Intelektual Muhammadiyah Gelar Sarasehan Indonesia Berkemajuan

JAKARTA – Silaturahmi  Intelektual Muhammadiyah dalam bentuk sarasehan dengan tema “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan” digelar di Grand Sahid Jaya Hotel Jakarta pada Ahad (5/7). Sarasehan ini diawali dengan buka puasa bersama.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin mengatakan sarasehan ini bertujuan menghimpun berbagai pemikiran para intelektual Muhammadiyah untuk salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia ini.
“Selama ini banyak intelektual yang secara kultural berlatar belakang Muhammadiyah namun kurang terlibat dalam aktivitas Persyarikatan,” ujar Din dalam keterangan persnya sebelum sarasehan berlangsung.
Din mengatakan, sejumlah tokoh intelektual itu sendiri telah berkiprah di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan di berbagai lembaga negara atau non-negara, di antaranya Prof Dr Mochtar Pabotinggi, Prof Dr Anies Baswedan, Prof Dr Siti Zuhro, Dr Marwah Daud Ibrahim, Dr Andrinof Chaniago dan Prof Dr Jimly Asshiddiqie.
Selanjutnya ada juga Prof Dr Sri Edi Swasono, Prof Dr Dwikorita Karnawati, Dr Irman Gusman, Prof Dr Siti Nurbaya, Dr Zulkifli Hasan, Prof Dr Taufik Abdullah, Prof Dr Iskandar Zulkarnain, Prof Dr Azyumardi Azra, Prof Dr Didiek J Rachbini dan Prof Dr Ryaas Rasyid.
Juga ada Prof Dr Dewi Fortuna Anwar, Dr Hendri Saparini, Prof Dr Sylviana Murni, Prof Dr Ichlasul Amal, Prof Dr Sofian Effendi, Prof Dr Komarudin Hidayat dan Prof Dr Akhmaloka.
Menurut Din Syamsuddin, mereka ini adalah para alumni sekolah atau perguruan tinggi Muhammadiyah, berasal dari keluarga Muhammadiyah atau secara kultural dibesarkan dalam lingkungan Muhammadiyah.
“Karena mereka berada di luar struktur Muhammadiyah, maka pemikiran dan gagasan mereka kurang tertampung dalam langkah-langkah organisasi Muhammadiyah,” kata Din.
“Terlebih dalam waktu dekat ini Muhammadiyah akan menyelenggarakan Muktamar ke- 47 di Makasar dan sangat memerlukan pemikiran-pemikiran baru  untuk terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” tambah Din.
Panitia Sarasehan Intelektual Muhammadiyah Alpha Amirrachman, PhD yang juga Direktur Eksekutif Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) mengatakan bahwa perlu ada upaya menjalin menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan para intelektual Muhammadiyah kultural ini sehingga dapat menampung saran dan aspirasi mereka  untuk gerak dakwah Muhammadiyah.
Alpha menjelaskan bahwa sarasehan ini akan menjadi sarana komunikasi dalam menjaring pemikiran-pemikiran terbaik dari para intelektual Muhammadiyah dalam rangka menyongsong Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makasar. Bukannya tidak mungkin pada jangka panjang, pertemuan ini dapat menjadi embrio terbentuknya jaringan informal bagi kaum intelektual Muhammadiyah.
“Kita berharap sarasehan ini akan terus menumbuhkan tradisi berijtihad di kalangan Muhammadiyah, sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang membawa semangat Islam yang berkemajuan untuk melakukan pencerahan (tanwir) untuk mengatasi berbagai problem keummatan, kebangsaan dan kemanusiaan,” pungkas Alpha.
Guru Besar LIPI Siti Zuhro mengatakan bahwa intelektual Muhammadiyah diharapkan hadir memberi pencerahan dan merespon nilai-nilai yang berkembang mengingat Indonesia saat ini menghadapi kondisi tidak mudah dalam  konteks kebangsaan.
Sementara Guru Besar UI Chusnul Mariyah berkeyakinan bahwa kiprah intelektual Muhammadiyah, khususnya kalangan aktivis Aisyiyah, telah berkontribusi besar dengan berdirinya berbagai perguruan tinggi kesehatan Aisyiyah.
Guru Besar LIPI Mochtar Pabottingi menegaskan silaturahmi intelektual Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam mengubah image Islam yang selama ini ternodai oleh aksi-aksi kekerasan kelompok radikal.
“Ini perlu di-counter bahwa Islam sejatinya adalah agama  pencerah dan menjadi cahaya seperti kemajuan peradaban yang telah dicapai Islam pada abad ke-8,” tandas Moctar Pabotinggi. (sp/suarapembaharuan)