Beginilah Cara 13 Anggota Formatur Tentukan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Jakarta – Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar hari ini memasuki hari ketiga yang salah satu agendanya memilih calon ketua umum. Pemilihan ketua umum akan dilakukan oleh 13 anggota pimpinan Muhammadiyah yang dipilih dari 39 daftar calon pimpinan. Sebanyak 13 anggota yang nantinya terpilih, akan bermusyawarah menentukan seorang ketua umum. Bagaimana caranya?

“Nanti yang memimpin rapat bukan yang 13 (anggota terpilih), tapi panitia pemilihan,” ujar anggota tetap Muhammadiyah Yunahar Ilyas di sela pemilihan di ruang Balai Sidang Universitas Muhammadiyah Makassar, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Rabu (5/8/2015), 
Yunahar yang sudah dua kali terpilih dan ikut dalam rapat 13 anggota terpilih di Muktamar sebelumnya itu, mengatakan panitia pemilihan hadir dalam rapat itu hanya sebagai mediator bagi 13 anggota terpilih.
“Ketua panitia pemilihan yang memimpin sidang. Pertama, (menawarkan kepada suara terbanyak) ‘bapak sudah terpilih dengan suara terbanyak, kita tawarkan bapak menjadi ketua umum,” terang Yunahar.
“Kalau dia bilang Insya Allah (bersedia). Bagaimana bapak-bapak yang lain, setuju? Kalau setuju selesai. Tapi kalau ada yang bilang ‘walau anda suara terbanyak, saya tidak setuju’. Bisa lama lagi,” papar pakar ulama ilmu quran tersebut.
Jika peraih suara terbanyak tidak bersedia menjadi ketua umum, maka akan ditawarkan kepada anggota dengan peraih suara terbanyak lainnya hingga ada yang menyatakan bersedia dan disepakati dalam rapat.
Namun, melihat pengalaman rapat 13 anggota terpilih Muhammadiyah di dua periode Muktamar sebelumnya, relatif rapat berlangsung cepat tanpa ada perdebatan. Dua periode sebelumnya memilih Din Syamsuddin sebagai ketua umum.
“Di Muhammadiyah tidak ada tradisi saya saja (ketua umum), nggak ada. Makanya sistemnya tak memberi peluang untuk mencalonkan diri, tapi dicalonkan. Walau dia hebat, kalau tidak dicalonkan tidak bisa,” ucap mantan ketua MUI itu.
Meski tak dipungkiri bisa saja ada dinamika dalam rapat 13 anggota terpilih. Sekiranya musyawarah tidak tercapai, maka bisa dilakukan voting oleh 13 anggota untuk menentukan seorang ketua umum. Jika telah terpilih ketua umum, dikembalikan ke forum Muktamar.
“Nanti diminta persetujuan (peserta Muktamar), kalau ditolak maka rapat lagi 13 anggota. Tapi belum pernah terjadi (ditolak peserta),” ucap salah seorang calon yang diunggulkan itu.
Ada pengalaman menarik dalam rapat 13 pada Muktamar terdahulu, yaitu saat 13 anggota tidak ada yang menyatakan bersedia menjadi ketua umum. Akhirnya disepakati untuk menjadikan ketua umum di luar 13 anggota formatur.
“Jadi 13 orang semua nggak mau, lalu dicari dari luar (disepakati) dari Pekalongan untuk dibawa ke Yogyakarta. Orangnya Pak AR Sutan Mansur,” ucap Yunahar.
Hal itu menurutnya menunjukkan budaya di Muhammadiyah yang tidak berebut jabatan atau kedudukan. “Ada juga di Muktamar 1971 suara terbanyak nggak mau menjadi ketua umum, maka dikasih ke Pak AR Fachruddin,” imbuhnya. (sp/dtk)