Muhammadiyah Tetapkan Idul Adha Bukan di Tanggal Merah, Bagaimana Liburnya?

SangPencerah.com Muhammadiyah telah menetapkan Idul Adha jatuh pada 23 September 2015, lebih cepat satu hari dibanding versi pemerintah di tanggal merah 24 September yang tercetak di kalender. Akankah para kader Muhammadiyah bisa berlibur untuk merayakan Lebaran Kurban?
“Kalau ada masyarakat yang meminta usulan untuk libur, ya boleh-boleh saja. Tapi tetap saja soal libur kita berikan wewenangnya kepada pemerintah,” kata Ketua Komisi VIII Saleh Daulay kepada wartawan, Kamis (27/8/2015).
Saleh tak mau berpolemik soal libur, namun dia menegaskan yang paling penting adalah sikap hormat menghormati. Harus ada mekanisme yang baik agar perayaan Lebaran Kurban bisa dinikmati oleh umat muslim yang merayakan, baik kader Muhammadiyah atau yang ikut Pemerintah.
“Yang paling penting harus ada saling hormat menghormati, silakan bagi yang merayakan tanggal sekian, silakan yang tanggal sekian. Kita sudah terbiasa dengan perbedaan semacam ini, jangan dibuat sulit. Jangankan perbedaan hari Lebaran, perbedaan mahzab saja sudah biasa,” ulas politikus PAN ini.
Pemerintah sendiri lewat Surat Keputusan Bersama 3 menteri tahun 2014 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama menetapkan 24 September adalah hari libur Idul Adha. Meski demikian, seperti kebiasan selama ini biasanya Kemenag akan mengadakan sidang isbat penetapan awal Dzulhijjah sekaligus penentuan Hari Idul Adha. Sementara di masyarakat sendiri beredar opini bahwa karena Idul Adha terkait dengan ibadah haji maka Idul Adha sebaiknya mengikuti pelaksanaan wukuf di Arafah, Arab Saudi.
Soal perbedaan tanggal Lebaran ini, Ketum MUI Ma’ruf Amin juga sudah bicara. Ma’ruf menegaskan MUI mengerti dan menghormati perbedaan tersebut.
“Kita (MUI) sudah sepakat dan mencari kesamaan-kesamaan. Tapi kalau itu misalnya tidak sama, ya kita sudah punya komitmen saling pengertian dan saling legowo,” kata KH Ma’ruf Amin usai penutupan Munas ke 9 MUI di Hotel Garden Palace, Surabaya, Kamis (27/8/2015). (sp/detik)