Saat Dr.Haedar Nashir Dituduh Liberal

DR.H. Haedar Nashir M.Si terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015 – 2020. melalui rapat pleno kamis Malam, dari 13 anggota Formatur yang terpilih menurut hitungan jumlah suara. Namun keberadaan Haedar Nashir ternyata masih saja dipertanyakan banyak orang, terutama yang merasa seorang Haedar adalah rivalnya. Mereka beranggapan seorang Headar Nashir adalah Liberalisme, searah dengan gagasan JIL dan JIM, karena sikap yang ditampilkan Haedar Nashir tidak puritan atau tidak sejalan dengan kemuan kelompok yang antipati dengan beliau. Terutama kalangan kelompok Islam yang berada dibawa naungan pemikiran puritanisme Primordial yang lebih mengagungkan simbol simbol kekunoan atau masa lalu, sejarang yang terpancang diawal peletakkan Islam, meskipun secara serampangan menilai.
Headar Nashir menurut mereka “anti hukum Islam” anti penegakkan Syariat dan tauhid murni, lebih pada konsep konsep leberalisme, yang mengakar diatas kesimpangsiuran pemikiran orentalisme dan sekelasnya. Tuduhan itulah yang dilakukan mereka dalam rangka menebar ketidak percayaan masyarakat Islam pada Haedar Nashir. Padahal dalam jurus jurus beliau semuanya dilakukan hanya untuk membentengi “muhammadiyah” dari pengaruh orang luar yang berusaha merusak “Muhammadiyah”. Beliau menulis dalam kolom “BINGKAI” Suara Muhammadiyah, sebagai bentuk pembelaan saja, bahwa Muhammadiyah punya jati diri, punya diri sendiri, tidak membutuhkan orang luar untuk melangkah. Oleh karena itulah ada yang berprasangka buruk kalau beliau itu anti “Islam”, sebuah usaha rivalnya untuk melumpuhkan berpikir “muhammadiyah” . Dalam berbagai tulisannya di “Bingkai” seorang Haedar mengesankan kepada warga Muhammadiyah, bahwa yang wajib dijaga dan diperjuangkan adalah “Muhammadiyah” sesuai dengan kehidupan Muhammadiyah itu sendiri, tanpa perlu girang dan lata dengan orang lain, tetapi bagaimana sebaiknya Muhammadiyah hadir menjadi teladan umat dan menjadi ukuran ormas lain.
Alangkah salahnya yang menilai kehadiran Haedar nashir adalah bermuatan Liberalisme. Haedar Nashir justru banyak memperkenalkan tokoh tokoh Islam praktisi dari kalangan Muhammadiyah sebelumnya. Wawasan pencerahan sebagai ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah justru sempurna adanya bila ditelaah dari banyak tulisannya. Hanya saja dalam upaya memurnikan Islam menurut beliau tidak harus kaku, jumud dan sama dengan masa lalu, karena tantangannya berbeda, sehingga perlu dinamika pemikiran yang bisa melahirkan metode metode moderen dalam pemurnian ajaran Islam.
Banyak pembanding dilakukan beliau dalam skala besar, mengangkat sejarah sejarah kebangkitan dunia barat dan Islam untuk mencari solusi, dengan tetap menjaga kemurnian ajaran Islam itu sendiri sebagai sosok sendiri. Penuturan beliau terdapat dalam “Bingkai” tersebut dengan menggambarkan “bahwa Jati diri Muhammadiyah adalah Muhammadiyah” dan Jati Diri Islam adalah Islam, hingga beliau tidak bisa MEMBEDAKAN ANTARA ISLAM DAN MUHAMMADIYAH. yang memaknai perjuangan Muhammadiyah itu adalah Islam, dan Islam itu Muhammadiyah. Demikian sebagian kecil dari kesimpulan oretan oretan beliau yang terdapat dalam kolom “Bingkai” Suara Muhammadiyah