Kepribadian Seorang Pemimpin Dalam Membangun Bangsa Belajar dari Kisah Nabi Ibrahim as

Maha besar Allah dan Maha Suci Allah yang telah melahirkan seseorang yang di puji-Nya dan di angkat-Nya menjadi sosok suri tauladan bagi setiap ummat. Yang punya kepribadian yang sangat mengagumkan. Di awali hidupnya di sebuah lembah gurun sahara yang tak berpenghuni, tidak di tumbuhi oleh sebatang pohon pun. Gurun sahara yang tandus tak berpenghuni, gersang yang tak di aliri air tersebut berhasil dibangun menjadi negeri aman, sentosa, riski yang berlimpah ruah, rakyat yang hidup di dalamnya penuh taqwa, siapapun yang masuk kedalamnya pasti merasakan ketentraman jiwa, dan orang-orang belum pernah memasukinya pasti merasa rindu untuk memasukinya.
Bagaimana dia membangun? Dan dari mana dia memulai?
Dia awali dengan membangun pondasi masjidil haram, yaitu sebuah masjid yang akan di jadikan arah dan qiblat, tempat berkumpul para hamba Allah, dia bangun negeri yang tandus menjadi negeri yang subur dengan hasil yang melimpah ruah yang dapat di nikmati semua penduduk negeri, rakyatnya hidup dengan rasa aman dan nyaman lahir dan batin, tidak ada sekat yang memisahkan antara rakyat dan pemimpin, antara si kaya dan si miskin, kebersihan jiwa Ibrahim dan kesungguhannya dalam membangun bangsanya di ungkapkan dalam doanya kepada Allah dan doanya itu di abadikan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 126 “Ingatlah sewaktu Ibrahim berdoa, ya Allah jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan curahkanlah kepada penduduknya buah-buahan yaitu dengan penduduknya beriman kepada Allah dan hari akhirat.”
Kepemimpinannya tidak di awali dengan membangun istana yang megah dan mewah yang memisahkan antara pemimpin dan rakyat, bukan pula mendirikan rumah besar bertingkat yang di bangun dari uang rakyat, tidak pula dengan menumpuk-numpukkan uang yang di dapatkan dari kesusahan dan penderitaan masyrakat, tidak juga dengan menguasai ratusan hektar tanah dan kebun dari tanah rakyat, apalagi dengan menguasai setumpuk rekening dan ATM hasil dari pendekatan para pejabat. Dan tidak kalah pentingnya seorang pemimpin yang sukses dalam membangun sebuah bangsa tidak cukup dengan membangun dirinya sendiri, akan tetapi di tentukan pula oleh kemampuannya dalam membangun keluarganya sendiri.  Gaya hidup anak dan istrinya secara nyata memperkuat perjuangannya sebagai pemimpin, bukan seiring bersimpang jalan, anak dan istrinya harus mampu menjadi tauladan, sebab berapa banyak terjadi seorang pemimpin di anggap sukses di hadapan masyarakat, sangat pandai memukau hati rakyat, penuh dengan diplomatis dan memikat, namun pada saaat berhadapan dengan anak dan istri dia bersungkur bertekuk lutut. Di sinilah keunggulan kepribadian Nabi Ibrahim dia didampingi seorang istri yang shalihah, sebagai symbol keindahan dunia, kita harus menyadari kalau Rasul pernah mengingatkan hendaklah kamu berhati-hati terhadap wanita, karena bencana besar yang pernah menghancurkan Bani Israil dahulu kala di sebabkan oleh kaum wanita. Lihatlah kenyataan yang ada pada saat ini, siapakah yang sering di jadika pelaris iklan di media-media masa? Yang brani menjual rasa malunya dihadapan khalayak ramai.menampilkan model-model pakaian yang merusak budaya bangsa. Meraka sudah banyak terpengaruh oleh emanspasi wanita yang salah kaprah. Kaum ibu yang sudah banyak meninggalkan rumah dan anak-anaknya, sampai-sampai sang anak jadi korban, kurang mendapatkan kasih saying, pelayanan dan kepedulian, merekapun lambat laun mulai melangkah meninggalkan rumah untuk mendapatkan suasana yang menghilangkan kejenuhan dan kebosanan. Maka dalam suasana seperti itulah jiwa mereka mudah terpengaruh oleh lingkungan pergaulan. Suasana seperti inilah sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memasarkan barang-barang haram, seperti narkoba, undian-undian, dan judi yang pada akhirnya akan menghancurkan masa depan generasi bangsa.
Dengan izin Allah Nabi Ibrahim sudah berhasil mendidik seorang anak yang sangat santun dan berakhlak mulia, sebagai symbol generasi yang tangguh tak hanyut oleh suasana, tidak terpengaruh leh ideology-igeologi menyesatkan, tidak mudah terpukau oleh bayangan-bayangan dunia yang sering menjatuhkan harga diri dan keluarga, apalagi terjun bebas kedunia politikpraktis yang menghalalkan segala cara. Dia mempunyai pendirian yang sangat kokoh, akidahnya bersih tidak dicemari dengan syirik, selalu bersyukur kepada pencipta, hidupnya sangat sederhana, namun sangat istiqomah dan mempesona, patuh dalam mentaati semua perintah Allah dalam keadaan suka dan duka. Tabah dalam menghadapi cobaan hidup sebagaimana digambarkan dalam firman-Nya QS. An-Nahl: 120-121, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin yang dapat dijadikan tauladan yang patuh pada Allah dan Hanifa, dan sekali-kali bukan termasuk orang-orang yang musyrik, dia juga selalu mensyukuri nikmat Allah dan Allah telah memilihnya dan menunjukinya kejalan yang lurus.”
Keberhasilan Nabi Ibrahim itu tidak didapatinya dengan simsalabin. Jauh sebelumnya Ibrahim sudah terbiasa menjalani hidup penuh dengan ujian dan cobaan, kadang dia harus berpisah dengan anak yang disayanginya, suatu saat diuji dengan kerinduan untuk mendapat anak keturunan setelah begitu lama menjalani pernikahan. Dan setelah memasuki usia lanjut barulah ia menikmati kehadiran seorang anak yang cakep, cerdas dan sangat penyantun terhadap kedua orang tuanya, metalnya sangat kuat, keyakinannya sangat kokoh, namun ujian dan cobaan datang lagi untuk menguji iman ayahnya, Allah perintahkan agar anaknya sebagai buah hati sibiran tulang dijadikan qurban sebagai bukti kecintaan kepada Allah melebihi cintanya terhadap anaknya. Rupanya Ismail bukan sembarang anak muda, hatinya tidak gentar sedikitpun berhadapan dengan maut, ia rela menyerahkan nyawanya untuk dikurbankan di jalan Allah, ia kuatkan hati ayah dan bundanya dengan bahasa yang tegas dan mengagumkan, “Wahai bapakku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu untuk menyembelihku, in sya Allah ayah akan mendapatkanku dalam keadaan tabah dan sabar menerimanya”
Nabi Ibrahim juga merupakan sosok yang tangguh dan istiqomah dalam mempertahankan prinsifnya, tidak ada tanwar menawar dalam keyakinan dan ibadah, tidak pula pech konsi antara hati dan mulutnya dalam berhadapan dengan siapapun dan kapanpun, firman Allah QS. Al-Mumtahanah: 4.
Hatinya pun semakin kuat untuk berjuang, berjihad, lalu ibu Ismail (Hajar) mengikutinya sambil berkata, “wahai Ibrahim, kemana engkau akan pergi dan meniggalkan kami di lembah yang tak ada seorangpun dan tidak ada apa-apa? Hajar bertanya beberapa kali, akan tetapi Nabi Ibrahim tidak menoleh juga kepadanya, maka Hajar bertanya lagi kepada beliau,”apakah Allah yang memerintahkan mu seprti ini?” Ibrahim menjawab,”ya”, Hajar berkata, “jika demikian, pergilah, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Sudah tampak nyata di hadapan kita semua potret bangsa kita, contoh pada saat ini hamper sudah semuanya kerusakan dalam segala lini kehidupan. Kehancuran akhlak dan moral, kehilangan rasa malu,saling tidak menghargai satu dengan yang lain, kaburnya cara berfikir dan berkehendak, semakin maraknya pembunuhan dan pemberontakan, semakin menggilanya rasa rakus dan tamak mulai dari istana sampai ke pelosok desa, banyak yang terjerat korupsi, kolusi dan nepoteisme lembaga kemasyrakatan, tidak saja dihuni oleh perampok yang didesak kelaparan, namun didapati juga para pejabat dan aparat yang sudah kehilangan rasa syukur dan qanaah, yang sudah putus urat malunya, dari kalanga atas sampai kalangan bawah.
Marilah kita sama-sama berniat dan ber’azam untuk menjadi khaira ummah, mumpung kesempatan masih ada kita perbaiki semua bentuk kesalahan dan kehidupan kita. Tatap masa depan dengan penuh keyakinandan penuh harapan. Jangan merasa berat untuk berjuang dan berkorban sebab cita-cita mulia hanya bias di capai dengan perjuangan dan pengorbanan. 
Oleh: Musliadi (Ketua Bidang Kajian Dakwah Islam PP IPM)