Idul Adha 1436 Hijriyah dan Konsistensi Ulama Muhammadiyah

Kader Muhammadiyah tidak perlu gentar dengan tekanan orang-orang lain
yang menganggap Muhammadiyah salah, sesat, atau bid’ah hanya karena
berbeda dalam penetapan hari idul adha dengan Arab Saudi. Husnudzan saja
bahwa yang menekan atau menggunjing itu mungkin belum sempat belajar
falak, astronomi apalagi fiqh khilaf dan adab berbeda pendapat, serta
lebih sibuk belajar yang lainnya.
Keputusan PP
Muhammadiyah dalam menetapkan idul adha bertepatan dengan 23 September
bukanlah hal yang ecek-ecek dan bisa diganti seenaknya hanya karena
tekanan dari banyak pihak. Ini adalah ijtihad ulama Muhammadiyah
(Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah). Kita, para anggota yang masih
belum tahu ilmu soal penetapan awal bulan ini tugasnya adalah percaya
dan  taqlid/ittiba’ (mengikuti) ulama yang pakar dibidangnya, dalam hal
ini kita mengikuti Ulama Tarjih Muhammadiyah. Tentu taqlid bukanlah
sebuah cita-cita. Tapi memang mengikuti ulama (taqlid/ittiba’), itu
adalah sebuah fase yang pasti ditempuh oleh setiap calon ulama.
Konsistensi
PP Muhammadiyah untuk beridul adha pada tanggal 23 Desember, justru
perlu diacungi jempol oleh anggotanya bahkan (menurut saya) juga oleh
yang tidak setuju dengan Muhammadiyah. Kenapa? Ini justru menunjukan
bahwa para ulama Muhammadiyah itu adalah ulama yang konsisten (ora mencla-mencle, esuk dele sore tempe)
dengan hasil ijtihad mereka dalam menetapkan metode hisab wujudul hilal
sebagai penentu awal bulan. Meskipun badai hujatan dan sindiran dari
berbagai sisi, bahkan ketika Menag tidak ‘sanggup’ memberikan hari libur
untuk mengakomodir 50 juta lebih masyarakat Muhammadiyah (sampai
tulisan ini turun belum ada berita libur tanggal 23 Sept), Muhammadiyah
tetap maju tak gentar dan tak takut untuk menyebarkan hasil ijtihadnya
meskipun banyak hujatan, teriakan huuu, bahkan kekhawatiran dari kader
Muhammadiyah sendiri. Ulama Tarjih Muhammadiyah sudah berijtihad
(mengeluarkan segala kekuatannya untuk meneliti, mengkaji dan membuat
metode) bahwa metode Wujudl Hilal adalah sebuah metode yang benar (tanpa
menyalah-nyalahkan metode yang lain) untuk penentuan awal bulan. Dan
dengan metode ini, PP Muhammadiyah telah menetapkan bahwa tanggal 23
September nanti adalah hari idul adha dan tanggal 22 untuk berpuasa
Arafah.
Justru jika para ulama Muhammadiyah beridul adha
tanggal 24 Sept dan tidak konsisten dengan metode yang sudah ditetapkan
(kemarin pakai hisab WH, sekarang pakai IR/ Rukyat, lalu besoknya balik
pakai WH lagi), hanya karena tekanan dan sindiran hal itulah yang
harusnya menjadi kekhawatiran kita sebgai kader Muhammadiyah. Tapi insya
allah ulama Muhammadiyah tidak begitu. Buktinya? Idul adha inilah bukti
konsistensi ulama Muhammadiyah. Salut buat ulama-ulama kita yang selalu
konsisten dengan dengan hasil ijtihad beliau. Wa nahnu sami’na wa
atho’na.
Alda K Yudha