Thausyiah Ramadhan : Memahami Kesempurnaan Iman

Oleh: Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, MSi

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya dan orang yang menjauhkan diri dari yang tidak berguna dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri mereka dan budak belian yang mereka miliki; maka sesungguhnya dalam hal seperti itu tidak tercela. Barang siapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang yang memelihara amanat, memelihara janjinya dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah yang akan mewarisi surga firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Mukminun: 1-11).
Ayat di atas menjelaskan adanya relasi simbiosis antara iman (aqidah) dengan perilaku (amal) seorang manusia. Seorang mukmin akan khusyuk dalam shalat dan menjauhkan diri dari kehidupan yang sia-sia. Ia akan selalu meninggalkan perbuatan buruk dan melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya serta lingkungan sekitar. Rasulullah Saw., bersabda, “Dari kebaikan orang Islam adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” (Al-Hadits).
Oleh karena itu, tidak pantas bila seorang mukmin menyia-nyiakan waktu, masa muda, kesehatan, kekayaan, dan setiap peluang dalam hidupnya. Namun, tak sedikit dari kita menyia-nyiakan masa muda, karena salah mengartikan apa itu masa muda. Prinsip yang kurang benar “masa muda tidak akan kembali” dipegang kuat sehingga seluruh aktivitas hidupnyaa diisi dengan poya-poya dan melayangkan angan tak nyata.
Orang yang percaya penuh pada Allah, mereka akan senantiasa melaksanakan perintah-Nya, hidup hati-hati, menjaga shalat, membayar zakat, menjauhkan diri dari maksiat sehingga kehidupannya tetap terpelihara. Orang beriman sadar betul bahwa kehidupan ini sementara dan segala amal akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Karena itu, orang beriman selalu berprinsip keinginan dan nafsu syahwat itu kalau diperturutkan akan mengakibatkan kesengsaraan jasmani maupun rohani.
Orang yang imannya sempurna selalu memegang janji dan menjaga amanah yang dibebankan padanya. Hifdul Amanah (menjaga amanah) adalah salah satu pekerjaan mulia dan sulit. Banyak orang yang diberi amanah jabatan dan amanah kepercayaan, namun menghianatinya. Timbulnya krisis ekonomi yang menimpa suatu bangsa disebabkan kurangnya para pemimpin memelihara amanah yang diemban. Kondisi ini mengakibatkan banyak terjadi penyalahgunaan wewenang; korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi suatu kebiasaan, yang akhirnya menimbulkan krisis kepercayaan rakyat terhadap pemimpin.
Akhlak orang beriman akan selalu beerdampak baik bagi dirinya dan lingkungan sekitar. Ia selalu mengadakan hubungan baik dengan Allah, dengan sesama manusia dan dengan makhluk Allah seluruhnya. Ia juga selalu takut pada Allah. Ketakutan ini meerupakan ketakutan yang positif. Seperti yang tercermin di dalam firman-Nya, “Padahal Allah-lah yang berhak kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Attaubah:13).

Oleh karena itu, keimanan yang kuat harus dimilki siapa saja. Sebab, keimanaan bisa mengatur manusia untuk selalu mengisi kehidupan di muka bumi dengan segenap kebajikan. Keimaanan itu membuat orang-orang secara tulus dan ikhlas melakukan hubungan dengan sesama manusia berdasarkan kerangka ilahiah. Segala gerak hidupnya, baik dalam rangka bekerja atau berniaga, berpolitik atau memimpin dan juga bermuamalah, selalu merujuknya pada pembenaran iman pada Allah.
Wallahua’lam