Penjelasan Teknis Hasil Hisab Muhammadiyah : Penentuan Ramadan, Syawal dan Zulhijah 1436 H (2015 M)

Data dan kesimpulan sebagaimana dimuat dalam Hasil Hisab Majelis Tarjih dan
Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang merupakan lampiran dari Maklumat Pimpinan
Pusat Muhammadiyah didasarkan pada “hisab hakiki” dengan kriteria “wujudul-hilal”. Hasil
perhitungan tersebut, khususnya mengenai terbenam Matahari dan tinggi Bulan menggunakan
marjak Yogyakarta dengan koordinat: lintang (φ) = -07° 48′ dan bujur (λ) = 110° 21′ BT.
“Hisab Hakiki” adalah metode hisab yang berpatokan pada gerak benda langit,
khususnya Matahari dan Bulan faktual (sebenarnya). Gerak dan posisi Bulan dalam metode
ini dihitung secara cermat untuk mendapatkan gerak dan posisi Bulan yang sebenarnya dan
setepat-tepatnya sebagaimana adanya. 
Adapun “wujudul-hilal” adalah istilah yang digunakan
untuk menggambarkan pada saat Matahari terbenam, Bulan belum terbenam. Dengan
perkataan lain, Bulan terbenam terlambat dari terbenamnya Matahari berapapun selisih
waktunya. Dengan istilah geometrik, pada saat Matahari terbenam posisi Bulan masih di atas
ufuk berapapun tingginya.
Untuk menetapkan tanggal 1 bulan baru Kamariah dalam konsep hisab hakiki
wujudul-hilal terlebih dahulu harus terpenuhi tiga kriteria secara kumulatif, yaitu: 
1) sudah
terjadi ijtimak (konjungsi) antara Bulan dan Matahari, 
2) ijtimak terjadi sebelum terbenam
Matahari, dan 
3) ketika Matahari terbenam Bulan belum terbenam, atau Bulan masih berada
di atas ufuk. 
Apabila ketiga kriteria tersebut sudah terpenuhi maka dikatakanlah “hilal sudah
wujud” dan sejak saat terbenam Matahari tersebut sudah masuk bulan baru Kamariah.
Sebaliknya apabila salah satu saja dari tiga kriteria tersebut tidak terpenuhi, maka
dikatakanlah “hilal belum wujud” dan saat terbenam Matahari sampai esok harinya belum
masuk bulan baru Kamariah, bulan baru akan dimulai pada saat terbenam Matahari berikutnya
setelah ketiga kriteria tersebut terpenuhi.
Penjelasan tentang data bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1436 H seperti dalam
hasil hisab tersebut adalah sebagai berikut.  
A. Ramadan 1436 H 
Ijtimak jelang bulan Ramadan 1436 H terjadi pada hari Selasa Legi tanggal 16 Juni
2015 pukul 21:07:23 WIB. Perhitungan waktu terjadi ijtimak ini didasarkan pada ijtimak
geosentrik sehingga momen terjadinya ijtimak tersebut terjadi pada waktu yang bersamaan
untuk seluruh tempat di muka Bumi, hanya saja jamnya tergantung pada jam di tempat
bersangkutan. Di Yogyakarta, ijtimak terjadi pada malam hari sekitar 3 jam 36 menit 48 detik
setelah Matahari terbenam, karena terbenam Matahari di Yogyakarta pada hari Selasa Legi itu
terjadi pada pukul 17:30:35 WIB. 
Demikian pula untuk seluruh tempat di Indonesia ijtimak
terjadi pada malam hari setelah terbenam Matahari. Terbenam Matahari yang paling akhir di
Indonesia pada hari itu, di ujung barat Indonesia, di Sabang (lintang (φ) = 05° 54′ dan bujur
(λ) = 95° 21′ BT.) terbenam Matahari terjadi pada pukul 18:54:21 WIB. Sementara itu, di
ujung timur Indonesia, di Merauke (lintang (φ) = -08° 30′ dan bujur (λ) = 140° 27′ BT.)
terbenam Matahari terjadi pada pukul 17:37:41 WIT atau pukul 15:37:41 WIB. Dengan
demikian, pada hari Selasa Legi tanggal 16 Juni 2015 telah terjadi ijtimak di malam hari
jelang memasuki hari Rabu Pahing 17 Juni 2015. Dari data ini diperoleh kasimpulan bahwa
kriteria wujudul hilal pertama telah terpenuhi, sedangkan kriteria yang kedua tidak terpenuhi
karena ijtimak terjadi setelah terbenam Matahari, padahal kriteria wujudul hilal kedua
mensyaratkan ijtimak terjadi sebelum terbenam Matahari. Untuk melihat dalam peta dunia
daerah mana saja yang mengalami ijtimak sesudah dan sebelum terbenam Matahari pada hari
Selasa Laegi 16 Juni 2015 tersebut dapat dilihat pada ragaan peta di bawah ini.  
Garis yang melintang dari utara ke selatan menunjukkan tempat-tempat yang
mengalami ijtimak dan terbenam Matahari bersamaan. Kawasan A adalah kawasan yang
mengalami terbanam Matahari lebih dulu dari ijtimak, di kawasan ini ijtimak terjadi pada
malam hari. Sedangkan kawasan B adalah kawasan yang mengalami ijtimak lebih dulu dari
terbenam Matahari, di kawasan ini ijtimak terjadi pada siang hari sebelum terbenam Matahari.
Untuk kawasan B ini kriteria wujudul hilal pertama dan kedua telah terpenuhi.
Kriteria ketiga jelas tidak terpenuhi karena berdasarkan perhitungan tersebut, pada saat
terbenam Matahari di Yogyakarta tanggal 16 Juni 2015 itu Bulan sudah di bawah ufuk dengan
ketinggian -02° 15′ 59″, artinya pada saat Matahari terbenam Bulan sudah terbenam, jadi
Bulan terbenam mendahului terbenamnya Matahari. 
Bagaimana halnya di kota Sabang, ujung
barat Indonesia dan di kota Merauke, ujung timur Indonesia? Tinggi Bulan di Sabang ketika
itu -02° 51′ 40″, sementara itu di Merauke -03° 16′ 18″. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa untuk seluruh wilayah Indonesia tiga kriteria wujudul hilal tersebut hanya terpenuhi
satu yaitu sudah terjadi ijtimak Bulan dan Matahari, namun dua kriteria terakhir tidak
terpenuhi sehingga hari itu tidak dapat ditetapkan sebagai tanggal 1 Ramadan 1436 H. Pada
keesokan harinya Rabu tanggal 17 Juni 2015 ketingian Bulan di Yogyakarta +09° 44′ 35″, di
Sabang +09° 16′ 51″, dan di Merauke +08° 46′ 46″. Tanggal 1 Ramadan 1436 H ditetapkan
pada hari Rabu malam tanggal 17 Juni 2015 dan konversinya dengan kalender Masehi
ditetapkan pada keesokan harinya yaitu tanggal 18 Juni 2015. Itulah sebabnya maka dikatakan
tanggal 1 Ramadan 1436 H jatuh pada hari Kamis Pon 18 Juni 2015. 
Untuk mengetahui kawasan mana di muka Bumi yang pada hari Selasa Legi 16 Juni 2015
sudah memenuhi kriteria wujudul-hilal sehingga malam itu ditetapkan tanggal 1 Ramadan
1436 H atau belum memenuhi kriteria sehingga malam itu masih dianggap tanggal terakhir
A
B
dari bulan Syakban dapat dilihat dengan memperhatikan garis pembatas dalam peta dibawah
ini. Garis pembatas tersebut menunjukkan bahwa pada tempat-tempat itu terbenam Bulan
berbarengan dengan terbenam Matahari, dan disebut garis batas tanggal.  
Garis yang membentang dari barat ke timur adalah garis batas tanggal menurut kriteria
wujudul-hilal. Kawasan A adalah kawasan yang memulai masuk tanggal 1 Ramadan 1436 H
pada saat terbenam Matahari Rabu Pahing tanggal 17 Juni 2015 atau menurut konversinya
dalam kalender Masehi tanggal 1 Ramadan 1436 H bertepatan dengan hari Kamis Pon tanggal
18 Juni 2015 M. Sedangkan kawasan B memasuki tanggal 1 Ramadan 1436 H hari Selasa
malam 16 Juni 2015 atau menurut konversinya dalam kalender Masehi hari Rabu Pahing
tanggal 17 Juni 2015.
Seperti terlihat dalam peta dunia di atas, Indonesia masuk dalam kawasan A yang
memasuki tanggal 1 Ramadan 1436 H hari Rabu malam 17 Juni 2015 atau menurut
konversinya dalam kalender Masehi Kamis tanggal 18 Juni 2015.
B. Syawal 1436 H
Ijtimak jelang bulan Syawal 1436 H terjadi pada hari Kamis Legi tanggal 16 Juli 2015
pukul 08:26:29 WIB. Ijtimak terjadi pada pagi hari, ini berarti kriteria pertama (sudah terjadi
ijtimak) dan kedua (ijtimak terjadi sebelum terbenam Matahari) sudah terpenuhi. 
Terbenam
Matahari di Yogyakarta pada hari Kamis 16 Juli 2015 pukul 17:37:12 WIB. Umur Bulan pada
saat itu 9 jam 10 menit 43 detik. Sementara itu pada hari itu Bulan baru terbenam pada pukul
17:50:44 WIB. tertinggal 13 menit 32 detik dari Matahari. Kriteria ketiga (pada saat Matahari
terbenam Bulan belum terbenam) juga sudah terpenuhi karena berdasarkan perhitungan
tersebut, pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta tanggal 16 Juli 2015 itu Bulan masih di
atas ufuk dengan ketinggian 03° 03′ 22″, artinya pada saat Matahari terbenam Bulan belum
terbenam, jadi hilal sudah wujud. Dengan demikian seluruh kriteria wujudul-hilal sudah
terpenuhi, oleh karena itu pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta hari Kamis (Kamis
Malam) tanggal 16 Juli 2015 mulai masuk tanggal 1 Syawal 1436 H dan konversinya dalam
kalender Masehi Jumat tanggal 17 Juli 2015.
A
B
Untuk mengetahui kawasan mana di muka Bumi ini yang sudah masuk tanggal 1 Syawal
1436 H pada hari itu dapat dilihat dengan memperhatikan garis pembatas dalam peta dibawah
ini. Garis pembatas tersebut menunjukkan bahwa pada tempat-tempat itu terbenam Bulan
berbarengan dengan terbenam Matahari, dan disebut garis batas tanggal.
Garis tebal yang membentang dari barat ke timur adalah garis batas tanggal menurut
kriteria wujudul-hilal. Kawasan A adalah kawasan yang memulai masuk tanggal 1 Zulhijah
1436 H pada saat terbenam Matahari Ahad Kliwon tanggal 13 September 2015 atau menurut
konversinya dalam kalender Masehi bertepatan dengan hari Senin Legi tanggal 14 September
2015 M. Sedangkan kawasan B pada saat itu belum memasuki tanggal 1 Zulhijah 1436 H, di
kawasan ini tanggal 1 Zulhijah 1436 H mulai pada hari Senin malam tanggal 14 September
2015 setelah terbenam Matahari atau konversinya dalam kalender Masehi bertepatan dengan
hari Selasa Pahing tanggal 15 September 2015 M.
Seperti terlihat dalam peta dunia di atas, Indonesia terlewati oleh garis batas tanggal,
sebagian wilayah masuk dalam kawasan A (kawasan yang memasuki Zulhijah tanggal 14
September 2015) dan sebagian wilayah lain masuk dalam kawasan B (kawasan yang
memasuki 1 Zulhijah 1436 H tanggal 15 September 2015). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada peta Indonesia berikut ini.  
  
Garis yang membentang dari arah barat laut ke tenggara merupakan petunjuk bahwa di
tempat-tempat yang terlewati oleh garis itu pada hari
Bulan terbenam bersamaan. Kawasan A adalah tempat
September 2015 Matahari terbenam lebih dulu dari terbenam Bulan, sedangkan kawasan B
adalah tempat-tempat yang pada hari
kemudian dari terbenam Bulan. Menurut kriteria wujudul
tanggal 1 Zulhijah 1436 H sejak magrib hari
September 2015), sedangkan kawasan B baru masuk tanggal 1 Zulhijah 143
hari Senin 14 September 201
karena kriteria wujudul-hilal menganut teori matlak wilayatul
yang sama hanya ada satu tanggal di seluruh wilayah Indonesia, maka kawasan B mengikuti
tanggal yang ada di kawasan A. 
Dengan demikian tanggal 1 Zulhijah 143
magrib hari Ahad 13 September 201
wilayah Indonesia. Dengan demikian, tanggal 1 Zulhijah 1436 H bertepatan dengan hari
Senin 14 September 2015. Hari Arafah tanggal 9 Zulhijah 1436 H bertepata
Selasa 22 September 2015. Idul Adha tanggal 10 Zulhijah 1436 H bertepatan dengan hari
Rabu 23 September 2015.

Wakil Ketua
Drs. H. Oman Fathurohman SW.
Garis yang membentang dari arah barat laut ke tenggara merupakan petunjuk bahwa di
tempat yang terlewati oleh garis itu pada hari Ahad 13 September 2015
Bulan terbenam bersamaan. Kawasan A adalah tempat-tempat yang pada hari
Matahari terbenam lebih dulu dari terbenam Bulan, sedangkan kawasan B
tempat yang pada hari Ahad 13 September 2015 Matahari terbenam lebih
kemudian dari terbenam Bulan. 

Menurut kriteria wujudul-hilal, kawasan A sud
H sejak magrib hari Ahad 13 September 2015 (konversinya
), sedangkan kawasan B baru masuk tanggal 1 Zulhijah 1436
September 2015 (konversinya Selasa 15 September 2015). Namun demikian,
hilal menganut teori matlak wilayatul-hukmi, yakni pada satu hari
yang sama hanya ada satu tanggal di seluruh wilayah Indonesia, maka kawasan B mengikuti
tanggal yang ada di kawasan A. 
Dengan demikian tanggal 1 Zulhijah 1436 H ditet
September 2015 (konversinya Senin 14 September 201
Dengan demikian, tanggal 1 Zulhijah 1436 H bertepatan dengan hari
Senin 14 September 2015. Hari Arafah tanggal 9 Zulhijah 1436 H bertepata
Selasa 22 September 2015. Idul Adha tanggal 10 Zulhijah 1436 H bertepatan dengan hari
Yogyakarta, 23 Jumadilakhir
13 April 
Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah 
ttd
Wakil Ketua,  Oman Fathurohman SW., M.Ag. 
Sekretaris, Drs. H. Dahwan, M.Si.