Ideologi Muhammadiyah dan Klaim Bahwa Kyai Dahlan itu NU

Akhir-akhir ini entah kenapa mulai disebarkan lagi klaim bahwa kyai Dahlan itu aslinya NU. Klaim ini dibuat berdasarkan kitab Fiqh Muhammadiyah tahun 1924 yang berbeda isinya dengan kitab Himpunan Putusan Tarjih. Hal ini mulai booming saat beberapa waktu yang lalu Ali Shodiqin membuat buku berjudul “Muhammadiyah itu NU”. Polemik tersebut mulai mereda di tengah hingar bingar pertarungan politik. Namun bulan Ramadhan kali ini, penulis melihat bahwa di banyak grup fb gencar dikampanyekan kembali mengenai persoalan ini. Oleh karena itu penulis merasa perlu mengulasnya kembali untuk menjernihkan pandangan kita mengenai persoalan ini.
Ada postingan menarik di grup fb Muhammadiyah Gerakan Islam Berkemadjoean dari Bu Diah Purnamasari Zuhair. Dalam postingannya Bu Diah meragukan otentisitas Kitab Fiqh tersebut dikarenakan belum ditemukan versi aslinya, hanya scanannya saja yang ada. Walaupun begitu penulis mencoba mengambil pahitnya saja bahwa kitab tersebut memang asli. Sambil menunggu hasil penyelidikan atas otentisitas kitab tersebut.
Penulis tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai sanggahan terhadap argumentasi-argumentasi yang beredar. Hal ini karena saat isu ini mulai booming penulis langsung membuat sanggahan yang bisa dibaca di sini: dulu dibenci dan di sini: mengenal Ahmad Dahlan. Kedua tulisan ini dan satu tulisan lain dibuat menjadi sebuah buku saku kecil yang kemudian disebarkan di Solo dan di Tanwir Samarinda.
Sebenarnya sangat disayangkan kalau isu ini terus menerus diulang-ulang oleh beberapa warga nadhdiyin sebagai legitimasi atas pemahaman mereka. Klaim bahwa KH. Ahmad Dahlan mengamalkan amalan-amalan NU seolah-olah menjadi alasan warga nahdiyin untuk melakukan “onani ideologis”. Toh kondisi sekarang sudah sangat jauh berbeda dengan 1 abad yang lalu dimana tantangan yang dihadapi kedua organisasi ini pun sudah berbeda dengan satu abad yang lalu.
Muhammadiyah memandang bahwa yang menjadi tantangan terbesar bangsa Indonesia hari ini adalah neo-kolonialisme. Yakni adanya kekhawatiran terjadi penjajahan model baru dengan lebih sistematis dibanding dengan masa pra-kemerdekaan. Hal ini melibatkan para politisi dan birokrat busuk yang menjual negaranya demi kepentingan pribadinya. Oleh karena itu Muhammadiyah melakukan gugatan terhadap undang-undang yang setelah dikaji merugikan negara dan bertentangan dengan konstitusi. Inilah yang disebut dengan jihad konstitusi. Gagasan dan usaha Muhammadiyah ini sangatlah progresif. Progresif kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah berkemajuan. Jadi Islam yang menjadi tema besar gerakan Muhammadiyah adalah Islam yang Berkemajuan.
Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdatul Ulama menganggap bahwa yang menjadi tantangan terbesar pada hari ini adalah ideologi ekstremisme yang didasari oleh faham wahabisme global. Mereka melakukan counter ideology dengan mengkampanyekan Islam Nusantara sebagai anti tesis dari “Islam Arab” yang menurut pandangan NU penuh dengan kekerasan sebagaimana konflik yang terjadi hari-hari ini. Walaupun banyak juga yang menentang, namun setidaknya NU berhasil membuat isu ini menjadi polemik se-jagad medsos. Termasuk kita yang sering juga membahas soal Islam Nusantara.
Di saat agenda Islam Berkemajuan dan Islam Nusantara menjadi tema besar dari dua ormas ini, maka rasanya sangat kurang kerjaan kalau kita masih membahas mengenai ke-NU-an Kyai Dahlan. Hal ini sebenarnya pembahasan yang sia-sia dan saya ulangi lagi hanya menjadi “onani ideologis” saja.
Saya sebenarnya faham kenapa ada saja orang yang usil membahas bahwa Kyai Dahlan itu NU. Hal ini dikarenakan ibadah yang diamalkan Muhammadiyah adalah ajaran wahabi. NU mempunyai dendam sejarah dengan wahabi karena pada masanya wahabi dinilai melakukan kekerasan dan penindasan terhadap para pengikut imam mazhab.
Mengenai hal tersebut, menurut saya wahabiyah sebagai faham agama adalah sebuah mazhab yang sah dalam Islam. Kemunculan ajaran purifikasi Islam adalah keniscayaan mengingat stagnasi pemikiran Islam pada masa itu. Walaupun begitu, penulis tetap berpendapat bahwa ajaran kekerasan seperti bom bunuh diri, perbudakan, pembantaian adalah sesuatu tidak dapat dibenarkan apapun mazhabnya. Begitu pula pengkafiran yang membabi buta adalah suatu hal yang terlarang sebagaimana hasil pembahasan Ijtimak Ulama di Tegal beberapa waktu yang lalu.
Lalu NU sebagai gerakan yang mengusung tema besar Islam Nusantara tentu menghargai kemajemukan termasuk kemajemukan dalam pemahaman keagamaan. Kemajemukan pemahaman keagamaan tentu termasuk faham wahhabiyah di dalamnya. Oleh karena itu sudah seharusnya para pengusung Islam Nusantara pun menghargai faham Islam yang bercorak puritan. Namun pada kenyataannya NU menghargai faham kemajemukan kecuali untuk wahhabiyah. Apa alasannya?
Alasannya menurut saya bukanlah semata-mata karena fahamnya yang dinilai menyimpang. Namun lagi-lagi ada dendam sejarah yang masih terus disimpan sampai sekarang. Dendam sejarah ini mengendap terus di alam bawah sadar sehingga muncul alergi yang berlebihan terhadap orang yang berfaham wahhabiyah. Mereka dendam karena makam para wali mereka dihancurkan, mereka dendam karena para ulama mereka dituduh musyrik dan kafir. Mereka dendam karena kekuasaan khilafah usmani direbut oleh Bani Saud.
Ada lagi yang membuat NU alergi dengan gerakan wahhabiyah, yakni wahabi dianggap suka membid’ah-bid’ahkan. Menurut saya perbedaan faham keagamaan apapun bentuknya pasti meniscayakan yang satu menuduh yang lain menyimpang. Misalnya Imam Syafii pernah menuduh Imam mazhab lain yang menggunakan istihsan sebagai membuat syariat baru. Lalu para pengikut mazhab maliki fanatik pernah mendoakan agar imam Syafii cepat mati agar ajaran imam malik tidak hilang. Nah, antar imam mazhab dan pendukungnya saja sudah saling tuduh menuduh seperti itu, ya wajar dalam faham wahhabiyah pun seperti itu. Yang penting adalah semua itu dilakukan dengan tidak meninggalkan akhlakul karimah dan ajaran Al Quran yang otentik. Hal ini berarti yang penting jangan sampai ada hate speech atau ancaman kekerasan fisik.
Nurcholis Madjid mengatakan bahwa kita jangan menuhankan sejarah, kata Al Quran sejarah hendaknya dijadikan pelajaran untuk hari esok. Umat Islam pernah punya sejarah perang salib dengan umat katolik, namun itu adalah masa lalu yang harus diambil pelajarannya sehingga jangan sampai terjadi lagi perang salib hari ini. Begitupun kawan-kawan NU pernah berkonflik dengan wahhabi pada masa lalu, maka sudahlah, kita ambil pelajarannya dan kita lakukan rekonsiliasi untuk membangun Indonesia dan dunia yang lebih baik. Jika Indonesia dan dunia kita berhasil bangun menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, maka tugas kekhalifahan kita berhasil. Namun jika kita malah membuat peperangan dan kerusakan di muka bumi, maka benar kata malaikat bahwa manusia itu man yufsidu fiihaa wa yasfiku dimaa’. (redaksi)