Sejarah Otentifikasi Al-Qur’an ( Bagian 3 )

Oleh Fahmi Salim Zubair, MA

lanjutan bagian 2 

Pandangan Orientalis
Pada
umumnya pandangan mereka seputar pengumpulan Abu Bakar terkesan“minor”.
R. Blachere misalnya mempertanyakan apakah pengumpulan Abu Bakar itu
solusi bagi kecemasan ‘Umar? Sebenarnya, lanjut Blachere, masyarakat
membutuhkan kumpulan wahyu tertulis yang diakui otoritasnya. Tetapi
apakah itu yang dikehendaki suhuf Abu Bakar? Tidak,
karena suhuf-suhuf itu  milik pribadi Abu Bakar dan ‘Umar bukan dalam
kapasitas mereka sebagai kepala negara yang secara umum menunjukkan
bahwa khalifah pertama dan kawannya itu merasa inferior atau gengsi
alangkah baiknya kalau seorang kepala negara tidak lah lebih rendah
posisinya dari beberapa sahabat yang beruntung memiliki mushaf sendiri.
Oleh karena itu tidak ada dalam benak Abu Bakar dan ‘Umar membuat mushaf
acuan bagi kaum muslimin.
Kritikan
lain juga datang dari Richard Bell mengenai kumpulan resmi Al-Quran
yang menurutnya “mungkin kritikan paling berat” karena bentuk formal
demikian dapat diduga memiliki keabsahan formal yang dinisbatkan
kepadanya, tetapi bukti untuk hal ini tidak bisa kita temukan.
Kumpulan-kumpulan Al-Quran yang lain masih tetap dipandang absah di
berbagai daerah. Pertikaian yang mengarah kepada resensi Al-Quran di
masa Utsman mungkin tidak akan timbul jika waktu itu sudah ada naskah
resmi di tangan khalifah yang bisa dijadikan rujukan. Demikian pula,
gambaran tentang diri ‘Umar yang menegaskan bahwa ayat perajaman berasal
dari Al-Quran, terasa amat sulit untuk diselaraskan masalah
kepemilikannya atas kumpulan resmi Al-Quran yang berasal dari masa Abu
Bakar.
Mari
kita menjawab tuduhan-tuduhan miring tersebut dengan hati dan kepala
dingin. Analisis kaum orientalis terhadap upaya pengumpulan naskah
Al-Quran sangat beraroma penafsiran historis yang tidak pada tempatnya
dan memakai sandaran riwayat-riwayat yang lemah untuk mendukung tesis
yang mereka kemukakan. Analisis tersebut sangat rentan terhadap
kritikan. Banyak sekali pertanyaan historis sebagai umpan balik yang
dapat diajukan berkaitan dengan asumsi yang mereka kembangkan, sehingga
penafsiran yang bertumpu pada kritik historis menjadi sia-sia belaka.
Seandainya kumpulan Abu Bakar itu untuk kepentingan pribadi untuk apa
beliau repot-repot membentuk komisi pengumpulan dan menyuruh orang untuk
menyerahkan bahan-bahan naskah Al-Quran untuk diteliti komisi Zaid?
Jika suhuf Abu Bakar diangap kepemilikan pribadi mengapa beliau tidak
mengamanatkan ahli warisnya untuk menyimpan suhuf tersebut dan bahkan
mewariskannya kepada ‘Umar yang berarti kepemilikan itu resmi milik
negara?.
Kalau
toh kita mencurigai tindakan Umar yang menyerahkannya suhuf itu kepada
Hafshah sepeninggalnya dan bukan kepada Utsman yang berarti sifatnya
khusus. Kecurigaan tersebut tidak berdasar, karena berbeda dengan proses
pengangkatan ‘Umar sebagai khalifah yang melalui cara ta’yin, proses
pengangkatan Utsman dilakukan melalui proses musyawarah dalam sebuah tim
suksesi yang dibentuk oleh ‘Umar sebelum ia wafat. Sedangkan tuduhan
Abu Bakar berkoalisi dengan ‘Umar yang hanya memikirkan ego pribadi
serta tidak memperhatikan maslahat yang lebih besar. Secara logika, apa
sih harga sebuah naskah Al-Quran bagi seorang yang telah menghafalkannya
pada masa Rasulullah? Dan apa pula harga naskah tertulis pada saat
orang sangat mengandalkan dan mempercayai hafalan Al-Quran di luar
kepala? Kalau bukan demi kemaslahatan umat seluruhnya.
Kita
tidak menafikan adanya usaha-usaha individual  untuk mencatat Al-Quran
yang mendahului atau bahkan bersamaan dengan pengumpulan Abu Bakar,
tetapi perlu dicatat bahwa tujuan mereka bukan untuk pengumpulan resmi
tetapi sebatas sebagai pendukung hafalan yang mereka miliki. Yang
terjadi adalah ketika para sahabat mengetahui tim yang dibentuk oleh Abu
Bakar mereka berbondong-bondong memnyerahkan naskah yang ada pada
mereka untuk diteliti Zaid dan kawan-kawannya. Akan tetapi target kaum
orientalis hendak mengesankan bahwa pengumpulan Abu Bakar tersebut tidak
serius karena sifatnya yang pribadi sehingga menghilangkan
spesifikasi tawatur dalam usaha pengumpulan Abu Bakar.
Klaim
kebsahan mushaf-mushaf individual di berbagai daerah kekuasaan islam,
juga sangat lemah jika dihadapkan kepada fakta-fakta sejarah dan riwayat
yang otentik. Mushaf awwal yang resmi berbeda dengan mushaf-mushaf
individual dari aspek kesesuaiannya yang mutlak dengan teks wahyu yang
otentik sesuaimuraja’ah terakhir yang dilakukan Rasul dengan Jibril as.
pada tahun kewafatannya. Karena seperti yang pernah disnggung,
mushaf-mushaf lain terkadang ditulis berdasarkan hafalan yang tak jarang
berisi beberapa tafsiran ayat atau doa-doa ma’tsurseperti mushaf Ibnu
Mas’ud dan mushaf Ubay. Akan tetapi, meski memang harus diakui, menurut
M. Abdullah Diraz13, meski keutamaan mushaf Abu Bakar lebih tinggi,
pelestariannya yang hanya terbatas pada figur dua khalifah pertama,
telah sedikit banyak mengesankan sifat pribadi dan belum menjadi dokumen
resmi bagi khalayak umum sampai saatnya pembebasan Armenia pada masa
pemerintahan Khalifah Utsman. Oleh karena itu menilik sejarah penulisan
dan pengumpulan Al-Quran lebih erat hubungannya dengan memahami
tantangan-tantangan sosial yang dihadapi negara islam berikut cara
merespon tentang itu.14
Demikian
pula dengan klaim kontradiksi antara keyakinan sementara ‘Umar bahwa
ayat perajaman bagian dari Al-Quran dengan kepemilikannya atas mushaf
resmi yang berasal dari Abu Bakar, tidak memperhatikan hakikat ilmiah
yang diterapkan sahabat dalam usaha kompilasi Al-Quran. Karena ‘Umar
tidak berhasil menghadirkan dua saksi, Zaid menolak ntuk
mencantumkannya. Sehingga para ulama 15 menganggapnya sebagai
riwayatahad yang tidak bisa dibuktikan sebagai Al-Quran. Paling tidak
apa yang diyakini ‘Umar itu merupakan sunnah Nabi. Dari sana para pakar
menta’wilkan pernyataan ‘Umar:وكان فيما انزل عليه  tidak bertentangan
denganmafhum sunnah. Karena sebagaimana diyakini mayoritas ulama dan
umat islam bahwa Jibril as turun membawa wahyu berupa Sunnah di samping
Al-Quran. Sehingga stetemen Umar: والرجم في كتاب الله حق harus dipahami
dalam kontek bahwa perajaman adalah bagian tak terpisahkan dalam syariat
Allah, hukum dan ketentuanNya, atau bisa jadi statemen beliau merujuk
kepada ayat: أو يجعل الله لهن سبيلا , yang mana Sunnah telah menjelaskan
rinciannya yaitu mencambukghoiru mukhson dan merajam mukhson.  Di
samping itu terdapat bukti lain bahwa ‘Umar tidak meyakini
ayat assyaikhu wa al syaiikhotu sebagai Al-Quran. Ibnu Hamdawaih
meriwayatkan dengan sanadnya dari Hasan Al-Bishri dari ‘Umar ia berkata:
“Saya berniat mengundang beberapa sahabat muhajirin dan anshor yang
dikenal nama dan nasabnya untuk bersedia mencatat kesaksian mereka
dipinggir mushaf: “Inilah kesaksian ‘Umar bersama fulan dan fulan bahwa
Rasul pernah merajam pezina yang telah menikah. Karena saya cemas
orang-orang islam nanti mangkir dari hukum rajam karena mereka tidak
menemukan ketentuannya dalam Kitabullah”. Dalam riwayat lain Umar
berkata “Kalau tidak karena gunjingan orang bahwa saya menambah-nambahi
Al-Quran niscaya akan saya tulis (ayat rajam) di dalam mushaf”
Lagi
pula dalam pengamatan ulama, redaksi assaikhu wa al syaikhotu tidak
teliti sehingga mengaburkan keistimewaan bahasa Al-Quran
yang mu’jiz, karena redaksi ayat itu berarti “Kakek-kakek dan
nenek-nenek yang berzina” yang mengesankan bahwa hukum rajam
diperuntukkan bagi orang tua serta tidak menekankan muhson tidaknya
pelaku zina tersebut. Sehingga kontan redaksi tersebut mengundang
kritikan Zaid bin Tsabit: “Bukankah dua pasang muda yang telah menikah
juga dirajam?” 16. Dengan demikian gugurlah argumen-argumen yang
dikemukakan kalangan orientalis yang dengan sengaja hendak menebarkan
benih-benih keraguan seputar pengumulan Abu Bakar.
C. Kompilasi Al-Quran pada Masa Utsman ra
Penjelasan
tradisional tentang alasan yang menyebabkan diambil langkah selanjutnya
dalam menetapkan bentuk Al-Quran, menyiratkan bahwa perbedaan-perbedaan
serius qiroat terdapat dalam salinan-salinan Al-Quran yang ada pada
masa Utsman ra. di berbagai wilayah. Dikisahkan bahwa selama pengiriman
ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan, perselisihan tentang bacaan
Al-Quran muncul dikalangan tentara muslim yang direkrut dari Syiria
(mengacu kepadaqiroat Ubay) dan sebagian lagi dari Irak (mengacu
kepada qiroat Ibnu Mas’ud). Perse-lisihan ini muncul serius hingga
menyebabkan pimpinan tentara muslim, Hudzaifah mela-porkannya kepada
Khalifah Utsman yang mendesaknya agar mengambil langkah guna mengakhiri
perbedaan bacaan tersebut. Khalifah lalu berembug dengan sahabat senior
dan akhirnya menugaskan Zaid ibn Tsabit menyalin Al-Quran. Bersama Zaid
ditunjuk Abdullah ibn al-Zubair, Sa’id ibn al-‘Ash dan Abdurrahman ibn
al-Harits untuk menyalin naskah Abu Bakar ke dalam beberapa mushaf. Satu
perinsip yang harus mereka ikuti dalam menjalankan tugas ini adalah
bahwa dalam kasus kesulitan bacaan, dialek Quraisy harus dijadikan
pilihan.
Keseluruhan
Al-Quran direvisi dengan cermat dan dibandingkan dengansuhuf Abu Bakar
yang disimpan oleh Hafshah serta dikembalikan kepadanya ketika resensi
Al-Quran selesai dikerjakan. Dengan demikian suatau naskah otoritatif
Al-Quran telah ditetapkan. Sejumlah salinanya dibuat dan disebarkan ke
pusat-pusat utama daerah islam. Salinan-salinan Al-Quran yang ada
sebelumnya diperintahkan khalifah untuk dimusnahkan.
Dari informasi tersebut kita bisa menarik beberapa keterangan berharga, di antaranya:
a)      Bahwa
alasan utama dalam perintah penyalinan suhuf Abu Bakr kedalam beberapa
mushaf yang resmi dan teratur urutan ayat beserta suratnya sepreti
sekarang, adalah perbedaan dalam qiroat, sehingga tidak beralasan
pendapat R. Blachere yang mengatakan bahwa hal itu didorong oleh watak
Utsman yang aristokrat.17
b)      Panitia
yang ditugaskan menyalin naskah tersebut beranggotakan empat orang
sahabat senior. Inilah yang disepakati berdasar riwayat yang sahih.
Anehnya Ibnu Abi Dawud, penyusun kitab “Al-Mashahif” –karena
kegandrungannya menyebut aneka riwayat dalam satu tema walaupun tampak
kacau—menyebut panitia-panitia lain semisal “Panitia Dua” (terdiri dari
Zaid ibn Tsabit dan Sa’id ibn al-‘Ash) dan “Panitia Dua Belas” yang
menjadi bahan kritikan para orientalis semisal F. Schwally dan R.
Blachere.
Panitia
empat diatas mulai menyalin naskah pada tahun 25 H, dan bukan pada
tahun 30 H sebagaimana yang diyakini sarjana-sarjana barat dan sebagian
kecil sarjana muslim semisal Dr. Abdushshobur syahin.18 Karena menurut
bukti sejarah, pembebasan Armenia terjadi pada tahun 24 H sebagaimana
yang ditarjih oleh Ibn Hajar. Dengan demikian, pendapat R. Blachere
bahwa keikutsertaan Sa’id ibn al-‘Ash dalam panitia empat itu hanya
sebatas anggta kehormatan bukan teknis (karena ia telah menjadi wali
kota Kufah pada tahun 30 H), tidaklah benar. Dengan selesainya
penyalinan naskah asli, shuhuf Hafsah dikembalikan sedangkan
salinan-salinan baru tersebut telah dijilid dan disebarkan ke beberapa
daerah.
Dari
paparan di atas, akan timbul sebuah pertanyaan jika prakarsa Utsman
hanya sebatas menyalin maka kita tentu berhak bertanya akan arti
pentingnya penyalinan tesebut dari aspek bacaan. Nah untuk memahami
target kompilasi Ustman dengan baik kita akan  berbicara surut ke
belakang pada masa pengumpulan Abu Bakar yang kemudian diteruskan oleh
‘Umar yang mana pada saat itu belum dibutuhkan adanya  penyeragaman
naskah Al-Quran berikut sosialisasinya. Hal itu disebabkan oleh karena
pelancongan para sahabat penghafal Al-Quran ke daerah relatif terbatas
dan perselisihan dalam bacaan Al-Quran sebagaimana yang terjadi pada
masa Utsman, belum muncul. Maka tatkala perselisihan itu muncul
kepermukaan, Utsman yang didukung oleh para sahabat Nabi, berinisiatif
menyebarkan mushaf resmi dalam skala masif. Di samping itu tujuan lain
dari kompilasi Utsman telah terpenuhi dengan adanya penyeragaman bacaan
di antara sekian banyak qiroat yang banyak digunakan di daerah-daerah,
sehingga dapat mencegah terjadinya perpecahan yang mengancam integritas
umat. Artinya Utsman hanya meneruskan tradisi penyebaran teks Al-Quran
dengan dialek Quraisy yang telah dilakukan oleh Abu Bakr dan ‘Umar.19
           
Untuk
mendukung langkah-langkah ke arah itu, khalifah Utsman dikabarkan
mengutus beberapa pakar qira’at (muqri)beserta mushaf-mushaf resmi yang
telah disebarkan. Tercatat bahwa Zaid ibn Tsabit
sebagai muqri mushaf madani, Abdullah ibn al-Sa’ib  muqri mushaf makky, al-Mughiroh ibn Syihab al-Makhzumi muqri mushafsyamiy, Abu
Abdirrahman al-Sulami muqri kuffy  dan ‘Amir ibn Abdilqais muqri
bashriy. Selain itu beliau memerintahkan untuk membakar naskah-naskah
yang ditulis sebagian sahabat dan pengikutnya. Semuanya mematuhi
langkah-langkah tersebut kecuali Abdullah ibn Mas’ud.
Sikap Ibnu Mas’ud terhadap Kompilasi Utsman
           
Dikisahkan
bahwa Ibn Mas’ud menentang proyek Utsman  dengan menolak perintah
membakar mushafnya dan menyuruh para pengikutnya untuk tetap berpegang
teguh kepada mushafnya sambil berkata: “Bagaimana mungkin kalian
menyuruhku membaca qiraat Zaid. Ketika Zaid masih kecil bermain dengan
kawan sebayanya saya telah menghafal lebih dari tujuh puluh surah
langsung dari mulut Rasulullah. Demi Allah tidaklah wahyu turun kecuali
saya tahu dimana tempatnya, tiada yang lebih tahu mengenai Kitabullah
lebih dari diriku, wlaupun aku bukanlah yang terbak diantara kallian.
Sekiranya aku mengetahui ada seseorang yang lebih tahu mengenai
Kitabullah dariku, walaupun harus melalui perjalanan unta, niscaya akan
kutemui dia”. Dalam riwayat lain ia mengatakan: “Wahai segenap kaum
muslim, bagaimana mungkin saya disingkirkan dari panitia pengumpulan
yang diketuai oleh seorang yang demi Allah, ia masih dalam sulbi orang
kafir ketika saya memeluk islam”. Yang kesemuanya mengindikasikan adanya
bukti yang mencoreng konsensus para sahabat akan keabsahan naskah
tersebut. Yang ada hanyalah bahwa memang terdapat bacaan-bacaan tidak
resmi yang diyakini bersumber dari Nabi SAW. Dan tdak dikuatkan oleh
bukti fisik yang mendukung bacaan tersebut. Hal ini tetap dipelihara
tanpa harus mengalahkan bacaan-bacaan formal yang telah menjadi
konsensus.20
           
Ketersinggungan
Ibnu Mas’ud dan kemarahan beliau adalah wajar, karena beliau selain
sahabat senior yang disingkirkan dari kepanitian, juga dipaksa
menyerahkan mushafnya untuk dimusnahkan. Akan tetapi kemarahan sementara
itu tidak beralasan karena beliau sedang berada dalam tugas-tugas resmi
di Irak. Dan tidak mungkin menunda penuyalinan Al-Quran hanya untuk
menunggu kepulangannya. Sedangkan di kalangan sahabat di madinah masih
banyak yang memiliki dokumen-dokumen yang absah. Syukurlah kemudian
beliau merevisi sikapnya karena setelah tahu bahwa sikapnya itu
hanyalah Syubhat belaka dan Zaid tidak bekerja sendirian dalam komisi
tersebut melainkan dibantu sahabat-sahabat lain, beliau akhirnya merubah
sikap dan menyetujui langkah-langkah Utsman dengan tulus hati demi
menjaga keuthan umat. Dengan demikian berakhirlah kontroversi seputar
mushaf sehingga konon orang-orang ramai berkumpul ketika Utsman membakar
mushaf dan tidak ada di antara hadirin yang menentangnya, sebagaimana
diungkapkan oleh Mush’ab ibn Sa’dah.
           
Di antara beberapa spesifikasi pengumpulan Utsman adalah sebagai berikut:
1)      Ditulis dengan satu dialek saja yaitu dialek quraisy
2)      Hanya
menerima bacaan yang mutawatir dan diterima secara otentik pada
detik-detik akhir kehidupan Rasul. Yang artinya mengeliminir
bacaan ahad danmansukh tilawah
3)      Pengaturan nomor dan susunan surat seperti dikenal sekarang
4)      Menetralisir Al-Quran dari berbagai bentuk titik, baris dan tafsiran kosa-kata Al-Quran.
Meski
sering mendengar tuduhan kelompok syiah bahwa teks Al-Quran telah
mengalami distorsi terutama yang menyangkut Ali dan Ahl Bayt.
Bagaimanapun juga mushaf Utsmani merupakan satu-satunya naskah yang
beredar di dunia islam termasuk di kalangan syiah, sebagaimana pendapat
Abi Ja’far al-Umm yang mewakili sekte syiah imamiyah yang terkenal
paling radikal, yang mengatakan: “Keyakinan kami tentang Al-Quran yang
diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad adalah semua yang termuat dalam
naskah yang beredar, tak lebih dari itu yang jumlah surahnya mencapai
114 surah dalam hitungan umum walaupun menurut kami surat ad dhuha dan
al syarh merupakan satu surah demikian pula al fiil dan al quraisy, juga
al anfal dan al taubah. Oleh sebab itu, siapapun ang menisbatkan kepada
kami keyakinan bahwa Al-Quran lebih dari itu adalah pendusta”.Atas
dasar itu pula Sir William Muir dalam“The live of Muhammed” setelah
memperhatikan bahwa ada satu naskah otentik yang dipegang oleh
faksi-faksi islam yang berseteru, mengatakan bahwa penggunaan yang
kompak atas sebuah teks yang diterima semua pihak adalah argumen
terbesar bagi keotentikan Al-Quran.
Dengan
proyek unifikasi naskah Al-Quran, khalifah Utsman tidak bermaksud
seperti yang diyakini oleh sebagian orang, memberangus setiap perbedaan
bacaan Al-Quran yang di-tolelir oleh Nabi SAW. Kita tidak yakin Utsman
lebih konservatif dalam masalah ini. Bahkan mushaf beliau yang
berupa “kerangka konsonantal” (suatu bentuk teks ketika titik-titik
tertentu ditiadakan) menampung berbagai corak qira’at. Di samping itu,
beliau selalu menjelaskan bacaan-bacaan yang dikenal oleh teks pada
setiap kesempatan manarosm tidak mampu memuatnya, kecuali hanya satu
jenis bacaan. Misalnya kita melihat kata مسيطر   yang ditulis dengan سdi
atasnya diberi tanda huruf ص atau sebaliknya dan contoh-contoh lain
yang dapat dilihat dalam buku-buku qira’at. Hal itu tidak berarti
cetakan Utsmani, terlebih yang asli, menampung semua model qiroat yang
pernah diajarkan  Nabi yang kemudian poluler dengan Ahruf Sab’ah. Karena
cetakan tersebut selain mengandung secara ril bacaan-bacaan yang
disepakati sesuai ‘urdloh akhiroh’, juga menyingkirkan setiap model
bacaan ahadyang tidak memenuhi syarat tertentu.
           
Penyeleksian
tersebut tidak berarti membredel qiroat-qiroat yang ditransmisikan
melalui tradisi oral, karena dengan begitu akan membuka kesempatan bagi
setiap orang yang meyakini bacaan tertentu yang bersumber dari Rasul
secara bebas dan bertanggung jawab tanpa harus memaksa bacaannya kepada
orang banyak. Sikap yang moderat dan masuk akal ini, tampak jelas dari
jawaban Utsman kepada para pembangkangnya: “Adapun Al-Quran saya tidak
akan menghalangi kalian, hanya saja saya khawatir bila terjadi
perpecahan di antara kalian dan silahkan kalian membaca (Al-Quran)
dengan “harf” yang menurut kalian mudah”. Bahkan sampai sekarang, karena
kebebasan yang diberikan dan kebijaksanaan yang ambivalen
tersebut,qiroat-qiroat ahad masih terus dipelajari dipusat-pusat studi
Ahlussunnah dalam kapasitasnya sebagai hadits ahad bukan
Al-Quran.21 Dengan demikian jargon-jargon yang diprofokasikan kalangan
orientalis bahwa mushaf Utsmani hanyalah sebuah mushaf di antara sekian
banyak mushaf yang menyainginya karena sifatnya sebagai pendatang baru
yang strukturnya terasa asing dari naskah-naskah tua dan sengaja
dipaksakan sebagai basis utama karena “interfensi” Madinah, sama sekali
tidak berdasar.
Penyusun
kitab Al-Mashahifsebagaimana dikutip oleh M. Abdullah Darroz, mencium
adanya keraguan seputarqiroat-qiraat yang tidak resmi (tidak diakomodir
dalam naskah Utsmani) dari tiga aspek: [a] Keotentikan sanad, karena
tidak jarang sebagian qiroat-qiroat itu dicurigai telah memasukkan sanad
yang kuno agar memiiki pengaruh yang luas. [b]Penetapan sumber,
terbukti pada banyak kasus adanya kekacauan (idhtirab) dalam
menyandangkan sanad kepada perawinya. [c] Kesesuaian format, sehingga
amat sulit mengecek mana yang valid dari beberapa model bacaan yang
dinisbatkan  kepada seseorang qori . Contohnya adalah mushaf Ibnu
Mas’ud, seperti yang pernah diamati oleh Ibnu Ishaq dari beberapa naskah
mushaf tersebut, tidak ditemukan dua naskah yang sama persis. Demikian
pula Ibnu Nadim dalam Indeks (“fahrasat”)-nya bahwa ia melihat sebuah
salinan mushaf Ibnu Mas’ud yang terdapat di dalamnya
surat Al-Fatihah berbeda dengan keyakinan sementara orang bahwa beliau
tidak mencantumkannya dalam mushafnya.22
Fakta-fakta
di atas sengaja penulis kemukakan agar kita bertambah yakin bahwa
satu-satunya naskah Al-Quran yang otentik adalah naskah Utsmaniy yang
berasal dari kumpulan Abu Bakr ra. Dan naskah Abu Bakar itu pulalah yang
ditulis di hadapan dan atas perintah Nabi SAW. Dengan demikian
bukti-bukti sejarah telah bicara bahwa Al-Quran yang kita baca sekarang
ini adalah juga yang dibaca Rasul dan para sahabatnya.
Beberapa Keraguan Seputar Pengumpulan Al-Quran
Proses
pengumpulan dan penulisan Al-Quran bagi sementara kalangan orientalis
masih diliputi berbagai misteri dan syubhat di sekitarnya. Sebenarnya
keraguan mereka bukan barang baru, karena sebenarnya apa yang mereka
angkat telah disinggung oleh sarjana islam klasik dan telah dijawab
secara tuntas tanpa ada sedikitpun dalam benak mereka  bahwa apa yang
mereka lakukan itu digunakan sebagai senjata untuk menyerang dan
meruntuhkan otoritas Al-Quran. Tentu saja jawaban sarjana-sarjana kita
tidak digubris oleh mereka. Argumen-argumen yang mereka pakai pada
umumnya riwayat-riwayat yang tidak lolos seleksi dan walaupun ada
beberapa di antaranya yang akurat dan argumentatif, tetapi dalam
pandangan para pakar memiliki jalan keluar alternatif yang benar dan
dapat diterima, yang tentu saja mereka tidak peduli akan kepentingan
untuk memberikan solusi-solusi itu.
Al-Quran
kata mereka telah mengalami penambahan terbukti dengan tidak
dicantum-kannya surat al-Mu’awwidzatain dalam mushaf Ibnu Mas’ud yang
menurut sebuah riwayat, Ibnu Mas’ud hanya mengatakan Nabi SAW cuma
menyuruh kita untuk memohon perlindungan dengan al-Mu’awwidzatain.
Riwayat  tersebut menurut sarjana islam tidak benar dan diduga keras
palsu. Ibnu Hazm, sarjana besar islam asal Andalusia, mendustakan orang
yang menisbatkan perkataan tersebut kepada Ibnu Mas’ud, karena terbukti
dalam qiroat Imam ‘Ashaim yang berasal dari Ibnu Mas’ud terdapat bacaan
al-Muawwidzatain dan al-Fatihah. Sebaliknya, menurut mereka telah
terjadi pula kesengajaan menghapus beberapa bagian Al-Quran, karena
konon Ubay ibn Ka’ab menulis dua surah yang
dinamai Al-Khul’ dan Al-Hifd dalam mushafnya yang mana kedua surah tersebut berisi doa dengan redaksi berikut:
أللهم انا نستعينك ونستهديك ونستغفرك ونخلع ونترك من يفجرك ….أللهم إياك نعبد ولك نصلي ونسجد اليك نسعي ونحفد
Kita
tidak percaya bahwa doa-doa tersebut adalah Al-Quran dan pencantumannya
dalam mushaf Ubay tidak berarti adalah Al-Quran. Karena seperti yang
kita ketahui, beberapa mushaf sahabat terbukti mengakomodir
bacaan ahad, ayat-ayat yangmansukh tilawah, beberapa tafsiran kosakata
dan doa-doa ma’tsur seperti dalam mushaf Ubay. Walaupun kita
berspekulasi bahwa doa-doa itu adalah bagian Al-Quran tetap saja tidak
bisa menandingi Al-Quran yang otentik dan mutawatir karena informasi
Ubay hanya berada pada tingkatan Ahad.

Gaya
Al-Quran memang bermacam-macam tetapi hampir tidak ada yang keliru.
Keseluruhan Al-Quran demikian jelas mencerminkan keseragaman, sehingga
keraguan mengenai keasliannya sangat mustahil. Seorang sarjana Perancis
Silvestre de Sacy meragukan keaslian Q.S 3:144 yang berbicara tentang
kemungkinan wafatnya Nabi SAW dan dinyatakan dalam hadits bahwa ayat
itulah yang dikutip oleh Abu Bakar ketika ‘Umar menolak mempercayai
berita wafatnya Nabi. Gustav Weil kemudian memperluas keraguan ini ke
bagian Al-Quran lainnya yang menyiratkan makna kemungkian wafatnya Nabi
(Q.s. 3:185, 21:35, 29:57, 39:30). Tidak usah jauh-jauh, banyak rekan
sejawat mereka membantah pendapat ini. Richard Bell dalam Introduction
to The Quranmengadvokasikan bahwa Abu Bakar tidak mungkin mereka-reka
ayat itu pada kesempatan tersebut; tidak pula pernyataan bahwa ‘Umar dan
kaum muslim lainnya belum pernah mendengar ayat semacam itu,
dipertimbangkan dengan cermat. Menurutnya suatu ayat yang disampaikan
pada suatu waktu dapat secara mudah dilupakan dengan berlalunya tahun
demi tahun. Jika ayat itu benar-benar tidak selaras dengan konteknya,
maka hal ini dikarenakan ia merupakan suatu ayat peralihan sebagaimana
yang dikesankan oleh pengulangan ungkapan prima rimasenada. Ayat
tersebut cocok dengan situasi kesejarahannya karena ia merupakan suatu
rujukan yang disisisipkan dalam suatu amanat yang disampaikan
sebelum Uhuddan disampaikan ulang setelah kekalahan di Uhud untuk
membantah kabar yang santer selama perptempuran dan tidak diragukan
lagi, merupakan suatu faktor yang turut memberi sumbangan kepada gerak
mundur tentara islam yang morat-marit bahwa Nabi Muhammad telah
terbunuh. Tidak ada alasan untuk mempermasalahkan keaslian ayat yang
demikian cocok dengan keadaan-keadaan langsung di sekitarnya sementara
untuk menunjukkan bahwa ayat-ayat itu begitu cocoknya dengan konteks
yang betul-betul selaras dengan sisa keseluruhan Al-Quran. Menurutnya,
segi manusiawi Nabi merupakan bagian kontroversi Muhammad dan
musuh-musuhnya, yang mengeluarkannya dari Al-Quran sama saja dengan
mengeluarkan beberapa bagian yang paling khas.23
Selain
itu ditemukan pula sebuah riwayat yang mengindikasikan bahwa beberapa
bagian Al-Quran telah hilang. Ibnu Abbas dikabarkan mengatakan saya
mendengar Rasulullah mengatakan: “Seandainya anak Adam memiliki dua
lembah yang berisi harta ia pasti berharap ketiganya dan tidak ada yang
dapat memenuhi kerongkongan anak Adam kecuali liang lahat, sesungguhnya
Allah akan menerima taubat seorang hamba”. Yang dalam riwayat lain ia
berkata “Saya tidak tahu apakah kalimat tersebut Al-Quran atau bukan?”
Demikian pula dilaporkan bahwa Ubay bekata: “Kami mengannggapnya
Al-Quran sampai turun al haakumuttakatsur”. Sekali lagi riwayat-riwayat
tersebut tidak menunjukkan bahwa kalimat-kalimat itu bagian dari
Al-Quran, melainkan merupakan hadits Qudsy karena kebiasaannya menyuruh
kamu muslim untuk bersikap zuhud.
Sebenarnya
masih banyak keraguan sarjana Barat yang tidak perlu kami kemukakan
semuanya. Karena tulisan sederhana ini tidak berniat menggantikan
karya-karya para pakar yang mengupas dan menelanjangi metodologi
Orientalisme yang dibungkus dengan jargon-jargon ilmiyah yang bombastis
padahal sangat rapuh, tak ubahnya seperti yang dinyatakan dalam
Q.S.29:441 sebagai “Bait al Ankabut”.Karena pada hakekatnya “Mereka
hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, akan tetapi Allah
enggan kecuali menyempurnakan cahayaNya walaupun orang-orang kafir
dengki”. Wa ma Tawfiqi illa bi-‘Llah [ ]

1 Dikutip dalam Quraish Shihab, “Membumikan” Al-Quran, Pen. Mizan, Bandung, cet. V, 1993, h.22
2 Al-Sayyid Muhammad Khalil, Dirasat fi Al-Quran, Dar al-Nahdlah al-‘Arabiah, Beirut, cet. I, 1969, h.90
3 ibid, hlm. 86.
4 ibid, hlm 87
5 Kita
tentu ingat bahwa proses masuk islamnya ‘Umar didahului oleh bacaan
Al-Quran surah Thaha dari lembaran yang dimiliki saudarinya, Fathimah.
Hal itu menunjukkan bahwa pada masa-masa kritis, minat para sahabat
mncatat Al-Quran tidak surut.
6 Badruddin al-Zarkasyi, Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Quran, vol. I, Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyah, Kairo, 1957, h.262
7 Beliau
bernama lengkap Abu Khuzaimah ibn Aus ibn Yazid ibn Atsram dari klan
Bani Najjar., wafat pada masa pemerintahan Khalifah Utsman ra
8 Beliau
bernama lengkap Khuzaimah ibn Tsabit ibn al-Fakih ibn Tsa’labah,
dijuluki “Dzu Syahadatain” oleh Rasulullah. Gugur di peperangan Shiffin
dipihak Khalifah Ali bin Abi Thalib
9 Muhammad ibn Muhammad Abu Syahbah, Al-Madkhal li Dirasat Al-Quran Al-Karim, Maktabah as-Sunnah, Kairo cet.I, 1992, h.244
10 Shubhi As-Shaleh, Mabahits fi ‘Ulum al Quran, Dar al-Ilmi li al-Malayin, Beirut, cet. XVIII, 1990, h. 76
11 Badruddin al-Zarkasyi, Op.cit, h.296
12 Muhammad ibn Muhammad Abu Syahbah, Op. cit. h.246
13 Muhammad Abdullah Diraz, Madkhal ila al Quran al Karim. Dar al-Qalam, Kuwait, cet. II, 1993, h.38
14 Assayyid Muhammad Khalil. Op.cit. hlm 93
15 Muhammad ibn Muhammad Abu Syahbah, Op.cit h.271
16 Ibid, h.273
17 Shubhi al-Salih, Op.cit h.79
18 Abdusshobur Syahin, Tarikh Al-Quran, Ma’had Dirasat al-Islamiyah, Cairo, cet. I h.182
19 Ibid, h.187-188
20 Muhammad Abdullah Diraz, Op.cit h.49
21 Ibid, h.44-45
22 Ibid, h.47

23 Richard Bell, Pengantar Studi Al-Quran, edisi revisi W. Montgomery Watt, Rajawali Press, Jakarta, cet. II, 1995, h.78-79