Wakil MDMC Muhammadiyah Ikut Dalam Konferensi Internasional Bahas Rohingnya

Kuala Lumpur – Pertemuan “International Conference” on Plight of The Rohingya Part II: “Crime Against Humanity” di Islamic Art Museum, Kuala Lumpur 12 June.
Acara yang diselenggarakan oleh Perdana Global Peace Foundation (PGPF) menghadirkan narasumber dari berbagai organisasi kemanusiaan dalam rangka menyampaikan padangan dan pemikiran terkait Rohingya serta keberatan atas tidak diakui Rohingya oleh Myanmar.
M. Abdoel Malik R., sebagai salah satu narasumber di konferensi tersebut menyampaikan “Kita tidak bisa terima sebutan “stateless” (orang yang tidak berwarganegara) bagi Rohingya, mereka (Rohingya) adalah etnis sah (legitimate) atas tanah mereka sendiri di Arakan atau sekarang dirubah dengan Rakhine State”, pernyataan wakil LPB/MDMC PP Muhammadiyah tersebut disambut bahagia oleh peserta konferensi ini.
“Kita di Islam ada konsep Hijrah sebagai suatu cara untuk menghindari mahabahaya serta berupaya membangun kekuatan ekonomi dan politik untuk sementara waktu. Seperti halnya sahabat hijrah ke Madinah dari Mekah karena ancaman dari penduduk setempat, tapi kemudian para sahabat merebut kembali Mekah setelah mempunyai kekuatan”.
Kehadiran Rohingya di Tanah Air Indonesia adalah ujian kemanusiaan bagi masyarakat Indonesia. Maka sisa waktu selama 11 bulan untuk mereka berada di Indonesia adalah masa khidmat masyarakat Indonesia khususnya Aceh sebagai Ansor bagi Rohingya. Memberi pelayanan dan memperkuat Rohingya dalam ilmu bahasa Inggris dan Arab, agar mereka nantinya bisa advokasikan diri mereka dikemudian hari.”
“Ada persoalan ekonomi-politik di atas tanah Arakan, yang memiliki kekayaan alam minyak. Pertanyaan yang harus kita telesuri siapa “The Invisible Hand” atas konflik di tanah Arakan.” Dilanjut dalam paparannya.
Hal tersebut diperkuat oleh Mohamad Noor pemuda Rohingya, bahwa Cina telah berinvestasi penggalian-perolehan minyak di Arakan untuk 30 tahun lamanya, baik di daratan dan di laut.
Disisi lain, persoalan Rohingya di Tanah Air, Pemerintah Indonesia mengkhawatirkan konflik sosial yang kan terjadi. Sudah ada beberapa persoalan jauh sebelum kehadiran pengungsi baru Rohingya di Aceh. Menurut kemenlu, sudah ada 11,940 pengungsi yang tercatat dan berbagai negara, yang sudah setahun lebih berada di Indonesia. Di indikasi yang belum tercatat bisa melebihi 50 ribuan orang, baik dari Afghanistan, Bangladesh, Iran, Uzbekistan, dan lain-lainnya. (sangpencerah.id)