Benarkah Muktamar Muhammadiyah adalah Kegiatan Hura-hura?

Sang Pencerah- Ada sebuah pernyataan di medsos yang mengkritik muktamar sebagai hura-hura. Berikut kutipannya:

saya tidak tahu apakah ini wujud konkrit dari bentuk hura-huraan atau tidak? bayangkan NU ada peserta muktamarnya 4000 lebih orang lalu Muhammadiyah kabarnya 2000 orang lebih yang ikut muktamar. pada hal kalau mau jujur untuk menyelenggarakan suatu muktamar nasional suatu organisasi apapun bentuknya itu ya cukup diambil dari wakil utusan provinsinya saja tanpa ikut serta utusan dari kabupaten dan kota bisa jd peserta muktamar tdk sampai ribuan saja. Astaghfirullah

Kami fikir pernyataan di atas sudah bisa kita jawab dengan mudah. Namun kami redaksi SP akan mencoba kembali menguatkan argumen-argumen kenapa Muktamar adalah sebuah kegiatan yang urgen dan perlu. Lalu kami pun akan memaparkan bahwasanya kegiatan Muktamar bukanlah hura-hura.

Apakah muktamar Muhammadiyah hura-hura? Jelas bukan. Muktamar itu isinya bukan konser artis, bukan dugem, bukan pesta makan-makan. Muktamar itu kegiatannya permusyawaratan, suksesi kepemimpinan dan silaturahim antar warga Muhammadiyah seluruh Indonesia. Jadi jelas dari kegiatan tentu bukan hura-hura, namun  merupakan perkaderan yang kembali menguatkan spirit berMuhammadiyah saat kembali ke daerah masing-masing.

Lalu dalam tulisan tersebut, dinyatakan bahwa muktamar tidak perlu lah diikuti oleh PDM dan PCM, cukup PWM saja. Intinya muktamar jangan ramai-ramai lah, yang sederhana dan murah saja. Kita tahu bahwa muktamar kali ini Muhammadiyah menghabiskan dana 35 miliar, sebuah jumlah yang cukup besar.

Sebenarnya kalau kita mau lebih jauh berfikirnya, 35 miliar yang dihabiskan itu tidaklah sia-sia, namun investasi. Dari segi ekonomi karena kegiatan muktamar yang meriah ini roda perekonomian masyarakat terbantu. Bayangkan betapa banyak pedagang kecil yang ikut berjualan di muktamar ini, tukang ojek yang bertambah penghasilannya, percetakan yang mendapat lebih banyak orderan, travel yang kebanjiran pesanan dll. Dari segi intelektual dan emosional pun muktamar yang meriah ini akan memberi manfaat bagi banyak pesertanya. Para peserta bisa mendapat networking baru dari kader Muhammadiyah di luar daerahnya. Para peserta bisa mendapat ilmu baru dari petinggi-petinggi yang biasanya sulit untuk ditemui. Para peserta bisa mendapat pengalaman dan pelajaran dari Muktamar. Hal-hal ini diharapkan bisa dibawa ke daerahnya masing-masing untuk membangun Muhammadiyah yang lebih baik.

Sekarang bayangkan kalau muktamar dibuat biasa-biasa saja dengan peserta yang jumlahnya sedikit dan tanpa penggembira. Apakah roda perekonomian akan terbantu? Apakah terjadi peningkatan intelektual dan emosional warga Muhammadiyah?

Redaksi SP