Sejarah Otentifikasi Al-Qur’an ( Bagian 1 )

Oleh : Fahmi Salim Zubair, MA

Allah SWT befirman:
“SESUNGGUHNYA KAMI TELAH MEURUNKAN AL-QURAN
dan kami pulalah yang akan memeliharanya” (Q.S. 15:9)
Mukaddimah
Al-Quran
memperkenalkan dirinya dengan beberapa ciri dan sifat. Salah satu
diantaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin
oleh Allah SWT. Dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara, sebagiamana
tersurat dalam ayat Al-Quran sebagaimana yang dikutip di atas.
Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang diberikan
atas dasar kemahakuasaan dan kemahatahuan-Nya serta berkat upaya-upaya
yang dilakukan oleh kaum beriman. Dengan jaminan ayat di atas, setiap
muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai Al-Quran
tidak berbeda sedikitpun dari apa yang pernah dibaca oleh Nabi SAW. Dan
yang didengar serta dibaca sahabat Nabi SAW. Akan tetapi adakah bukti
lain yang dapat membuktikan keotentikan Al-Quran selain kepercayaan yang
diyakni setiap muslim itu. Sebagai muslim kita dengan tegas mengatakan
ya, dengan didasari dengan bukti-bukti kesejarahan yang mengantar kita
kepada kesimpulan tersebut. Lagi pula banyak kalangan yang sepakat bahwa
Al-Quran merupakan satu-satunya kitab yang paling otentik yang pernah
dikenal dalam sejarah kemanusiaan. Sementara kitab-kitab suci agama lain
diriwayatkan beberapa abad setelah diturunkan, Al-Quran ditangani dan
dipelihara secara serius semenjak wahyu tersebut diturunkan pada masa
Rasulullah SAW hidup.
Bukti-Bukti dari Al-Quran Sendiri
Sebelum
kita mengamati lebih mendalam bukti-bukti sejarah yang mendukung
keotentikan Al-Quran, ada baiknya kita mencermati pandangan seorang
ulama kontemporer, Muhammad Husain al-Thabathabai, yang
mengatakan “Sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka semenjak
turunnya sampai saat ini. Ia dibaca oleh kaum muslimin sejak dahulu
sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan
sejarah untuk membuktikan keotentikannya. Kitab suci tersebut
mengenalkan dirinya sebagai firman-firman Allah dan membuktikan hal
tersebut dengan menantang siapa saja untuk menyusun seperti keadaannya.
Ini sudah cukup menjadi bukti walaupun tanpa bukti-bukti kesejarahan.
Salah satu bukti Al-Quran yang ada ditangan kita adalah pula Al-Quran
yang diturunkan kepada Nabi tanpa pergantian atau perubahan adalah
berkaitan dengan sifat dan ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya
yang tetap dapat ditemui sebagaimana keadaannya dahulu.” 1
Sebelumnya
Harist al-Muhasibi telah menyatakan hal yang serupa dalam
bukunya fahm al sunan ketika menjawab pertanyaan mengapa kaum muslimin
menaruh kepercayaan kepada catatan dan hafalan para penulis wahyu. Di
antaranya menurut al Muhasibi karena mereka telah meresapi serta mampu
membedakan kata-kata yang memiliki i‘jaz dengan yang tidak. Hal itu
tidak mustahil, karena mereka lah yang menyaksikan turunnya wahyu dan
mendengarkan bacaannya langsung dari mulut Nabi selama sekitar duapuluh
tahun. Artinya, salah satu dari beberapa prinsip metode kritik ilmiah
dalam menilai palsu atau tidaknya sebuah teks adalah “Bahasa
Teks” berikut sifat dan cirinya atau dengan kata lain, unifikasi sastra
yang menghubungkan bagian-bagian teks yang memiliki karakter umum
meskipun wahyu turun dalam ruang dan waktu yang berbeda.2
Di
antara bukti-bukti keotentikan Al-Quran adalah ditemukannya
keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakanya yang
menunjukkan ketelitian redaksi-redaksi Al-Quran. ‘Abdur Razaq Naufal
dalam karyanya yang monumental“Al I’jaz Al ‘Adadi li Al-Quran al
Karim” telah membuktikan hal tersebut.
Bukti-bukti Kesejarahan
Ada beberapa faktor pendukung bagi pembuktian otentisitas Al-Quran yang terlebih dahulu mesti dikemukakan, sebagai berikut:
Masyarakat
Arab ketika turunnya Al-Quran belum mengenal budaya baca tulis, karena
itu satu-satunya andalan mereka adalah hafalan.
Masyarakat
Arab dikenal sangat sederhana dan bersahaja, yang mana kesederhanaannya
itu memberikan mereka waktu luang yang cukup untuk menambah ketajaman
pikiran dan hafalan mereka.
Masyarakat
Arab pada waktu turunnya Al-Quran dikenal sangat menggandrungi
kesusasteraan, mereka bahkan melakukan perlombaan-perlombaan dalam
bidang ini pada waktu-waktu tertentu.
Al-Quran
mencapai tingkat tertinggi dari aspek keindahan bahasanya dan sangat
mengagumkan bukan saja bagi orang-orang mukmin tetapi juga bagi
orang-orang kafir.
Al-Quran
demikan pula Rasul SAW, menganjurkan kaum muslimin untuk memper-banyak
bacaan dan mempelajari Al-Quran. Anjuran tersebut mendapat sambutan yang
hangat.
Ayat-ayat
Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari
peristiwa-peristiwa yang mereka alami dan menjawab pertanyaan-pertanyaan
mereka. Disamping itu Al-Quran turun sedikit demi sedikit sehingga
memudahkan pencernaan makna dan proses penghafalannya.
Al-Quran
juga memuat petunjuk untuk bersikap teliti dan hati-hati dalam menerima
dan menyampaikan berita. Terlebih lagi apabila yang disampaikan itu
berupa firman-firman Allah atau sabda Rasulnya.
Faktor-faktor
diatas menjadi penunjang terpelihara dan dihafalkannya Al-Quran. Itulah
sebabnya banyak riwayat yang menginformasikan bahwa terdapat ratusan
para sahabat yang menghafalkan Al-Quran. Bahkan dalam
peperanganYamamah yang terjadi setelah wafatnya Rasul telah gugur tidak
kurang dari tujuh puluh sahabat penghafal Al-Quran. Walaupun Nabi dan
sahabat menghafal Al-Quran, namun guna menjamin terpeliharanya wahyu dan
keotentikannya beliau tidak hanya mengandalkan hafalan, melainkan juga
tulisan.

lanjutan : bagian 2