ROHINGYA, Buya Syafii Maarif Berharap Aung San Suu Kyi Angkat Suara

“Kita berharap peraih nobel perdamaian Aung San Suu Kyi bersuara soal Rohingya,” ucap Buya Syafii Maarif, usai menghadiri acara dialog kebangsaan di Universitas Negeri Yogyakarta, Kamis (28/05/2015).

Buya memandang seharusnya penindasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar tidak perlu terjadi. Menurut Buya Syafii, semua manusia adalah sama, sehingga harus dipelakukan dengan baik dan layak.

“Mereka (Rohingnya) juga sama seperti manusia lain. Sehingga harus diperlakukan dengan layak dan baik. Humanity is one (kemanusiaan itu satu),” tutur Buya.

Buya menuturkan, dirinya juga punya sahabat seorang biksu. Meski berbeda, namun persabahatannya sangat dekat, bahkan seperti saudara kandung. Saat dia datang berkunjung ke rumah, biasa membawa oleh-oleh teh. Bahkan, saat datang bersalaman dan sahabatnya itu mencium tangannya.

Apa yang dialami Rohingya, menurut Buya Syafii, tidak perlu terjadi. Seharusnya, perbedaan bukan menjadi halangan untuk bersahabat dan menjalin persaudaraan antarsesama, seperti persaudaraannya dengan biksu tersebut.

“Kita seperti saudara kandung. Seharusnya perbedaan bukan menjadi halangan untuk bersahabat dan bersaudara,” ucapnya.

Buya berharap agar apa yang dialami Rohingya segera berakhir dan bisa hidup dengan nyaman sertai damai.

Sebelumnya, pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama, juga mendesak rekannya sesama penerima hadiah Nobel, Aung San Suu Kyi, untuk lebih banyak membantu penyelesaian krisis yang menimpa etnis Rohingya.

“Sangat menyedihkan. Dalam kasus Myanmar, saya harap Aung San Suu Kyi sebagai peraih Nobel bisa melakukan sesuatu,” kata Dalai Lama, saat diwawancarai harian The Australian, Kamis (28/5/2015).

Dalai
Lama mengatakan, Suu Kyi harus berbicara menanggapi masalah ini
sekaligus memberikan pembelaan untuk etnis Rohingya. Dalai Lama
menambahkan, dia sudah dua kali meminta Suu Kyi secara personal sejak
2012, saat kekerasan sektarian di negara bagian Rakhine pecah.(sp/fajar).