Posisi Hilal Kritis, Pemerintah Diprediksi Gamang Tentukan 1 Syawal


JAKARTA — Pengamat Astronomi dan Hisab Rukyat, Agus Mustofa
mengatakan pada tahun ini penetapan satu syawal kemungkinan besar akan
mengalami perbedaan antara masing-masing kelompok ormas.

Ia menjelaskan, berdasarkan data ilmu astronomi, pada saat pelaksaan
sidang itsbat yang akan dilaksanakan pada tanggal 16 Juli nanti, saat
magrib ketinggian hilal di ufuk barat adalah 2,5 derajat. “Insya Allah
akan berbeda. 90 persen lebih berbeda,” ujar Agus Mustofa
Ia mengatakan, jika pemerintah konsisten pada metode perhitungan
imkanur rukyat MABIMS maka pemerintah akan menentukan tanggal 17 Juli
sebagai satu syawal. Ini dikarenakan kriteria minimum imkanur rukyat
MABIMS yakni ketinggian hilal di ufuk barat minimal dua derajat. Itu
artinya sudah melewati batas kriteria minimal.
Namun, jika pemerintah juga menggunakan rukhyatul hilal maka posisi
hilal tidak akan terlihat. Ini dikarenakan, untuk melakukan rukyatul
hilal ketinggian hilal di ufuk barat haruslah di atas empat derajat.
Menurutnya, pemerintah saat ini sedang dalam posisi kebingunan. Ini
dikarenakan secara perhitungan hisab sudah masuk satu syawal namun
secara rukyat belum masuk. Selain itu, kebingunan pemerintah juga
dikarenakan ormas PBNU tetap akan mengguanakan metode rukyatul hilal.
Menurut PBNU hisab tanpa rukyat maka belum terbukti kebenarannya.
Padahal dengan metode ini sudah pasti satu syawal akan jatuh pada
tanggal 18 juli atau berbeda dengan ormas muhammdiyah. Untuk itu,
keputusan penuh akan bergantung pada keputusan politis menteri agama
dalam sidang itsbat yang akan dilaksanakan tertutup nanti.
Jika pemerintah konsisten menggunakan kriteria imkanur rukyat MABIMS
maka pemerintah akan mentepakan satu syawal pada tanggal 17 Juli. Namun
jika pemerintah juga menggunakan merode rukyatul hilal maka lebaran akan
jatuh pada tanggal 18 Juli.(rep/sp)