Relawan Muhammadiyah : Ahok Munculkan Persoalan Baru

Relawan kami pernah mengalami bagaimana mendampingi warga desa dari
sampang Madura yang dipaksa berpindah ke rusun di sidoarjo. Tidak mudah
memang karena tidak sekedar berpindah tempat, atau berpindah tinggal
semata. Namun juga berpindah cara hidup, berpindah cara berekonomi,
berpindah cara berpenghasilan, hingga berpindah dalam cara memakai kamar
mandi dan WC. Sekarang warga Kampung Pulo merasakannya, harus berpndah
dari “rumah biasa” ke “rumah susun”. Mereka menyusul warga lain seperti yang semula tinggal di waduk pluit .

Akan lebih baik bila pemprov DKI juga menyertai kebijakan memindahkan
warganya untuk “lebih manusiawi” ke rusun itu dengan pendampingan sosial
– ekonominya. Khususnya untuk mereka yang biasa berproduksi di rumah,
akan sangat kehilangan kesempatannya berproduksi di rumah sendiri karena
keterbatasan tinggal di rumah susun. Seperti mereka yang sebelumnya
membuka lapak dagang di rumahnya.

Niat baik membebaskan Jakarta
dari banjir harus sangat diapresiasi, namun harus didukung banyak sektor
lainnya agar penataan tetap mengedepankan nilai – nilai kemanusiaan.
Ada banyak lembaga yang bisa dimintai tolong untuk bekerjasama, baik
dengan dana dari pemprov, maupun dana lembaga – lembaga itu sendiri.

Menolak perubahan bukanlah hal yang bijak, karena tidak ada yang tidak
berubah, kecuali perbahan itu sendiri. Tapi ada banyak orang yang tidak
memiliki kapasitas untuk berubah sedemikian drastis. Apalagi bila mereka
yang terpaksa tinggal di bantaran sungai itu dahulu adalah mereka yang
sebelumnya adalah manusia – manusia yang “tergusur” secara ekonomi
maupun tersumbat aksesnya dalam mengakses kebijakan. Setiap kebijakan
memang tidak mungkin memuaskan semua pihak, namun tentu bisa dibicarakan
oleh banyak pihak.

Arif Nur Kholis (Muhammadiyah Disaster Management Center)