Prof.Din Syamsuddin Apresiasi “Gerakan Wonogiri Mengaji”


Wonogiri – Lantunan ayat suci Al Qur’an mengalun indah di lapangan Sapangan Giri Krida Bhakti. Sejumlah pelajar SDIT Al Huda Wonogiri begitu fasih memperdengarkan hafalan juz amma, mengawali pencanangan Wonogiri mengaji. 5000 peserta pun terhanyut dalam khusyuk.
Bupati Wonogiri, Danar Rahmanto melihat kerusakan moral disegala lapisan masyarakat menjadi persoalan yang perlu diselesaikan. Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Wonogiri menilai agama menjadi solusi ampuh dalam menyempurnakan akhlak masyarakat. Katanya, meningkatkan kualitas Baca Tulis Al Qur’an (BTQ) menjadi langkah awal membumikan Al Qur’an.
“Kebesaran bangsa itu tergantung moralitas masyarakat dan pebajatnya. Sebagai bentuk revolusi mental, Wonogiri akan membawa islam dalam berbagai sendi kehidupan. Oleh karena itu kami lauching gerakan Wonogiri mengaji,” katanya, Jum’at (8/5) dalam pencanangan Gerakan Wonogiri mengaji.
Gerakan tersebut dipandang dapat mendorong terwujudnya sifat-sifat Qur’ani dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan. Oleh karena itu gerakan Wonogiri mengaji diharapkan tumbuh dan berjalan bukan hanya dilingkungan sekolah melainkan juga di instansi-instansi pemerintah.
Pencanangan Gerakan Wonogiri mengaji di apresiasi oleh Ketua MUI (MajelisUlama Indonesia) Pusat, Din Syamsudin. Katanya pencanangan gerakan Mengaji merupakan langkah yang sangat berani dan perlu di contoh pemerintah pusat. Atas nama MUI Din menyampaikan perhatian dan apresiasi tinggi pada Kabupaten Wonogiri dan Danar Rahmanto yang berani mencanangkan gerakan tersebut.
“Dari setiap kali kujungan saya ke daerah, belum ada daerah yang mencanangkan gerakan mengaji, kecuali Wonogiri. Gerakan Wonogiri mengaji ini penting dan bisa menjadi cikal bakal Indonesia mengaji,” katanya
Din mengungkapkan, dalam lintasan sejarah, umat Islam mengalami masa kejayaan tidak lepas dari pengamalan Al qur’an dalam kehidupan. Pada abad pertengahan banyak lahir ilmuan-ilmuan Muslim yang mengembangkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Katanya, pada masa itu, Al Qur’an mendorong manusia untuk membaca alam semesta, sebagai bentuk ayat-ayat kauniyah.
Namun demikian, kendati umat Islam menjadi umat beragama terbesar di dunia saat ini kondisi umat Islam tidak menggembirakan. Di Indonesia, kontribusi umat Islam dalam perkembangan ekonomi hanya 7 persen. “Sensus terakhir yang menguasai perdagangan bukan umat Islam. Ini terjadi karena umat Islam belum sepenuhnya berpegang pada Al Qur’an,” jelasnya
Lanjut Din, saa tini Al Qur’an hanya dijadikan sebagai dokumen. Akibatnya tidak terasa Al qur’an sebagai pedoman hidup yang meberikan kesuksesan dunia dan akhirat. “Gejalanya banyak umat Islam menjadikan Al Qur’an sebagai mahar kemudian hanya disimpan dilemari, tidak pernah dibaca apalagi diamalkan,” ujarnya
Din berharap, hal tersebut dapat segera diakhiri. Gerakan Wonogiri mengajidi harapkan dapat membumikan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, menurutnya Islamakan kembali bangkit dan menemukan kejayaannya. (sp/fujamas)