Home Opini IMMawati, Bukan Amanah yang Harus Dikurangi

IMMawati, Bukan Amanah yang Harus Dikurangi

By : Andi Eka Nur Wahyu
Tak ada yang lebih romantis dari sebuah kesadaran bahwa kebaikan-kebaikan yang terjadi dalam hidup kita adalah bentuk cinta Allah SWT terhadap diri kita. Tak ada yang lebih romantis dari sebuah keyakinan bahwa Allah SWT akan terus menerus menyeret kita pada lubang-lubang kebaikan saat niat kita adalah menemukan dan meneruskan kebaikan.
Nikmat persaudaraan adalah nikmat yang tak cukup sampai pada sebuah perbincangan. Ia perlu sebuah perlakuan khusus yang lebih dari sekadar perbincangan, yakni penghayatan. Persaudaraan yang terjalin atas dasar keimanan, ranum buahnya adalah cinta dan ketaatan. Persaudaraan mengenal siapa saja subjek pelakunya, sama seperti dakwah yang mengenal siapa penggiatnya.
Bilamana kita muak dengan melengkingnya teriakan, bentakan, cemooh, bicara di belakang, menjatuhkan, aroma kekuasaan, ejekan, gerutuan, persaingan dan lain sebagainya. Tutuplah mata dan telingamu sejenak. Tetaplah dengan dirimu. Tetaplah di rimu begitu. Tetaplah bersama ikatan. Tersenyum dan mengangkat kepala.
Jika ikatan ini mengikatmu, jangan biarkan ia lepas dari genggamanmu. Ikatlah mereka kembali! Dengan cinta, dengan kasih sayang, dengan kelembutan, seperti Rasulullah SAW.
Jangan menyerah, sebab mungkin itulah alasan mengapa Allah SWT menempatkan kita pada lkatan ini. Sebab mungkin Allah tengah menguji sejauh mana ketahanan kita. Sebab mungkin pada tangan-tangan kitalah izin Allah untuk menyentuh hati seseorang. Sebab mungkin kitalah yang dipilih-Nya.
Seorang yang beriman tak pernah kenal gentar, sekalipun ombak menyapu pada bibir-bibir pantai. Meski sesekali gemetar, tapi jauh di dalam hatinya selalu ada yang lebih bergetar jika mengingat nama-Nya disebutkan.
Tetaplah disana. Tetaplah bersama ikatan. Jiwamu baru saja Allah lepas pada luas samudera. Sebab sudah cukup giliranmu membersamai anak-anak sungai. Jangan menyerah!
Immawati, memang kewajiban berdakwah adalah kewajiban tiap-tiap individu. Tapi menuntaskan proyek besar dakwah hanya dapat diselesaikan melalui kerja jama’ah, bukan individu. Bukankah Allah cinta pada hamba yang senantiasa kokoh dalam barisan dakwah ?
IMMawati, dimanapun ladangnya, berbicara dakwah sama dengan berbicara kebaikan. Bukalah semua pintunya, Insya Allah Dia akan mendekatkanmu pada Jannah-Nya.
IMMawati, ketika langkah kaki tetap beriring bersama dalam jalan dakwah, maka tak ada kata lelah hijrah dan berjuang menggenggam tonggak istiqomah!
IMMawati, bukan amanah yang harus dikurangi, tapi pengorbanan yang harus dilebihkan. Semoga Allah selalu menguatkan kita dalam medan perjuangan ini.
IMMawati, ada istilah; Hidup itu antara menyambung nafas dari satu adzan ke adzan yang lain. Maka di sela waktu itulah disebut berjuang.
IMMawati, jadilah kalian bagai bunga mawar walau tangkainya berduri yang tumbuh ditepi jurang tapi hanya orang yang siap & memiliki keberanian yang siap memetiknya.
IMMawati, jadikan setiap harap agar tak berlebihan, agar setiap rasa selalu dalam kadarnya, dan agar tiap cita tetap terbingkai dalam niatnya.
IMMawati, dalam setiap degup, selalu tersembul harap. Degup letaknya di jantung, sedangkan harapan tersimpan di hati. Keduanya organ vital. Jaga baik-baik!
IMMawati, jadilah perempuan-perempuan yang di wajahnya terlihat surga!
Perpisahan sebetulnya hanya sekelumit kisah kecil, sekecil inti atom di dalam kisah hidup yang lainnya, tetapi melewatinya memang bukan perkara yang mudah. Satu kisah yang terangkai manis, tersusun rapi mewarnai dan membuat perjalanan yang berat ini terasa indah dan menyenangkan. Semua tersimpan rapi di hati. Semoga di surga kelak, kita dapat bercerita kembali tentang perjuangan dakwah ini.
Tetap jaga ukhuwah walau fisik berjauhan!
Billahi fii sabilil haq, Fastabiqul khaerat!
Penulis : Andi Eka Nur Wahyu
Editor   : Ilham Kamba

Penulis adalah aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Salah satu Mahasiswi Fakultas Kedokteran Prodi Fisioterapi semester IV Universitas Hasanuddin Makassar. 

“Tulisan ini merupakan titipan Tuhan lewat hati, akal dan penahku, hingga tulisan ini menjelma menjadi rangkaian kata pada 28 juni 2015”  Andi Eka Nur Wahyu