Perjalanan Dakwah Dai Muhammadiyah, Ustadz Baharuddin Zein

Saya terlahir dari keluarga Muhammadiyah. Saya bersekolah di Sekolah Rendah Muhammadiyah (SRM), sekarang Sekolah Dasar (SD). Lalu, dilanjutkan di Mualim Muhammadiyah. Baru setahun sekolah, langsung bubar karena terjadi pergolakan. Sejak masuk Thawalib Bukittinggi hingga bekerja sebagai guru dan karyawan swasta, kehidupan saya praktis terputus dengan Muhammadiyah. Amalan pun campur aduk karena pengaruh lingkungan.
Begitu menginjakkan kaki di Sorong tahun 1974, mata saya langsung tertuju pada papan nama Muhammadiyah di pinggir jalan. Entah kenapa, hati ini langsung bergairah. Suasana batin dan pikiran yang terpendam bertahun-tahun, tiba-tiba mengalir lagi darah Muhammadiyah. Bangkit semangat baru. Lalu saya cari anggota Muhammadiyah, saya temui pimpinannya.
Setelah berdialog, bertukar pikiran, saya sampaikan satu dua gagasan untuk gerakan persyarikatan. Pada sebuah pertemuan pimpinan, Ketua Muhammadiyah memperkenalkan saya dengan anggota yang lain. Saat itu juga, saya diterima sebagai anggota mutasi.
Tahun 1976, Buya H.A Malik Ahmad datang ke Sorong atas undangan Pertamina Unit E V Sorong. Beliau mendesak Muhammadiyah Sorong supaya mengadakan Musda. Pada Musda itulah saya ditunjuk sebagai Mapendapda (Majelis Pendidikan dan Pengajaran Daerah).
Saya mulai membuat planning amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan. Infrastruktur yang pertama dibangun adalah TK ABA, lalu SMP karena sudah ada MIM untuk tingkat SD. Kemudian secara estafet membangun TK ABA di daerah transmigrasi (Aimas). Hingga tahun 1992, TK ABA di Kabupaten Sorong berjumlah 13 sekolah.
Pada pemilihan calon PDM Sorong, Musda II tahun 1978, saya mendapat suara terbanyak dari 13 calon untuk menduduki ketua. Namun, dukungan itu saya berikan kepada mantan ketua lama, dengan pertimbangan karena masih muda. Ya, belum banyak pengalaman. Saya akhirnya duduk sebagai wakil ketua II.
Pada Musda III tahun 1982, saya mengundurkan diri dari bursa calon PDM karena situasi politik. Pemerintah daerah setempat kurang nyaman jika saya masih duduk di kepengurusan. Maklum, ketika itu saya vokal mengkritisi pemerintah. Demi masa depan persyarikatan, saya memilih bersembunyi di balik layar, mengendalikan organisasi. Sampai hari ini, dimana pun saya bertugas sebagai dai MTDK, tak mau menduduki posisi teras.
Kesenangan saya sejak masa kecil mengikuti bapak selaku Ketua PCM Kotobaru, berdakwah ke masjid, surau dan ranting-ranting Muhammadiyah. Pengalaman itulah yang melekat di jiwa. Ketika remaja, kelas 4 Thawalib Parabek Bukittinggi, mulanya saya berkecimpung di bidang dakwah Pelajar Islam Indonesia (PII), sebagai ketua I Kabupaten Agam, Sumbar, dengan ketua umum saudara Masfar Rasyid.
Saya bersama saudara Syarwan Hamid (teman sekelas dan sebagai Seksi Dakwah PII Daerah), berkeliling mengunjungi masjid/mushala di Bukittinggi. Bahkan, sewaktu berada di Jakarta sekalipun, saya tetap aktif membina rohani karyawan dan jamaah masjid perusahaan serta remaja di sekitar rumah.
Setiba di Sorong tahun 1974, wawasan dan jangkauan dakwah saya semakin luas. Atas kemauan sendiri, saya telah menjelajahi pelosok suku terasing. Tahun 1979, beredar pengumuman bahwa Pimpinan Pusat meminta agar tiap PDM mengirim para dai muda ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan dai. Dai-dai ini akan ditempatkan di daerah suku terasing di seantero nusantara. Saya bersama seorang teman utusan PDM Sorong mengikuti pelatihan 15 hari di Bogor dan 15 hari di Jakarta (Kantor PP lama).
Saya terdaftar sebagai dai BD-BMT (Badan Dakwah-Bimbingan Masyarakat Terasing) yang diketuai oleh Buya H.A Malik Ahmad. Tapi, ketika itu saya tidak dioperasionalkan ke suku terasing dan tidak diberi tunjangan hidup bulanan, karena berstatus anggota DPRD Tk II Sorong. Sehabis masa tugas DPRD tahun 1982, saya pulang kampung berdakwah mengembangkan Tajdid. Tahun 1985, saya mendaftar kembali menjadi da’I bergabung dengan MTDK. Saya diterima oleh Sekretaris MTDK PP, Bapak H. Ramli Thaha SH, dan menugaskan saya kembali ke Sorong.
Pada tahap kedua ini, saya tidak lagi berdakwah ke pedalaman, melainkan di daerah transmigrasi, meliputi 17 unit. Masyarakat transmigrasi ini sangat rawan kristenisasi. Banyak muslim yang dimurtadkan. Saya beranikan diri melancarkan perang dingin dengan misionaris. Main kucing-kucingan dengan Pater dari Belanda. Mereka berani-beraninya keluar masuk rumah orang Islam berkedok sosial. Seperti, menolong pengobatan, menyantuni dengan bahan makanan dan membantu alat pertanian.
Saya jadi “Sesak nafas” melihat ulah mereka. Membuat saya geram. Lalu, saya pengaruhi kepala desa agar mengajak para pemuda memukul Pater Belanda itu bila kedapatan masuk rumah warga muslim. Saya berani begitu karena berpegang pada Undang-Undang Penyiaran Agama di Indonesia. UU itu saya fotocopy, dan dibagikan kepada semua kepala desa.
Gayung bersambut. Para kepala desa pun mengintai gerak-gerik Pater. Sedangkan para pemudanya, sengaja berkumpul di rumah sasaran Pater. Ternyata rencana ini berhasil, Pater urung melaksanakan misinya. Pater mundur teratur begitu tahu dirinya sedang diintai. Seandainya pemuda desa setempat sempat memukul Pater, mungkin tangan saya diborgol polisi dan dipenjara.
Pada 1992, saya mengikuti pelatihan da’i di Jakarta. Pada masa itu, MTDK sudah di tangan Bapak H. Ramli Thaha. Usai pelatihan, saya diamanatkan bertugas di Kabupaten Bungo Tebo, Jambi. Disini, saya juga banyak berdakwah ke daerah transmigrasi di Rimbo Bujang. DI sana, beberapa keluarga muslim berguguran imannya. Berubah aqidah alias murtad. Ibarat pepatah, dimana gula terserak, semut pun datang, dimana masyarakat hidup susah, misionaris tiba menawarkan kebutuhan berkedok sosial untuk menjual aqidah.
Ada juga modus bermain sulap. Awalnya si A beragama lain, kemudian ketika mendaftar untuk ikut transmigrasi, KTP-nya idrubah menjadi Islam. Begitu sampai di lokasi transmigrasi, ia bergerak sesuai agama asal. Kadang “embrio” ini tidak diketahui, sehingga terus berkembang.
Lima tahun sudah saya berdakwah di Bungo dan Rimbo Bujang. Pada 1997, keluarlah SK MTDK yang menugaskan saya kembali ke tanah Sorong. Melanjutkan dakwah mengitari daerah transmigrasi seperti tugas sebelumnya. Adapun perjalanan dakwah saya yang terjauh ialah Unit 17, 75 km dari kota. Tak jarang, harus menginap di sana. Kadang, pulang jam 12 malam berkendara motor seorang diri. Tidak peduli  hujan, mengingat besoknya saya harus menyelesaikan pekerjaan di Sekretariat PDM, mengatur strategi gerakan persyarikatan yang dipercayakan PDM kepada saya.
Begitulah saya di Sorong sejak tahun 1985. Malam “keluyuran” melaksanakan tugas dakwah, siang menekuni urusan organisasi di Sekretariat. Tahun 1998, saya minta mutasi ke Rimbo Bujang lagi berhubung banyak terbengkalai yang ditinggalkan. Baru 4,5 tahun di Rimbo Bujang, atas permintaan teman-teman di Sorong, saya kembali ditugaskan MTDK pada tahun 2002 ke Sorong.
Dari pertama kali sampai, dan kedatangan saya terakhir ke Sorong, sudah enam kali bolak-balik. Yang terakhir pada tahun 2010, sebagai da’i mandiri dari MTDK. Sebab, sejak tahun 2008, Buya Risman Muchtar menyatakan kepada saya bahwa keputusan pertemuan lembaga akan meremajakan da’i. Sungguhpun demikian, saya masih tetap menjalankan tugas dakwah, dan saya berjanji akan meneruskan kegiatan suci dan mulia ini semampunya, hingga Allah SWT mentakdirkan saya menutup mata. Wallahu a’lam. [sp]
(dimuat dalam Majalah TABLIGH 1433 H)