Membangun Indonesia Berkemajuan Dalam Bingkai Gerakan Ilmu Pengetahuan

Oleh: Ahmad Hanif Firdaus (*)

Agustus ini, Persyarikatan Muhammadiyah menggelar hajatan akbar 5 tahunan yang bertempat di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Tema besar yang diusung Muhammadiyah dalam gelaran Muktamar yang tahun ini memasuki edisi ke-47 adalah “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”. Tema yang menjadi penanda kepedulian Muhammadiah terhadap nasib bangsa tempatnya lahir dan kemudian berkembang hingga sampai saat ini. Tahun 2015 ini Muhammadiyah akan genap berusia 103 tahun pada 18 November nanti sedang Indonesia akan merayakan hari pembebasannya yang ke-70 pada 17 Agustus esok. 
Meski terlahir mendahului Indonesia dan telah terlibat aktif dalam perjuangan merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, Muhammadiyah tak lantas jumawa dan membusungkan dada walau terkadang sikap para penguasa seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Muhammadiyah melandaskan segala perjuangannya lillahi ta’ala sebagai wujud panggilan jiwa dan perintah agama. Muhammadiyah sejak awal berdiri sampai kini tetap setia kepada NKRI dan turut serta secara proaktif dalam membangun bangsa dari segala lini.  Sikap proaktif Muhammadiyah terkini tercermin dari tema besar Muktamar yang diangkat. Muhammadiyah diharapkan dapat memberikan At Tanwir (Pencerahan) kepada bangsa hingga menuju Indonesia yang berkemajuan di segala bidang dan menjadi penentu peradaban dunia dan menjadi kebangaan warga negaranya. Diakui atau tidak Indonesia kini masih tertinggal beberapa langkah di belakang negara-negara lainnya dalam lingkup regional maupun global. 
Layaknya sebuah perlombaan lari jarak jauh, ketertinggalan baru bisa berubah menjadi kemenangan jika kita melaju jauh lebih cepat dari para pesaing, berjuang lebih keras dari yang lain, dan menerapkan strategi yang lebih tepat dari yang lain. Indonesia kini membutuhkan itu semua guna mengejar ketertinggalan lalu berkompetisi menuju kemenangan dan bisa menjadi yang terbaik (Fastabiqul Khairat). Anak bangsa; siapapun mereka, apapun suku, agama, dan asalnya haruslah seiya sekata mengusung dan mendukung visi bersama memajukan Indonesia dan sebagai tanggung jawab kebangsaan Muhammadiyah harus siap menjadi garda terdepan dalam tugas mulia ini. 
Kata “berkemajuan” (kata dasar: maju) secara sederhana bisa didefinisikan sebagai suatu keadaan yang bertambah baik dari keadaan sebelumnya, atau perubahan posisi/kedudukan ke arah depan/sumbu positif.  Muhammadyah sebagai gerakan islam amar ma’ruf nahi munkar tentu dalam merumuskan visi Indonesia berkemajuan ini diilhami dari pesan – pesan agama yang termaktub dalam Quran dan Sunnah.  Setidak – tidaknya visi “berkemajuan” selaras dengan pesan Rosulullah Muhammad yang bersabda bahwa beruntunglah orang-orang yang jika hari ini lebih baik dari hari kemarin serta rugilah bagi orang yang antara hari dan hari kemarin tidak ada kemajuan dan celakalah bagi yang lebih buruk dari hari kemarin.
 Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apa saja instrumen yang dibutuhkan untuk bisa menjadi maju dan berkemajuan? Jawaban sederhana yang bisa kami berikan adalah untuk bisa menjadi maju/berkemajuan/baik/membaik tidak serta merta terjadi dengan sendirinya, namun membutuhkan usaha/perjuangan yang gigih disertai niat dan kemauan yg kuat. Dalam disiplin ilmu fisika jika kita ingin mendorong/memindahkan/memajukan suatu benda dari posisi A ke B, kita membutuhkan usaha yang besarnya sebanding dengan gaya yang dikeluarkan dan jarak perpindahannya. Gaya sendiri sebanding dengan massa beban dan percepatan (Hukum Newton II). Kesimpulannya adalah semakin besar massa beban yang akan dipindahkan maka semakin besar gaya dan usaha yang dibutuhkan. Meletakkan visi Indonesia Berkemajuan berarti menuntut Muhammadiyah harus siap dengan usaha –usaha pencerahan yang diwujudkan dalam praksis gerakan, karena perubahan tidak akan terjadi tanpa ada kemauan dan perjuangan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. 13: 11)
Ciri khas Muhammadiyah adalah dimanapun berada maka akan senantiasa bergerak dan menggerakkan sumber daya disekitarnya, maka tak heran di mana ada Muhammadiyah di sana ada gerakan yang wujudnya beragam, mulai pengajian, bakti sosial, sampai berdirinya amal – amal usaha Muhammadiyah dari tingkat ranting sampai pusat, dari desa sampai kota, dari daerah pedalaman sampai kota metropolitan yang kesemuanya dipersembahkan untuk ummat dan bangsa. Maka benarlah anekdot bahwa “Muhammadiyah itu ya bergerak, kalau gak bergerak namanya Muhammadiyem”. 
Gerakan pencerahan Muhammadiyah dalam rangka menuju Indonesia berkemajuan haruslah bermuara dari gerakan ilmu pengetahuan, gerakan memberantas kebodohan dan kejumudan fikiran serta perbuatan. Dengan ilmu semua yang nampak sulit akan menjadi mudah, dengan ilmu yang akan tersesat akan selamat, dan dengan ilmu hidup akan lebih tertata, terarah dan lebih cerah. Lebih jauh karena ilmu itu mendahului perkataan dan perbuatan (Al ‘ilmu qobla qouli wal amali) dan terlarang bagi kita melakukan dan mengikuti sesuatu tanpa ilmu karena semuanya akan dimintakan pertanggung jawaban, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. 17: 36). 
Sejarah pun mencatat ketika masa kejayaan islam terjadi, basis ilmu pengetahuan memberi andil yang sangat besar, baik ilmu – ilmu agama maupun ilmu – ilmu umum. Ulama’ dan ilmuan muslim bertebaran jumlah dan karyanya, ummat islam menjadi ummat yang disegani dan mandiri. Namun kini kemunduran islam terjadi dikarenakan menjauhnya ummat dari ilmu pengetahuan (disamping agama tentu saja). Ketika dahulu kejayaan islam runtuh dan ummat dijauhkan dari ilmu pengetahuan dengan dimusnahkannya buku-buku karya Ulama’ dan ilmuan muslim oleh musuh islam, cara yang sama ditempuh oleh Belanda ketika menjajah Indonesia, mereka membatasi akses pendidikan bagi warga pribumi karena dikhawatirkan kelahiran kaum terdidik akan mengancam kehadiran mereka di bumi nusantara. Kini ummat islam dijauhkan dari agama dan ilmu pengetahuan dengan serbuan budaya dan paham liberalisme, sukulerisme, pluralisme, konsumerisme, hedonisme, pragmatisme, maupun –isme2 yang lain. 
Kelahiran kaum terdidik (ulama’/cendekiawan/intelektual/ilmuan/dst) adalah kunci ketika menginginkan kebangkitan dan kemajuan bangsa, tidakkah kita ingat kisah Jepang yang 2 kota besarnya porak poranda dihantam bom atom saat perang dunia? Konon pertanyaan pertama yang muncul dari pemimpin Jepang saat itu bukan berapa jumlah korban atau jumlah bangunan yang hancur, tapi  berapa jumlah guru yang masih tersisa karena mereka menyadari untuk segera bangkit mereka memerlukan sebanyak mungkin orang-orang terdidik dan ujung tombak pendidikan adalah adanya ketersediaan guru/pendidik. Hasil dari “gerakan ilmu pengetahuan” ala Jepang bisa kita lihat saat ini, mereka menjadi raksasa Asia dan unggul jauh dari kita, bangsa Indonesia. Bukankah negeri kita adalah negera muslim terbesar? Bukankah kita lah ummat terbaik itu sebagaimana yang disebutkan Allah dalam firman-Nya di QS. Ali Imron: 110?
Visi Indonesia berkemajuan adalah visi yang sangat mulia yang dirumuskan oleh Muhammadiyah, bukti cinta tak terhingga Muhammadiyah kepada Indonesia agar menjadi negeri yang berkemajuan, negeri  yang  indah, bersih suci dan makmur di bawah perlindungan Tuhan Yang Maha Pengampun (Baldhatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghofur). Doa kita bersama agar Muhammadiyah istiqomah menjadi lokomotif gerakan pencerahan berbasis ilmu pengetahuan lewat semua sumber daya yang dimilikinya. Trisula abad kedua yang sudah dirumuskan (LAZISMU, MDMC/LPB, MPM) yang akan melengkapi tisula abad pertama (Schooling, Feeding, dan Healing) semoga bisa menjadi media dan fasilitator kelahiran kaum terdidik berikutnya sehingga ciita-cita menuju Indonesia berkemajuan bisa segera terealisasikan. 
Sebagai penutup, kami mengucapkan selamat dan sukses Muktamar ke-47  Muhammadiyah dan Muktamar 1 Abad Aisyiyah di Makassar, semoga berkat rahmat illahi melimpahi perjuangan kita semua, Aamiin.
Billahi Fi Sabilil Haq,
Fastabiqul Khairat

Lamongan, 27/07/2015
01:32 WIB

*) Ahmad Hanif Firdaus, (adhandaus@gmail.com)
Dosen FT Universitas Muhammadiyah Surabaya
Anggota FOKAL IMM Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur
Koordinator Majelis Infokom dan Humas PCI Muhammadiyah Taiwan