Impian Bertemu Pak AR

Oleh : IMMawan Muhammad Isnan*
Tulisan ini bukan bermaksud untuk meragukan kapasitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekarang. Ini adalah sebuah bentuk keinginan untuk bertemu dengan sosok Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang begitu sederhana dan dekat dengan rakyatnya. Dialah Pak Abdul Razaq Fakhruddin, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama 6 periode kepengurusan dalam waktu 24 tahun, sejak 1968 hingga 1992. Saya akan mencoba mengenal sosok Pak AR (AR Fakhruddin) melalui tulisan-tulisan orang-orang dan sahabat yang pernah dekat dan bahkan berinteraksi secara intens dengan PAK AR. Adakalanya tulisan saya ini lebih kepada sebuah resensi buku milik Emha Ainun Najib yang berjudul PAK AR Profil Kyai Merakyat. Tulisan ini hanya ingin menyampaikan sebuah kegalauan kader muda Muhammadiyah akan sosok pemimpin organisasi terbesar di Indonesia ini. 
Muhammadiyah secara mudah 
Mengenal Muhammadiyah selalu diidentikan dengan KH Ahmad Dahlan, atau sosok Amien Rais, Ahmad Syafii Maarif, Din Syamsuddin atau Muhammadiyah selalu diidentikan dengan organisasi yang melarang jamaahnya untuk tidak shalawatan, tahlilan, hingga yaasinan. Itu saya temui sampai hari ini. Sebenarnya jika kita lebih melihat Muhammadiyah lewat perannya untuk bangsa Indonesia banyak sekali yang diberikan untuk kemajuan bangsa Indonesia. Mulai dari tokoh-tokohnya sebagai pejuang kemerdekaan, peletak dasar Ideologi pertama Indonesia, memberantas gerakan PKI yang tumbuh subur, hingga sebagai Bapak Reformasi. Selain tokoh-tokohnya, Muhammadiyah juga banyak mendirikan amal usaha yang bergerak disemua bidang mulai dari pendidikan, kesehatan, sosial, lembaga amal. Hingga lembaga kebencanaan. Itu dilakukan semata-mata Muhammadiyah ingin memajukan bangsa Indonesia. 
Sosok merakyat itu pernah ada di Muhammadiyah
Di kalangan aktivis Muhammadiyah terutama kader-kader muda, nama AR Fakhrudin begitu sering di kenang. Walaupun kita semua sebagai generasi muda jarang bertemu atau bahkan belum pernah bertatap muka. Sosok beliau begitu ada dalam hati anak muda Muhammadiyah. Pak AR begitu beliau sering disapa. Nama lengkapnya AR Fakhruddin merupakan kepanjangan dari Abdul Razaq Fakhrudin. Lahir di Clangap, Purwanggan, Yogyakarta pada tanggal 14 Februari 1916, empat tahun setelah Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan. Sejak kecil Pak AR sudah belajar mendalami ilmu agama. Bangku sekolah dia mulai dari Standard School Muhammadiyah Bausasran dilanjutkan SD Muhammadiyah Prenggan Kotagede ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Mulai meniti karir menjadi seorang guru berkay ilmu yang diperolehnya lewat Sekolah Guru Ulum Muhammadiyah Sewugalur, Kulonprogo hingga akhirnya beliau juga ditempa di Tabligh Scholl Muhammadiyah. Ketokohan Pak AR banyak digambarkan sebagai Ketua Umum Muhammadiyah yang merakyat dan dekat dengan umatnya. Seorang pemimpin yang sederhana dan tidak haus akan kekuasaan. Cak Nun panggilan akrab Emha Ainun Najib menuliskan kalimat yang sangat menusuk hati pemimpin sekarang. Tapi apa gunanya berjalan dengan barisan sejarah yang dipimpin oleh orang-orang pandai, kalau tiap malam tidur kita nglilir dan ninghtmare tentang betapa kebodohan kita semua adalah makanan empuk di mulut pandai para pemimpin itu ? apa gunanya bernaung di bawah ketiak para pemimpin yang progresif dan penuh manuver, kalau nanti ternyata di hirup oleh para pemimpin itu ? apa gunanya berlena-lena dan terkagum-kagum oleh gegap gembita artikulasi canggih para cendekiawan dan politisi, yang ujung-ujungnya ternyata tak berkenan di hati kita ? dan Pak AR adalah ”manusia hati” yang begitu karib di hati umatnya, bahkan terkesan tak berjarak dengan hati siapapun. (Emha Ainun Najib : 1995).  
Kyai Humoris 
Priiit…mulai ! pelan meluncur motor bebek Yamaha tahun 70-an warna oranye luntur, menjelang deretan tonggak kayu yang harus dilewati zigzag pengendaranya turun. “Lho kok dituntun, Pak ? “tegur polisi penguji SIM. “Ya, kalau ada jalan seperti ini memang saya pilih turun, dari pada jatuh (Masyhud Rahmy : 1995). Tingkah laku Pak AR dalam ujian tersebut di lukiskan dengan baik oleh Masyhud Rahmy. Ketika saya membaca tulisan tersebut, saya langsung tertawa. Seorang Kyai melewati ujian SIM dengan penuh ketenangan dan kesabaran termasuk menuntut sepeda motornya agar tidak jatuh. Lain lagi cerita dari kebiasaan beliau dalam berceramah. Dalam Tanya jawab di agenda Ramadhan in Campus di UGM. Pak AR pada saat itu mengingatkan kepada mahasiswa UGM yang suka berfikir filosofis jangan terlalu rasional dalam bertanya tentang masalah agama. Pak AR mengatakan “Saya takut nanti ada yang tanya, kenapa sholat shubuh dua rekaat, padahal waktu subuh kan orang masih segar dan tenaganya kumpul. Nah bagaimana saya bisa menjawabnya ? “kata Pak AR dengan jawaban yang sangat lucu dan bikin ger-geran “tapi nanti ada juga mahasiswa yang menjawab, “ya karena yang paling duluan bangun di pagi hari kana yam, dank arena ayam kakinya dua, maka sholat shubuh pun dua rakaat. (Syaifudin Simon : 1995). Itulah beberapa isi khutbah Pak AR yang begitu menghibur seperti dagelan humor khas orang jawa. Banyak hal ketika beliau berceramah termasuk gaya humornya dia dan materi pengajian yang mudah diterima oleh jamaahnya dan tidak memaksa. 

Teladan masa depan 

Itulah sosok Pak AR Fahruddin yang demikian sangat merakyat, humoris, dan apa adanya. Dalam kesederhanaannya memimpin Muhammadiyah, Pak AR selalu dinanti oleh umatnya. Walaupun sosok Pak AR Fahruddin sudah di panggil oleh Allah swt selama-lamanya tetapi ketokohan beliau masih membekas di seluruh kader-kader Muhammadiyah. Maka tidak salah jika saya juga mengharapkan sosok-sok Pimpinan Muhammadiyah dan ortom-ortomnya mulai dari tingkat ranting sampai pusat meneladani sosok Pak AR. Ulama yang dengan wibawa dan penampilannya yang sederhana mampu selalu dekat di hati oleh para jamaahnya. Sederhana, ikhlas, sabar, istioqah, zuhud dan rendah hati. Sehingga beliau dapat dikategorikan sebagai pemimpin yang mampu diteladani oleh para pengikutnya. Mengutip salah satu potongan firman : ud’uu ilaa sabili rabbika bilhikmah….”serulah manusia kejalan tuhanmu dengan bijak dan pelajaran yang baik serta diskusi yang baik. (Masyhud Rahmy : 1995). Itulah sedikit inspirasi kepemimpinan dari sosok Pak AR.  

*penulis adalah Ketua Umum Pimpinan Komisariat IMM Averroes Fakultas Teknik UMS Periode 2014-2015.