Tabligh Akbar Muhammadiyah di Merauke Papua Dihadiri Sekitar 500 Jamaah

Merauke | sangpencerah.id – Sabtu, (25/07/2015) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Merauke menggelar Tabligh Akbar dalam rangka menyemarakkan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-47 di Makassar Sulawesi Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan di halaman Masjid Nurul Huda, Mopah Lama yang juga merupakan kompleks perguruan Muhammadiyah Kabupaten Merauke. 
 
Kegiatan Tabligh Akbar tersebut digelar mengambil dua tema besar Muktamar Makassar yaitu : “Muhammadiyah Sebarluaskan Islam di Indonesia Yang Berkemajuan” dan juga “Gerakan Perempuan Muslim Untuk Mencerahkan Bangsa” ini disambut dengan penuh rasa optimis seluruh elemen dan aktivis serta simpatisan Persyarikatan di kabupaten paling ujung timur Indonesia ini. 
 
Acara dihadiri oleh sesepuh, pengurus dan anggota serta simpatisan Muhammadiyah. Tak ketinggalan seluruh ortom dan jamaah masjid Tempatan Merauke juga memenuhi area Tabligh Akbar. Peserta Tabligh Akbar diperkirakan dihadiri oleh 500an peserta. Hadir juga tamu undangan dari pihak pemerintah daerah (PEMDA) setempat. 
Ibu-Ibu Aisyiyah

Bapak – Bapak Muhamadiyah


Kegiatan dahului dengan pembacaan kalam illahi oleh ustad Jamaludin, dilanjutkan dengan sambutan ketua PDM Kabupaten Merauke bapak Beni Malik, M.Pd. yang dalam sambutannya mengatakan agar segenap pengurus senantiasa bersinergi bersama untuk memajukan gerakan dakwah Muhammadiyah khususnya di Merauke. Ia pun mengatakan semoga selepas tabligh pemahaman tentang Islam bertambah serta bisa memancing kembali ghirah dalam berlomba-lomba menanam kebaikan pada Persyarikatan.


Kegiatan inti dari Tabligh Akbar ini adalah ceramah oleh bapak ustad Surindi Abu Hafidz, M.Si. yang juga sekaligus sebagai salah satu pimpinan pada PWM Papua. dalam taushiyahnya beliau menyatakan agar segenap hadirin senantiasa meningkatkan ukhuwah. Umat Islam adalah umat yang senantiasa menjaga toleransi, walaupun indonesia mayoritas muslim namun kemajemukan itu adalah sunatullah. Oleh karena itu perbedaan bukanlah sarana utuk tidak dapat bersatu. Lebih lanjut disampaikan juga bahwa hendaknya Muhammadiyah tidak terpancing akan isu-isu yang masih belum jelas. Sebagaimana yang baru saja terjadi adanya insiden Tolikara hendaknya disikapi dengan ‘kepala dingin’ dan ini sudah dibuktikan dengan langkah PWM Papua melakukan Penggalangan Dana untuk membangun kembali Masjid al-Muttaqin Tolikara tanpa memandang dari ormas mana pengurus masjid Tolikara tersebut. (ary/spn/sp)