Tokoh Muhammadiyah : Pelaku Pembakaran Masjid di Tolikara Layak Disebut Teroris


Jakarta – Seperti yang kita ketahui teror terhadap ummat islam terjadi pada saat pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Tolikara Papua, massa dari distrik tiba-tiba melempari jamaah saat Takbir ke-7 lalu masjid dibakar. Massa yang disebut dari GIDI Papua (Gereje Injil Di Indonesia) menyerbu dan membakar masjid karena hari ini (Idul Fitri) mereka juga punya acara. Informasi yang beredar, sehari sebelumnya, GIDI mengirimkan surat agar umat muslim tidak menggelar takbiran dan melaksanakan salat idul fitri.

Hal ini juga dikonfirmasi Kabid Humas Polda Papua Kombes Patridge Renwari yang mengatakan Polda Papua akan meminta penjelasan Presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI) terkait surat edaran yang dianggap meresahkan. Ini dilakukan untuk mengkonfirmasi dugaan dikeluarkannya surat edaran berisi larangan adanya kegiatan lain karena adanya kegiatan GIDI.

Menyikapi tragedi tersebut beberapa tokoh dan pimpinan Muhammadiyah menyampaikan sikap melalui akun media socialnya salah satunya Ketua PP Muhammadiyah Prof Syafiq Mughni mengatakan

Radikalisme dan kekerasan tidak hanya ada di Timur Tengah dan Jawa tetapi juga ada di Eropa dan Papua. Tidakkah mereka layak disebut teroris?

Statement tersebut ditanggapi beberapa netizen Muhammadiyah salah satunya oleh Ma’mun Murod Al Barbasy yang menanggapi ” Klo
seorang Prof spt Pak Syafiq sdh membuat status spt ini, hrs dipahami
sbg bentuk kekecewaan thd non-Muslim. Selama ini Prof. Syafiq trmsk
sedikit orang yang concern pd masalah2 toleransi. Klo kemudian muncul
kasus Papua, smntr pernyataan2 di kalangan
Gereja bgt mengecewakan, wajah orang spt Pak Syafiq membuat status spt
ini. Ayo media massa mana yang berani menyebut duluan pelaku pembakaran
masjid di Papua sbg teroris? Jangan klo pelaku kekerasan dr kalangan
muslim lalu media seakan berlomba utk beradu cepat menyebutnya sbg
teroris!!!”
Dalam akun pribadinya Ma’mun Murod Al Barbasy yang juga anggota LHKP PP Muhammadiyah dan Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta menuliskan statementnya terkait tragedi tolikara

Saya lagi menunggu, media massa mana yang berani duluan menyebut pelaku pembakaran masjid di Papua sebagai ekstremis n teroris, sebagaimana media massa biasanya akan beradu cepat utk menyebut teroris atau ekstremis bila pelaku kerusuhan berasal dari kalangan Muslim. Saya membuat status ini jangan lalu menyebut sy tdk paham apa itu “toleransi”. Justru sy buat status ini, krn saya sangat faham tentang toleransi, saya sangat faham ttg kebebasan beragama, dan saya sangat paham bagaimana menghargai umat lain yang berbeda agama.

Sementara itu pantauan di group facebook Muhammadiyah Gerakan Islam Berkemajuan, banyak netizen muhammadiyah yang mengutuk keras penyerangan terhadap  ummat islam di Tolikara Papua dan mendesak aparat menindak tegas para pelaku ke meja pengadilan, jangan hanya menghimbau ummat islam untuk bersabar dan mengedepankan toleransi namun ketika ummat islam beribadah Negara alpa dalam menjalankan tugasnya memberi perlindungan.(redaksi sp.com)