Warna Warni Cantik Seragam Peserta Muktamar Aisyiyah 1 Abad

Makassar – Pemandangan menarik terlihat dalam Sidang Muktamar Satu Abad ‘Aisyiyah hari kedua (04/08). Balai Prajurit M. Yusuf yang menjadi lokasi sidang nampak dipadati ribuan peserta berseragam warna warni. Dilihat dari podium atas, seragam tersebut tak ubahnya lautan jilbab dengan warna cerah seperti merah muda, hijau muda, jingga, kuning, dan biru. Warna-warna tersebut tertata rapih sesuai wilayah asal peserta sidang Muktamar. Uniknya, seragam wilayah tersebut dipakai secara serentak oleh seluruh peserta meskipun tidak ada intruksi dari panitia. Hal itu terlihat dari jadwal yang diedarkan kepada peserta. Peserta nampak diwajibkan memakai seragam batik ‘Aisyiyah nasional dalam forum pembukaan.

Menurut Eni Purwanti, peserta Muktamar dari Kalimantan Barat, seragam wilayah berwarna hijau yang dikenakannya dibuat untuk memudahkan mengenal sesama peserta Muktamar asal Kalimantan Barat. Eni mengaku seragam membuatnya lebih mudah mencari rekan sesama wilayah. “Kami pun (dari satu provinsi) sebenarnya nggak kenal yang satu dengan yang lain. Adanya seragam ini kita tahu,” kata Eni di sela-sela sidang. Eni bersama rombongannya mengenakan seragam bermotif Sambar Berawak. Motif itu menurutnya adalah motif khas Kalimantan Barat. PW Kalimantan memilih warna hijau karena identik dengan warna ‘Aisyiyah.

Alasan berbeda memilih baju seragam diungkapkan Nurhayati dari Aceh. Menurutnya selain untuk memudahkan mencari sesama peserta, seragam digunakan untuk mempromosikan budaya. Rombongan peserta Muktamar kontingen Aceh nampak memakai baju polos berwarna hijau daun yang dibalut rok dan selendang bercorak khas. Nurhayati mengungkapkan rok dan selendang yang dipakai rombongannya berasal dari Aceh Besar. Kain bernama Pucuk Rebung tersebut dibuat oleh kelompok ibu rumah tangga. “Kita ingin promosikan untuk menambahkan income pembuat kain,” kata Nurhayati. Mengaku terkendala biaya, Nurhayati tidak membawa produk untuk dipamerkan dalam perhelatan Muktamar. Meskipun begitu, Nurhayati memberikan kontak pribadi kepada peserta lain yang berminat membeli kain.
Lain Aceh, lain pula Papua Barat. Kontingen yang memadati podium atas tersebut tampak memakai seragam batik warna ungu. Seragam yang digunakan bercorak khas Papua bernama Hurung Cendrawasih. Suriyati Faisal sebagai koordinator mengaku seragam dibuat untuk menunjukan ciri khas Papua Barat di arena Muktamar. “wilayah Papua Barat itu luas. Ada Sorong, Raja Ampat, Kaimana, Bintanu, Fak fak, Manokwari, kalau membawa seragam masing masing dari daerah kan terlalu ramai makanya kita kan atas nama Papua Barat.” Untuk itu, pimpinan wilayah sepakat membuat seragam untuk menunjukan kekompakan kontingen dari Papua Barat.
Menengok ke tengah ruang sidang, warna merah mudah nampak mendominasi di antara warna-warna lain. Mereka merupakan kontingen dari Jawa Tengah sebanyak 181 orang. Kontingen dari Jawa Tengah memilih kain tenun bernama Pedan sebagai seragam wilayah dalam arena Muktamar. Seragam semu bergaris-garis tersebut merupakan kain khas Klaten, salah satu daerah produsen kain Lurik di Pulau Jawa. Pemilihan kain tersebut bukan tanpa alasan. Sebelum menjatuhkan pilihan pada kain Tenun Pedan, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah mengadakan lomba seragam yang diikuti 35 PDA. Dari jumlah tersebut, Klaten keluar sebagai juara satu yang akhirnya dipakai sebagai seragam wilayah dalam Muktamar Satu Abad ‘Aisyiyah di Makassar.
Di ‘Aisyiyah sendiri, seragam bukan hal baru. Sebelum seragam wilayah, ‘Aisyiyah sudah meresmikan seragam berupa kain hijau bermotif batik dengan tulisan ‘Aisyiyah sebagai baju nasional untuk forum formal. Seragam tersebut ditetapkan secara resmi sebagai seragam nasional dalam Muktamar yang digelar di Solo pada Tahun 1985.(aisyiyah.or.id)