Mengenal Ragam Kalender Islam Indonesia ( Muhammadiyah, NU, Persis dan Kemenag )

Indonesia sebagai negara yang mayoritas berpenduduk muslim, memiliki beragam kalender Islam yang berkembang di masyarakat. Hal ini merupakan keunikan sekaligus tantangan bagi upaya penyatuan kalender Islam di Indonesia. Oleh karena itutulisan ini ingin melihat ulang bagaimana sistem dan kriteria yang digunakan dalam menyusun kalender Islam dengan memfokuskan pada empat kalender, yaitu kalender Muhammadiyah, Almanak PB NU, Taqwim Standar Indonesia Kementerian Agama RI, dan Almanak Islam PERSIS.

Tulisan ini akan menjadikan kalender yang terbit pada tahun 2014/1435 sebagai objek kajian. Meskipun demikian kalender-kalender yang terbit sebelum dan sesudahnya juga tidak dapat dipisahkan dalam rangka memahami sistem dan kriteria yang dikembangkan.

Kalender Muhammadiyah

Kalender ini disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang mulai dirintis oleh K.H. Ahmad Dahlan sejak tahun 1915. Pada periode awal yang melakukan perhitungan adalah K.H. Siradj Dahlan dan K.H. Ahmad Badawi. Di dalam kalender Muhammadiyah terdapat tiga macam kalender yaitu kalender Masehi, kalender Hijriah, dan kalender Jawa Islam. Setiap bulan ditampilkan data ijtimak dan posisi hilal. Selain itu juga dicantumkan jadwal waktu salat disertai jadwal konversi, arah kiblat, matahari melintasi Kakbah, dan peristiwa gerhana.

Sistem yang digunakan untuk menentukan awal bulan kamariah mengalami perkembangan sesuai tuntutan zaman. Mula-mula menggunakan imkanur rukyat. Setelah itu beralih pada ijtimak qabla al-ghurub. Sejak tahun 1938 menggunakan wujudulhilal sebagai upaya keseimbangan dan moderasi antara imkanur rukyat dan ijtimak qabla al-ghurub. Karenanya bagi teori wujudul hilal metode yang dibangun dalam memulai tanggal satu bulan baru pada kalender hijriah tidak semata-mata proses terjadinya ijtimak (konjungsi). Tetapi juga mempertimbangkan posisi hilal saat terbenam matahari (sunset).

Dalam praktiknya wujudul hilal digunakan secara konsisten sejak bulan Muharam sampai Zulhijah dengan markaz kota Yogyakarta ketika melakukan proses perhitungan. Sebagai sebuah bangunan teori wujudul hilal tidak lepas dengan kritik baik dari dalam maupun luar, khususnya ketika posisi hilal sangat kritis.
Pada tahun 2002 Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga mengeluarkan surat edaran No. 15/EDR/1.0/E/2002 yang menyebutkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan bahwa hari Raya Idul Fitri 1423 H jatuh pada hari Kamis 5 Desember 2002. Namun, dalam praktiknya Muhammadiyah memberikan “kebebasan” kepada warganya di bagian Timur untuk mengikuti keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah atau keputusan Pemerintah dengan memperhatikan aspek kemaslahatan bagi daerah setempat”. Bagi para pengkaji studi kalender Islam keadaan ini dianggap sebagai salah satu kelemahan teori wujudul hilal. Menyadari kondisi tersebut internal pengguna wujudul hilal melakukan kajian ulang puncaknya pada Munas Tarjih ke-27 di Universitas Muhammadiyah Malang pada tanggal 16-19 Rabiul akhir 1431/ 1-4April 2010.Pada Munas ini muncul gagasan “wujudul hilal nasional” sebagai upaya menyelesaikan problem internal organisasi. Oleh karena itu komisi III tentang Pedoman Hisab Muhammadiyah dalam Munas Tarjih tersebut memutuskan agar draft naskah Pedoman Hisab Muhammadiyah halaman 78 tentang kriteria awal bulan poin (3) disempurnakan yang semula tertulis “pada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud)”  menjadi “pada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud) di seluruh Indonesia”. Dengan rumusan baru ini diharapkan problem internal pengguna wujudul hilal dapat diselesaikan dan keutuhan dapat terwujud.

Sehingga susunan kalender Muhammadiyah 2014/1435 adalah Muharam = 29, Safar – 30, Rabiul awal = 29, Rabiul akhir = 30, Jumadil awal =29, Jumadil akhir = 29, Rajab = 30, Syakban = 29, Ramadan = 30, Syawal = 30, Zulkaidah = 29, dan Zulhijah = 30.

Almanak PB NU

Kalender ini disusun oleh Tim Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Dalam dokumen resmi NU tidak diketahui kapan Almanak PB NU pertama kali diterbitkan. Pada awalnya Almanak PB NU sangat dipengaruhi oleh hasil perhitungan para ahli falak, seperti K.H. Mahfudz Anwar, K.H. Turoihan Ajhuri, dan K.H. Noor Ahmad. Selanjutnya sejak terbentuknya Lajnah Falakiyah PB NU sistem yang digunakan dalam pembuatan kalender adalah menggabungkan hasil perhitungan dari berbagai sistem yang berkembang di lingkungan NU, setelah itu dibagi sesuai jumlah sistem yang digunakan.

Hasil penyerasian hisab ini selain digunakan pedoman dalam pembuatan kalender juga dijadikan acuan dalam pelaksanaan rukyatul hilal. Secara umum materi yang terdapat pada Almanak PB NU hampir sama sepertikalender Muhammadiyah. Hanya saja markaz yang digunakan kota Jakarta dan setiap bulan tertulis kalimat “Penentuan awal bulan Qamariyah menunggu hasil rukyah”. Pada periode awal ukuran Almanak PB NU sama seperti kalender Muhammadiyah.Namun sejak beberapa tahun terakhir ukurannya lebih besar dan data posisi hilal setiap bulan diletakkan mengikuti model Muhammadiyah. Adapun kriteria yang digunakan dalam penentuan awal bulan kamariah adalah imkanur rukyah, kecuali bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah menunggu hasil rukyatul Hilal. Berdasarkan hasil hisab dan kriteria yang digunakan,  Almanak PB NU 2014/1435 menyebutkan Muharam =29, Safar – 30, Rabiul awal = 29, Rabiul akhir = 30, Jumadil awal = 29, Jumadilakhir = 30, Rajab = 29, Syakban = 30, Ramadan = 29, Syawal = 30, Zulkaidah =30, dan Zulhijah = 29.

Taqwim Standar Indonesia

Kalender ini disusun berdasarkan hasil data hisab dari Musyawarah Kerja Badan Hisab Rukyah Kemeterian Agama RI. Edisi perdana diterbitkan pada tahun 1990 oleh Direktorat Jenderal Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji dan sejak tahun 2007diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama RI. Pada halaman pertama ditampilkan data gerhana, daftar lintang danbujur kota-kota di Indonesia, dan cara penggunaan jadwal waktu salat. Taqwim Standar Indonesia hanya terdiri dua kalender yaitu kalender Masehi dan kalenderHijriah disetai gambar garis ketinggian hilal setiap bulan tanpa data posisi hilal. Semula ukurannya sangat besar dan warna dasar putih. Namun pada  tahun 2014 ukurannya lebih kecil dan didominasi warna hijau.

Adapun kriteria yang digunakan dalam menentukan awal bulan kamariah adalah imkanur rukyat MABIMS. Khusus awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah menunggu hasil sidang isbat. Menurut hasil penelitian Sriyatin selama tahun 1990-2011 terjadi 3 kali inkonsistensi dalam penggunaan teori imkanur rukyat, yaitu pada masa Munawir Sjadzali ( Awal Syawal 1410), Muhammad TolchahHasan (1 Zulhijah 1421), dan Said Agil Husin al-Munawwar (1 Zulhijah 1422).Selanjutnya Sriyatin menyatakan berdasarkan data hasil perhitungan hisabtahun-tahun dimaksud dimungkinkan terjadi perbedaan karena posisi hilal saatmatahari terbenam belum memenuhi teori Imkanur Rukyat MABIMS. Artinya posisihilal masih di bawah 2 derajat saat terbenam matahari, namun demi persatuan dan ukhuwah islamiyah laporan hasil rukyat pada saat itu diterima dalam sidang isbat. Kejadian ini mengesankan bahwa laporan rukyat bisa “diatur” untukmencapai tujuan tertentu yang kemudian diistilahkan ru’yah ghairu al-Mu’tabarah li al-Ittihad.

Kenyataan ini menjadikan Taqwim Standar Indonesia belum diakui di tingkat internasional karena dianggap belum mapan dan tidak konsisten dalam menggunakan teori imkanur rukyat dari Muharam sampai Zulhijah. Sesuai kriteria yang digunakan Taqwim Standar Indonesia dalam menentukan awal bulan kamariah maka susunannya pada kalender 2014/1435 yaitu Muharam = 29, Safar –30, Rabiul awal = 29, Rabiul akhir = 30, Jumadil awal = 29, Jumadil akhir = 30,Rajab = 29, Syakban = 30, Ramadan = 29, Syawal = 30, Zulkaidah = 30, danZ ulhijah = 29.

Almanak Islam PERSIS

Kalender ini  dikeluarkan  oleh Dewan Hisbah PERSIS. Pada awalnya Almanak Islam dibuat oleh perorangan, yaitu K.H.E Abdurrahman ketika itu beliau menjadi Ketua Umum PERSIS hasil referendum tahun 1962 di Bandung. Selanjutnya K.H.E Abdurrahman dibantu oleh ustadz A. Ghazali salah seorang muridnya dan sejak tahun 1970 an tugas pembuatan Almanak diserahkan kepada ustadz A.Ghazali.

Dalam pembuatan almanak kitab yang dijadikan rujukan utama adalah kitab “Sullam an-Nayyirain” karya Muhammad Manshur bin AbdulHamid. Kemudian dalam perkembangannya mengadopsi beberapa kitab falak lain sebagai pembanding, seperti kitab Fathuar-Rauf al-Mannan karya Abu Hamdan Abd Jalil bin Abd al-Hamid dan al-Khulasah al-Wafiyah karya Zubair Umaral-Jaylani.

Sementara itu kriteria yang digunakan dalam menentukanawal bulan kamariah hampir sama dengan sistem yang dikembangkan Muhammadiyah.Perbedaan terletak pada urutan penggunaannya. Perjalanan Muhammadiyah dalam menggunakan kriteria untuk menentukan awal bulan kamariah, yaitu (1) imkanu rrukyat, (2) ijtimak qabla al-ghurub, dan (3) wujudul hilal, sedangkan kriteria yang digunakan PERSIS adalah (1) ijtimak qabla al-Ghurub, (2) wujudul hilal,dan (3) imkanur rukyat. PERSIS mulai menggunakan wujudul hilal sejak tahun 1996 dan mulai tahun 2002 beralih pada kriteria imkanur rukyat MABIMS.

Menurut penuturan Sutrisno Muliansyah (Dewan Hisab danRukyat PP. PERSIS), sebenarnya PERSIS lebih cenderung menggunakan hisab  wujudul hilal dari pada imkanur rukyat. Baginya wujudul hilal merupakan metode yang sangat sesuai untuk penetapan tanggal baru. Metode imkanur rukyat MABIMS digunakan PERSIS selama sepuluh tahun. Selanjutnya pada tahun 2012 Dewan Hisab dan Rukyat dengan Dewan Hisbah memutuskan bahwa kriteria imkanur rukyat harus didasarkan pada prinsip visibilitashilal yang ilmiah, teruji, dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena visibilitas hilal harus memenuhi syarat-syarat yaitu (1) beda tinggi antara bulan dan matahari minimal 4 derajat dan (2) jarak sudut (elongasi) antara bulan dan matahari minimal 6,4 derajat. Teori ini diadopsi dari “Kriteria HisabRukyat Indonesia” yang dikembangkan T. Djamaluddin. Berdasarkan teori ini maka Almanak Islam PERSIS tahun 2014/1435 terdiri Muharam = 30, Safar = 29, Rabiulawal = 29, Rabiul akhir = 30, Jumadil awal = 29, Jumadil akhir = 30, Rajab =29, Syakban = 30, Ramadan = 29, Syawal = 30, Zulkaidah = 30, dan Zulhijah = 30.

Memperhatikan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kriteria yang digunakan dalam pembuatan kalender Islam di Indonesia meliputi wujudul hilal, visibilitas hilal, dan rukyatul hilal. Lalu bagaimana mempertautkan kriteria-kriteria tersebut menuju persatuan? Sebagai sebuah produk ijtihad tentu saja disadari bahwa perubahan dan inovasi dalam mencari solusi untuk mewujudkan persatuan dalam penentuan awal bulan kamariah merupakan sebuah keniscayaan. Meskipun demikian perlu dipertimbangkan aspek kemaslahatan terkait perubahan yang dilakukan. Jika perubahan hanya merujuk pada aspek teoritis maka akan berbenturan pada wilayah empiris.

Hal ini nampak pada kasus jumlah hari pada Almanak Islam 1435 di atas dan awal Syawal 1436 nanti. Data hisab awal Syawal 1436 yang tertera dalam kalender Muhammadiyah menunjukkan ijtimak terjadi pada hari Kamis 16 Juli 2015 pukul 08.26.29 WIB tinggi hilal di Yogyakarta + 03 derajat 03menit 22 detik (hilal sudah wujud. Awal Syawal jatuh pada hari Jum’at 17 Juli2015. Dalam Almanak PB NU dan Taqwim Standar Indonesia data posisi hilal hampir sama dengan kalender Muhammadiyah. Keduanya menetapkan awal Syawal 1436 jatuh pada hari Jum’at 17 Juli 2015 meskipun tetap menunggu hasil rukyatul hilal dan sidang isbat. Dalam catatan sejarah jika hasil hisab memenuhi kriteria imkanur rukyat MABIMS maka ada laporan keberhasilan melihat hilal. Artinya lebaran akan dilaksanakan secara bersama-sama (Muhammadiyah, NU, dan Pemerintah).

Sementara itu data hisab awal Syawal 1436 yang tertera dalam Almanak Islam PERSIS menyebutkan ijtimak akhir Ramadan 1436 terjadi pada hari Kamis 16 Juli 2015, pukul 8.24 WIB saat Magrib di Pelabuhan Ratu beda tinggi Bulan-Matahari 3 derajat 28 menit 04 detik dan jarak sudut Bulan-Matahari 5 derajat 55 menit 23 detik. Kamis 16 Juli 2015 saat Magrib (malam Jum’at) diwilayah Indonesia hilal belum memenuhi kriteria imkanur rukyat maka awal Syawal1436 ditetapkan Sabtu, 18 Juli 2015. Jika PERSIS tetap dengan keputusan tersebut maka Idul Fitri 1436 nanti akan terjadi perbedaan antara PERSIS dengan Pemerintah dan 0rmas-ormas yang lain.

Kasus di atas menunjukkan  bahwa perubahan dan pilihan teori yang dilakukan PERSIS tidak “maslahah” karena semakin menjauhkan dari pihak- (Muhammadiyah, NU, dan Pemerintah) dan teori yang digunakan juga belum didukung bukti autentik. Artinya jika PERSIS masih konsisten dengan imkanur rukyat MABIMS maka kebersamaan dapat terwujud. Roni Tabrani (Republika, 2013) menganggap teori T.Djamaluddin, bukannya memberikan solusi melainkan malah menimbulkan perbedaan mendalam. Dengan kata lain “kriteria hisab rukyat Indonesia” yang dikembangkanT. Djamaluddin belum bisa dijadikan alat pemersatu. Wa Allahu A’lam bias-Sawab.


Sumber Bacaan

Almanak Islam PERSIS 2014 dan 2015
Almanak PB NU 2014 dan 2015
Berita Resmi Muhammadiyah 2014
Kalender Muhammadiyah 2014 dan 2015
King, David A.”IbnYunus on Lunar Crescent Visibility”, dimuat dalam Journal for theHistory of Astronomy, 19, 1988.
Musthafa Ibrahim Musthafa. Mawsu’ah Duwal al-‘Alam, cet. 1, Mesir : Dar al-Ghad al-Gadid,2002.
Rizvi,Sayyid Samad Husain.”Al-Biruni’s Criterion for the Visibility of the LunarCrescent”, dimuat dalam Hamdard Islamicus, Vol. XIV/ Number I/Spring 1991.
Taqwim Standar Indonesia 2014
T. Djamaluddin. AstronomiIslam Memberi Solusi Penyatuan Ummat, LAPAN, 2011.

Bukit Angkasa,  4Jumadil akhir 1436/25 Maret 2015, pukul 03.00 WIB

Oleh
Susiknan Azhari
( Majelis Tarjih Tajdid PP Muhammadiyah)