِهِ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ
كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ [رواه أبو داود وأحمد
والبيهقي. صححه الألباني وضعفه الأرنؤوط]
Artinya: Dari Hunaidah Ibn Khalid, dari
istrinya, dari salah seorang istri Nabi saw [diriwayatkan bahwa] ia berkata:
Adalah Rasulullah saw melakukan puasa pada sembilan hari bulan Zulhijah, hari
Asyura, tiga hari setiap bulan, dan hari Senin dan Kamis pertama setiap bulan
[HR Abu Dawud, Ahmad, dan al-Baihaqi; disahihkan oleh al-Albani dan didaifkan
oleh al-Arna’ut].
Pada dasarnya Puasa Arafah,
wukuf di Arafah dan tanggal 9 Zulhijah adalah satu kesatuan (terjadinya pada
hari yang sama). Namun karena adanya perbedaan sistem penyusunan kalender
hijriyah, maka terjadi pula perbedaan penentuan Hari Arafah tersebut. Perbedaan
tersebut hanya dapat diselesaikan dengan Kalender Hijriyah Global yang
syarat-syaratnya antara lain:
        
1.      
Meniscayakan
penggunaan hisab dan mustahil menggunakan rukyat. Oleh karenanya, tidak mungkin
menyusun Kalender Hijriyah Global dengan semata-mata mengikuti rukyat di Arab
Saudi atau di tempat lainnya karena kelemahan-kelemahan dari metode rukyat itu
sendiri yang telah disebutkan pada butir A.5.a di atas.
        
2.      
Tidak
membuat sekelompok muslim di suatu kawasan di dunia menunda masuknya bulan baru
padahal hilal sudah mungkin terlihat karena sudah tinggi di atas ufuk.
Contohnya, untuk bulan Zulhijah 1436 ini, pada magrib tanggal 13 September 2015
di kawasan Pago-pago (koordinat 140 16′ 41″ LS, 1700
42′ 7″ BB), ketinggian hilal adalah antara 7.50 – 8.50.
Sehingga 1 Zulhijah jatuh pada tanggal 14 September 2015. Jika muslim yang
berada di kawasan ini mengikuti rukyat di Saudi Arabia yang memasuki bulan Zulhijah
pada tanggal 15 September 2015, itu artinya mereka masuk ke bulan baru pada tanggal
2 Zulhijah.
C.  
Dalam
kondisi ketiadaan Kalender Hijriyah Global, perbedaan penentuan awal bulan
hijriyah akan selalu terjadi. Dalam situasi gaibnya Kalender Hijriyah Global
tersebut, Muhammadiyah tetap konsisten dengan penggunaan metode hisab hakiki
dengan kriteria wujudul hilal untuk menentuan awal bulan kamariyah. Menurut
hasil hisab Muhammadiyah, Puasa Arafah dilakukan pada tanggal 9 Zulhijah 1436 H
hari Selasa Wage bertepatan dengan tanggal 22 September 2015 M dan Hari Raya
Idul Adha pada tanggal 10 Zulhijah 1436 H hari Rabu Kliwon bertepatan dengan
tanggal 23 September 2015 M.
D.  
Muhammadiyah
tengah berupaya untuk merealisasikan terwujudnya Kalender Hijriyah Global.
Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang diselenggarakan pada bulan Agustus tahun 2015
yang lalu turut merekomendasikan tentang perlunya kehadiran Kalender Hijriyah
Global.
   
Yogyakarta, 3
Zulhijah 1436 H / 16 September 2015 M
MAJELIS TARJIH
DAN TAJDID
PIMPINAN PUSAT
MUHAMMADIYAH

 

                          Wakil Ketua,                                          Sekretaris,
               Drs. H. Oman
Fathurohman SW., M.Ag.               Drs. H. Dahwan,
M.Si.

[1] Lihat contohnya pada Syamsul Anwar, “Problem Penggunaan Rukyat,”
dalam Rida dkk., Hisab Bulan Kamariah, alih bahasa Syamsul Anwar, edisi
ke-3 (Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah, 1433/2012), h. 13-16.
[2] Ibn Abi Syaibah, al-Musannaf, edisi Hamd Ibn ‘Abdullah
al-Jumu‘ah dan Muhammad Ibn Ibrahim al-Luhaidan (Riyad: Maktabah ar-Rusyd,
1425/2004), IV: 137, asar no. 9700.