Hamburkan Rp 36 Triliun, AS Belum Bisa Kalahkan ISIS

Washington
– Amerika Serikat (AS) telah menghabiskan dana lebih dari US$2,7 miliar atau
sekitar Rp36 triliun selama perang dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah
(ISIS) sejak Agustus tahun lalu. Namun, AS dan koalisinya sampai saat ini belum
bisa mengalahkan ISIS.

Menurut Pentagon, biaya harian untuk menggempur ISIS rata-rata sebesar US$9
juta atau sekitar Rp119 miliar. Rincian biaya perang melawan kelompok radikal
di Irak dan Suriah itu untuk pertama kalinya dirilis Pentagon, Kamis lalu.

Pentagon menyatakan, Angkatan Udara AS telah menanggung dua pertiga dari total
pengeluaran, atau lebih dari US$1,8 miliar atau sekitar Rp24 triliun. Sedangkan
biaya operasi pesawat mata-mata dan yang lainnya menghabiskan lebih dari US$5
juta atau sekitar Rp66 miliar per hari.

Menurut AP, Sabtu (13/6/2015), rilis dari jumlah dana itu muncul ketika
diperdebatkan Kongres AS. Pihak Kongres memperdebatkan undang-undang soal
pengeluaran dana yang besar untuk operasi tempur. Mereka menolak UU itu sampai
parlemen mengesahkan resolusi kekuatan perang yang baru.

Biaya operasi militer AS membengkak sejak serangan udara dimulai di Irak pada
bulan Agustus 2014, dan kemudian diperluas ke Suriah beberapa bulan berikutnya.
Sebagian besar serangan telah diluncurkan di Irak oleh AS dan koalisinya untuk
membantu pasukan Irak merebut kembali wilayahnya dari tangan ISIS.

Selain dari Angkatan Udara, dana besar untuk memerangi ISIS juga dikeluarkan
untuk operasi Angkatan Laut AS sebesar US$ 438 juta. Sisanya untuk operasi
Angkatan Darat yang melatih pasukan Irak, untuk amunisi serta untuk operasi
intelijen.

Alih-alih AS dan koalisinya bisa mengalahkan ISIS, kelompok itu justru telah
merayakan satu tahun berdirinya “khilafah” ISIS. Kelompok yang dipimpin Abu
Bakar al-Baghdadi itu baru saja mempublikasikan video epik untuk menandai
setahun kelompok itu beraksi setelah merebut Mosul, Irak tahun lalu.

”Itu tak terpikirkan bahwa itu akan jauh lebih besar dari yang direncanakan,”
kata seorang narator dari video ISIS yang telah menyebar di media sosial.(sp/sindo)