Menggagas Trisula Muhammadiyah Abad Ke-Dua

Pada hari Jumat (26/6) saya berkesempatan menghadiri acara buka bersama sekaligus tasyakkur milad Pak Hajriyanto Y. Thohari. Acara tersebut dilangsungkan di kediaman beliau dihadiri oleh kader-kader Muhammadiyah. Bagi yang belum kenal, Pak Hajriyanto adalah wakil ketua MPR 2009-2014 dari fraksi Partai Golkar. Walau pernah aktif dalam perpolitikan nasional, namun beliau menyatakan bahwa sekarang sudah mundur sepenuhnya dari dunia politik praktis. Sebelum menjadi politisi, Pak Hajriyanto merupakan aktifis ortom Muhammadiyah. Beliau tercatat pernah menjadi ketua PP. Pemuda Muhammadiyah.
Ada hal menarik yang beliau sampaikan saat acara tersebut, yakni mengenai trisula Muhammadiyah abad pertama dan kedua. Pada waktu Muhammadiyah didirikan, ada 3 aktivitas utama yang dilakukan Muhammadiyah, yakni feeding, schooling dan healing. 3 Aktivitas ini yang melahirkan amal-amal usaha Muhammadiyah. Dari feeding maka lahirlah panti asuhan. Dari schooling  maka lahirlah sekolah-sekolah. Dari healing maka lahirlah rumah sakit dan balai pengobatan. 3 Aktivitas ini Pak Hajriyanto menyebutnya trisula Muhammadiyah abad pertama.
Trisula abad pertama ini menurut Pak Hajri sudah sangat menjawab tantangan pada zamannya. Namun di abad kedua, civil society yang melakukan feeding, schooling dan healing tentu bukan hanya dilakukan Muhammadiyah. Oleh karenanya perlu ada pembaharuan trisula Muhammadiyah di abad ke-dua. Walaupun begitu, trisula Muhammadiyah abad pertama mesti tetap dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya.

Lantas apa trisula Muhammadiyah yang ditawarkan di abad kedua? Pak Hajriyanto menggagas, LAZISMU, Majelis Pemberdayaan Masyarakat dan Muhammadiyah Management Disaster Center (MDMC) sebagai trisula Muhammadiyah di abad ke-dua. Tiga komponen ini dapat disinergikan dan diharapkan bisa membuat Muhammadiyah memberi manfaat kepada masyarakat banyak. 

Mekanismenya adalah Majelis Pemberdayaan Masyarakat menjadi pihak yang melakukan praksis sosial dalam usaha-usaha profetik. Usaha profetik tersebut adalah pemberdayaan juga pemihakan terhadap kaum dhuafa dan mustadh’afin. Adapun MDMC bergerak dalam bidang kemanusiaan yang ada kaitannya dengan kebencanaan baik di dalam maupun luar negeri. LAZISMU sebagai pihak yang mengumpulkan dana untuk operasional MPM dan MDMC.
Trisula abad ke-dua yang ditawarkan Pak Hajriyanto sekilas sangat sesuai dengan teologi Al Maun KH. Ahmad Dahlan. Diharapkan jika trisula abad kedua ini berjalan maka Muhammadiyah tidak akan terjebak menjadi gerakan yang elitis namun mampu kembali mengemban misi profetik yakni membebaskan manusia dari syirik sosial.

Kontributor : Robby Karman