Inilah Warisan Din Syamsuddin untuk Muhammadiyah



Dr.Ahmad Najib Burhani 
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) & Maarif Institute

Din Syamsudin telah usai menjadi ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah setelah memimpin organisasi Islam modernis terbesar itu selama dua periode 2005-2010 dan 2010-2015. 
Meski sesuai dengan AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) ia masih bisa dipilih lagi menjadi salah satu pimpinan kolektif-kolegial Muhammadiyah yang terdiri dari 13 orang, namun ia memutuskan untuk tidak mengembalikan formulir kesediaan untuk dipilih lagi sebagai upaya kaderisasi sehingga muncul pimpinan baru. 
Seperti yang beberapa kali disampaikannya, ia memilih untuk menjadi ketua Muhammadiyah ranting Ragunan, daerah tempat ia tinggal saat ini. Karena Din Syamsudin tidak lagi menjadi pimpinan Muhammadiyah, maka barangkali ini saat yang tepat untuk membicarakan legacy atau karya unggulan yang ia wariskan kepada organisasi modernis terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yang berdiri tahun 1912 ini. 
Tentu saja ada catatan yang sering disebut sebagai kekurangannya selama sepuluh tahun (2005- 2015) memimpin Muhammadiyah, misalnya kurang berhasilnya organisasi ini dalam menempatkan kader-kader terbaiknya dalam birokrasi pemerintahan. Namun, tulisan ini khusus melihat apa saja warisan dan prestasi dari Din Syamsudin yang patut dilanjutkan oleh para penerusnya di Muhammadiyah. 
Karir Zig Zag 
Din Syamsudin merupakan sosok yang multidisiplin secara akademik, memiliki karier profesional yang tidak tunggal, dan pergaulan yang tak terkungkung pada kelompok tertentu. Pendidikan sarjananya sebetulnya dalam ilmu perbandingan agama, namun ia lantas menulis disertasi doktoral tentang politik Islam dan setelah itu terjun dalam politik sebagai ketua Litbang (Penelitian dan Pengembangan) DPP Golkar. 
Setelah Reformasi, ia menjadi Direktur Jenderal Binapenta (Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja) Departemen Tenaga Kerja. Yang menjadi element of surprise (mengejutkan), ia lantas menjadi Ketua Umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Disiplin akademik, karier profesional, dan pergaulan yang luas itulah yang membuat Din sering disalahpahami dan persalahkan. 
Di kalangan aktivis NGO dan pengamat asing, Din sering dipandang dengan sinis dan bahkan menjadi bahan ledekan karena sikapnya yang sering kali dianggap tidak konsisten, terutama dalam kaitannya dengan isu kelompok minoritas. 
Ia memiliki posisi strategis di MUI, sebagai wakil ketua dan kemudian menjadi ketua, namun tak mampu menahan lembaga tersebut mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversial berkaitan dengan kelompok minoritas, pluralisme, dan liberalisme. Ia sering mengadakan pertemuan tingkat tinggi tokoh tokoh agama, namun suaranya jarang terdengar dalam kasus-kasus kecil intoleransi keagamaan. 
Pertanyaannya sekarang, sebagaimana tertulis dalam pengantar buku Kiprah Pencerahan: KaryaUnggulanMuhammadiyah 2005-2015, seperti apakah sebetulnya sosok Din Syamsudin itu? Apa prestasi dan warisan kepemimpinan Muhammadiyah masa Din Syamsudin dalam dua periode itu (2005-2010 dan 2010-2015)? 
Konservatisme dan Kosmopolitanisme 
Beberapa kalangan sering menuduh Din sebagai representasi dari kelompok konservatif dari Muhammadiyah. Ia memimpin organisasi itu setelah periode Buya Syafii Maarif yang dikenal sangat progresif. Namun di Muhammadiyah sendiri, ia sering menjadi jembatan antara kubu Islam kanan dan kiri. 
Bahkan ia sering dituduh sebagai orang liberal dalam internal Muhammadiyah karena pembelaannya terhadap Syiah dan beberapa pernyataannya bahwa Syiah adalah bagian dari Islam. Peran ”bridging” (menjembatani) Din itu, misalnya, terlihat hasilnya ketika isuliberal vs konservatif itu tak muncul lagi di Muktamar Muhammadiyah ke- 46 di Yogyakarta. Justru yang tampil adalah warna kultural Muhammadiyah sebagai organisasi berbudaya Jawa. 
Dalam periode kedua kepemimpinannya, beberapa kegiatan Muhammadiyah banyak yang merefleksikan bagaimana organisasi ini merespons tantangan global, termasuk pengaruh budaya dari Arab dan Barat. Ini terwujud dalam beberapa hal, di antaranya adalah jihad konstitusi, internasionalisasi Muhammadiyah, pelayanan sosial baru dalam wadah Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC ) dan Majelis Pengembangan Masyarakat (MPM), serta pengembangan hubungan antaragama. 
Dalam Muktamar ke-47 di Makassar, Muhammadiyah bahkan memilih tema yang berkaitan dengan posisi Muhammadiyah yang mengusung Islam Berkemajuan atau Islam yang Kosmopolitan, yakni Islam yang berwawasan dunia, keluar dari kungkungan negara-bangsa. Dalam dunia yang global ini, Muhammadiyah berupaya untuk ikut berdialog dan berbagi dengan berbagai peradaban dunia, tidak hanya sebagai penerima pengaruh asing tapi juga memengaruhi masyarakat dunia. 
Inilah makna dari kosmopolitanisme yang dalam aktivitas nyata diwujudkan program internasionalisasi Muhammadiyah. Program ini lantas menginspirasi pendirian beberapa Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jepang, Mesir, dan Iran. Di samping PCIM, beberapa negara bahkan telah memiliki cabang Muhammadiyah yang didirikan oleh warga asli negara tersebut, seperti di Mauritania, Vietnam, dan Malaysia. 
Jihad konstitusi Muhammadiyaherat kaitannya dengankapitalisme global. Saat ini beberapa perundang-undangan kita dibuat atau dikontrol oleh para kapitalis demi memuluskan kepentingan mereka. Jihad konstitusi adalah upaya untuk menjaga agar konstitusi kita mampu melindungi kekayaan kita dari dominasi kapitalis yang tidak memedulikan kesejahteraan masyarakat. 
Pelayanan sosial baru itu misalnya terwujud dalam pelayanan sosial yang nonsektarian dan mempersiapkan masyarakat agar tidak gagap terhadap bencana. Muhammadiyah, melalui MDMC dan MPM, misalnya, melakukan bantuan kepada kelompok yang sering dituduh sesat, semisal Syiah, dan mempersiapkan masyarakat Indonesia yang hidup dalam ring of fire (rangkaian gunung berapi) untuk tidak gagap terhadap bencana. Itulah beberapa warisan distinctive (sangat berbeda) yang menandai masa kepemimpinan Din Syamsudin di Muhammadiyah dibandingkan ketua umum sebelumnya. 
Beberapa karya tersebut perlu untuk menjadi pelajaran dan dilanjutkan oleh siapa pun yang nanti menjadi pimpinan baru di Muhammadiyah. Hal yang masih menjadi tanda tanya sekarang adalah, karier dan aktivitas apa yang akan dipilih Din Syamsudin seusai purna tugas di Muhammadiyah 
source: sindonews