Pengurus PP Muhammadiyah Bertemu Jokowi Usai Nikahan Gibran

PP Muhammadiyah mengundang Presiden Joko Widodo hadir sekaligus membuka Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar pada 3 Agustus mendatang. Untuk penutupannya, panitia muktamar meminta kesediaan Wapres Jusuf Kalla.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengemukakan bahwa dirinya sudah bertemu langsung dengan Wapres JK dan lantas diiyakan hadir menutup muktamar 7 Agustus nanti. Sementara audiensi dengan Presiden Jokowi baru bisa dilakukan setelah pernikahan putra sulung RI 1, Gibran Rakabumi digelar. 
“16 Juni baru ketemu pak presiden, kita yakin presiden datang. Kita mau menegaskan kembali sikap Muhammadiyah dan visi Indonesia berkemajuan,” kata Din saat konferensi pers di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (9/6).
Menurut Din, selain penegasan visi-misi Indonesia berkemajuan, Muhammadiyah juga akan menyampaikan pada Jokowi soal penegaskan Pancasila sebagai darul ‘ahdi wassyahadah (negara yang bersepakatan dengan Pancasila dan pembuktian kekuatan bersama untuk berkompetisi dengan negara lain). Selain itu, kepada Jokowi nanti, PP Muhammadiyah juga akan memperkenalkan konsep dakwah pencerahan yang membahasa isu-isu umat dan kemanusiaan serta fastabiqul khairat.
“Pesan kita nantinya juga untuk mendukung agar Indonesiai siap hadapi masalah dalam negerinya, termasuk masyarakat ekonomi ASEAN. Kita akan berikan wawasan Islam baru yang kompetitif untuk kemajuan bangsa,” urai Din. 
Dalam kesempatan tersebut, Muhammdiyah pun kembali menegaskan tidak akan memiliki hubungan organisatoris dan struktural dengan partai politik manapun. Dengan kekuasaan dan partai politik Muhammadiyah akan jaga jarak dan kedekatan.
“Kita tegaskan Muhammadiyah akan berjalan pada perjuangannya di tingkat kultural, berlandaskan moral dan budaya. Bukan politik,” jelasnya. 
Selain presiden dan wakil presiden, Muhammadiyah juga mengundang pengurus asosiasi muslim sedunia yang berasal dari Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, serta grand mufti dari Rusia, Polandia dan Kosovo. Selain itu, hadir juga pemimpin Moro Islamic Liberation Front (MILF) dari Filipina dan organisasi katolik berpengaruh di Geneva. (sp/rmol)