Sejarah Otentifikasi Al-Qur’an ( Bagian 2 )

Oleh Fahmi Salim Zubair, MA

lanjutan bagian 1

Pengumpulan dan Penulisan Naskah Al-Quran
Pembahasan
tentang kompilasi Al-Quran merupakan salah satu pokok dalam menjelaskan
upaya pelestarian dan pemeliharaan Al-Quran serta mengidentifikasi
otoritasnya yang menjadi ajang perbedaan metode antara sarjana-sarjana
muslim dan peminat studi-studi ketimuran (orientalis). Dengan dalih
kebebasan riset dan orisinalitas metode kritik sejarah, mereka giat
melakukan kajian terhadap teks Al-Quran yang sering kali menjermuskan
kita kepada pemahaman yang keliru terhadap upaya kompilasi Al-Quran pada
masa khulafa’ rasyidin. Di antara kekeliruan tersebut adalah upaya
mereka untuk menginterpretasikan sejarah islam dengan“Tafsiran
Ekonomi” yang menafikan setiap peristiwa yang terjadi dalam sejarah
islam termasuk di dalamnya proses kompilasi Al-Quran didorong oleh
tujuan dan target yang mulia semata-mata lillahi ta’ala. Di samping itu
tidak jarang dalam mengkaji sejarah Al-Quran mereka mengambil
informasi-informasi sejarah yang lemah sebagai sandaran untuk mendukung
prakonsepsi yang ada di kepala mereka.
Beberapa
kesalahan fatal prinsip yang mereka pakai adalah menyamakan kedudukan
Al-Quran dengan kitab-kitab suci yang terlebih dahulu ada, bahkan
karya-karya sastera humanis, sebagai teks kuno yang terimbas perubahan
zaman, serta asumsi yang mereka kembangkan bahwa kajian historis atas
teks-teks kitab suci mengantarkan kita bisa memilih teks yang asli
dengan yang palsu. Hal itu sering diadvokasikan oleh sarjana barat,
Arthur Jeffri ketika menyunting dan menerbitkan kitab “Al-Mashahif”
susunan Ibnu Abi Dawud al-Sijistani. Ide kritik historis dan
penerapannya dalam mengkaji teks-teks kuno pertama kali diintrodusir
oleh seorang pakar dari Jerman bernama Wolf 3 yang tertarik mengkaji
kitab “Ellyas” karya Homerus yang mengantarkannya mampu mengungkap
fase-fase yang dilalui buku tersebut. Sehingga mendorong beberapa
sarjana Eropa untuk menerapkan metode tersebut untuk mengkaji teks-teks
Al-Quran.
Sekali
lagi perlu ditegaskan bahwa sejarah umat manusia, sebagaimana yang
telah disinggung, tidak mengenal kitab paling otentik selain Al-Quran,
sehingga metode kitik sejarah yang diusung para orientalis tidak
proposional. Karena bukti-bukti historis menginformasikan dengan akurat
perhatian serius yang dilakukan kaum muslim dalam upaya melestarikan dan
memelihara Al-Quran sejak diturunkannya. Terlebih lagi jika kita
menilai bahwa kurun waktu selama kurang lebih dua puluh dua tahun yang
dipergunakan Nabi SAW untuk menerangkan hukum-hukum setiap ayat Al-Quran
dan ayat yang nasikh-mansukh serta prinsip otoritas mutlak
(Tawqifi) yang dipegang kamu muslim dalam segala hal yang berkaitan
dengan Al-Quran, cukup untuk menolak diterapkannya metode kritik sejarah
dalam mengkaji naskah Al-Quran. Sehingga tidaklah berlebihan bagi
sarjana muslim, apabila kajian terhadap tiga fase pengumpulan Al-Quran
yang terkenal itu tidak dimaksudkan sebagai langkah-langkah
pengakurasian teks, melainkan lebih merupakan cerminan perkembangan
kehidupan negara Islam.4Maksudnya, motivasi penggerak upaya kompilasi
Al-Quran dalam tiga periode tersebut sangat berkaitan erat dengan gerak
maju ekspansi negara islam keluar kawasan Arab.
Frasa kompilasi Al-Quran
yang penulis pakai dalam kaitan pembahasan ini yang beasosiasi tulisan,
kumpulan naskah atau manuskrip adalah salah satu pengertian
kata jama’ dalam bahasa Arab. Pengertiannya yang lain adalah menghafal,
sehingga apabila kita mendengar kalimatjami’ Al-Quran, kita bisa
memaknainya dengan penghafal atau penulis Al-Quran. Pembicaraan
tentang Jam’ Al-Quran yang berarti hafalan, menuntun kita untuk
mengetahui bahwa proses menghafal Al-Quran dengan metode talaqqi dan
periwayatan yang bersambung sampai Rasulullah, merupakan basis utama
dalam pembuktian sah atau tidaknya bacaan Al-Quran dalam tradisi kaum
muslim. Sehingga tulisan hanya berfungsi sebagai pendukung hafalan. Itu
sebabnya mengapa tulisan ayat yang terdapat dalam naskah-naskah tua pada
masa Nabi SAW berupa kerangka konsonantal.
Ibn
Al-Jazariy seorang pakar qiraat terkemuka menegaskan: “Pengandalan atas
hafalan di luar kepala dalam proses transmisi Al-Quran dan bukan dengan
tulisan naskah adalah anugerah utama yang diberikan oleh Allah kepada
umat islam”. Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim:
أن
النبي صلي الله عليه وسلم قال: ان ربي قال لي: قم في قريش فأنذرهم فقلت له
اي رب اذا يثلعوا رأسي حتى يدعوه خبزه فقال اني مبتليك ومبتل بك ومنزل
عليك كتابا لا يغسله الماء تقرءه نائما ويقظان ….. (الحديث)
Hadits
di atas menyiratkan bahwa Al-Quran dibaca dari lubuk
hati (hafalan) dalam setiap kondisi sehingga pembacanya tidak perlu lagi
melihat lembaran yang ditulis dengan tinta pena yang mudah sirna
apabila tercuci air.
Adapun Jam’
Al-Quran yang berarti penulisan dan pengumpulan Al-Quran dalam mushaf
resmi telah mengambil tiga bentuk dalam tiga preiode awal islam,
sebagaimana yang akan kita uraikan sebagai berikut.
A. Kompilasi Al-Quran pada Masa Rasulullah
Telah
dimaklumi bahwa Nabi SAW menugaskan para sahabat yang dikenal pandai
menulis untuk mencatat wahyu. Di antaranya: Abu Bakr ra, ‘‘Umar ibn
al-Khattab ra, ‘Ali ibn Abi Thalib kw, ‘Utsman ibn ‘Affan ra, Mu’awiyah
ibn Abi Sufyan ra, Zaid ibn Tsabit ra, Ubay ibn Ka’b ra, Khalid ibn
Walid ra, Tsabit ibn Qais ra. Mereka adalah sahabat yang masyhur sebagai
penulis wahyu. Imam al-Hakim menceritakan dari Zaid ibn Tsabit bahwa ia
berkata: “Kami mencatat Al-Quran dihadapan Rasul SAW diatas lembaran
kulit atau kertas”. Bahkan Regis Blachere dalam‘Introduction au
Coran” menghitung tak kurang dari empat puluh sahabat penulis wahyu
melalui perbandingan hitungan Frederich Schwally dan Paul Cassanova
berdasarkan laporan yang dikemukakan Ibn Sa’d, al-Thabari, al-Nawawi,
Ibn Hisyam dan lain-lain.
Kompilasi
Al-Quran pada masa Rasul dimulai sejak turunnya wahyu5 dan berakhir
sampai wafatnya Nabi SAW. Al-Quran pada waktu itu masih berupa kepingan
naskah yang berserakan dan masih belum terkumpul dalam satu mushaf
dikarenakan Nabi SAW masih menunggu wahyu yang kemungkinan berisi hukum
yang menghapus hukum yang turun terdahulu. Al-Zarkasyi berkata: “Alasan
Al-Quran tidak ditulis dalam mushaf pada masa Nabi SAW agar tidak
terjadi preubahan pada setiap saat. Oleh sebab itu penulisannya (dalam
mushaf) terlambat sampai tuntas turunnya wahyu dengan kewafatan
beliau”6.Adapun informasi yang mengatakan bahwa Zaid pernah berkata
bahwa Al-Quran belum dikumpulkan pada suatu apapun ketika Rasulullah
wafat, tidak berarti Al-Quran tidak pernah tercatat pada masa Nabi akan
tetapi penafian tersebut tertuju kepada sesuatu yang bagian-bagiannya
belum tersusun rapi seperti kompilasi Abu Bakar dan Utsman ra. Lagi pula
sanad riwayat tersebut lemah. Karena Ibrahim ibn Basyar, salah seorang
perawidi dhloifkan oleh para kritikus hadis. Sedangkan ‘Ubaid, perawi
lain bersifat majhul (biografinya tidak dikenal). Spesifikasi lain dari
kompilasi Al-Quran pada masa Rasulullah adalah cakupannya
terhadap “Ahruf Sab’ah” dan ayat beserta suratnya terpisah-pisah dalam
kepingan pelepah kurma, kulit, tulang dan lain-lain.
B. Kompilasi Al-Quran Masa Abu Bakar ra
Berita
wafatnya Nabi SAW menimbulkan goncangan hebat dalam komunitas muslim
yang baru tumbuh. Belum lagi kaum muslim keluar dari hiruk-pikuk proses
pengangkatan suksesor dan penguburan jenazah Nabi, mereka dikejutkan
dengan berita pembangkangan di pelosok kawasan Arab dan gerakan
apostasi (riddah) yang terjadi di beberapa daerah kekuasaan islam. Semua
itu menghalangi kaum muslim untuk memikirkan masa depan Al-Quran.
Karena selain para sahabat sibuk dengan perang yang berkecamuk, mereka
tidak merasakan terjadinya ‘sesuatu’ akan masa depan Al-Quran. Menurut
mereka toh Al-Quran telah ditulis dan dipelihara di rumah istri-istri
Nabi dan lagi pula para penghafal Al-Quran masih banyak. Akan tetapi
terjadi sesuatu yang tak terduga sama sekali. Dalam perang Yamamah,
telah gugur sekitar seribu orang syahid, termasuk di antaranya sekitar
empat ratus lima puluh sahabat menurut hitungan at Thabari yang membuat
‘‘Umar risau terhadap Al-Quran. Imam al-Bukhari menginformasikan dengan
sanadnya dari Zaid ibn Tsabit berkata:
“Abu
Bakar mengutusku dan mengabarkan bahwasannya ‘Umar datang kepadaku dan
berkata: perang yamamah telah banyak menewaskan  para penghafal Al-Quran
dan aku khawatir peperangan lain juga turut menewaskan para
qurro didaerah-daerah sehinga banyak bagian dari Al-Quran yang akan
hilang. Oleh karena itu saya berpendapat sebaiknya anda memerintahkan
untuk mengumpulkan Al-Quran. Saya bAlik bertanya kepada ‘Umar; bagaimana
mungkin saya mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh
Rasulullah, ‘Umar menjawab: demi Allah, itu adalah ide yang baik dan ia
terus berusaha meyakinkan saya sehngga Allah melapangkan jalan untuk
menerima ide itu. Zaid berkata: Abu Bakar berkata:”Anda adalah anak muda
yang cerdas dan kami mempercayaimu, lagi pula dahulu kamu turut
mencatat wahyu pada masa Rasul. Maka cari dan kumpulkanlah Al-Quran;
(Zaid berkomentar) demi Allah sekiranya mereka menyuruhku untuk
memindahkan sebuah gunung, tidaklah lebih berat dari pada perintah
mengumpulkan Al-Quran. Aku (Zaid) bretanya: bagaimana mungkin kAlian
mengerjakan sesuatu yang tidak penah dilakukan Rasul. Beliau menjawab:
“Demi Allah, ini adalah ide baik, dan Abu Bakar terus meyakinkan saya
sehingga Allah melapangkan dada saya seerti yang dialami Abu Bakar dan
‘Umar. Maka aku kumpulkan Al-Quran dari catatan-catatan lembaran lontar
dan lempengan batu erta hafalan para sahabat, sampai akhirnya saya
mendapatkan akhir surat attaubah dari abi khuzaimah yang tidak kuperoleh
dari selainnya yaitu ayat “laqad ja’akum rasulun min anfusikum… maka
Shuhuf-shuhuf itu disimpan oleh Abu Bakar sampai beliau wafat, kemudian
oleh ‘Umar semasa hidupnya kemudian oleh Hafshah”.
Dalam
riwayat lain terdapat keraguan Zaid dari Abi Khuzaymah7 atau
Khuzaymah.8 Syekh Muhammad Abu Syahbah menegaskan bahwa riwayat
pertamalah yang benar.9
Seandainya
‘Umar tidak berhasil meyakinkan Abu Bakar dalam soal pengumpulan
Al-Quran besar kemungkinan, menurut Abdusshabur Syahin, mereka berdua
akan melakukan jajak pendapat kepada jumhur sahabat mengenai masalah
kompilasi Al-Quran. Karena keputusan bersejarah itu tidak dapat diambil
oleh dua orang sahabat saja mengingat Al-Quran merupakan Undang-undang
Dasar negara islam.
Khalifah
Abu Bakar menyusun juklak bagi komisi yang diketua Zaid yang
mensaratkan penerimaan catatan Al-Quran sesuai dengan hafalan sahabat
lain dan catatan tersebut ditulis dihadapan dan atas perintah Rasulullah
SAW, di samping harus disaksikan oleh dua orang saksi. Juklak itu
dilaksanakan dengan teliti sampai-sampai konon ‘Umar membawa ayat
perajaman, akan tetapi Zaid menolak untuk menulisnya, karena ‘Umar tidak
mendatangkan dua orang saksi. Demikian pula perbedaan antara ‘Umar dan
Zaid yang didukung oleh Ubay tentang ada tidaknya huruf (و) setelah
kata (الأنصار) dalam Q.s. 9:100 serta upaya Zaid meyakinkan ‘Umar bahwa
ada tambahan (و) yang kemudian didukung argumentasi Ubay bahwa hal yang
sama juga terdapat di tiga tempat dalam Al-Quran, membuktikan bahwa
juklak itu dilaksanakan dengan amat teliti.
Pengecualian
akhir surat at-Tawbah dari kaedah tersebut disebabkan catatannya
ditemukan hanya pada Abi Khuzaimah al-Anshary didasarkan kemutawatiran
hafalannya sehingga menempati dua orang saksi bahwa ayat tersebut
ditulis dihadapan Rasulullah.10Hal ini diperkuat penegasan al-Zarkasyi
dalam “Al-Burhan” “Adapun perkataan Zaid: “saya tidak menemukannya
kecuali pada Abi Khuzaimah”, tidak berarti penetapan Al-Quran
dengan khabar ahad karena Zaid dan sahabat lain menghafal ayat tersebut
dan pencariannya kepada sahabat bertujuan untuk menampakkannya bukan
sebagai pengetahuan baru.”11
Para ulama mencatat beberapa spesifikasi yang terdapat dalam kompilasi Abu Bakar diantaranya:
a)      Naskah tersebut hanya memuat ayat-ayat yang tidak dinaskh bacaannya dan membuang unsur-unsur asing selain Al-Quran.
b)      Pengumpulan
yang dilakukan oleh Abu Bakar tidak menerima kecuali yang disepakati
sebagai Al-Quran melalui jalur mutawatir.
c)      Kompilasi tersebut masih ditulis dengan “Ahruf Sab’ah”.
d)      Ayat-ayatnya
tersusun rapi seperti yang ada sekarang, sedangkan
surat-suratnya “berdiri sendiri” (dalamsuhuf).
Kemudian suhuf-suhuftersebut dikumpulkan dan diikat menjadi satu.

Perlu
diingat bahwa kompilasi Al-Quran dengan tingkat ketelitiannya yang
tinggi beserta cakupannya terhadap spesifikasi di atas, hanya suhuf Abu
Bakar sajalah yang memenuhi kriteria tersebut. Karena mushaf-mushaf yang
ditulis sebagian sahabat, dikabarkan mencantumkan ayat yang telah
dihapus dan yang melalui kategori ahad. Sebagian yang lain mencantumkan
sisipan penafsiran kosakata ayat tertentu dan beberapa doa
yang ma’tsur. Oleh sebab itu naskah Al-Quran yang dimiliki Abu Bakar
merupakan naskah otentik dan memiliki legitimasi yang kuat.12

bersambung : bagian 3