Muhammadiyah Kemarin, Sekarang dan Esok Hari

Nabi Muhammad SAW. diyakini oleh umat Islam seluruh dunia menerima wahyu yang merupakan kalam Allah SWT. Kalam tersebut kemudian dikodifikasikan menjadi mushaf Al Quran yang kita kenal sekarang ini. Ternyata bukan hanya kalam Ilahi saja yang dikodifikasi, namun juga perkataan, perbuatan dan ketetapan nabi, hal ini kita kenal dengan sunnah. Pada akhirnya muncul 2 sumber yang otoritatif dalam agama Islam yakni nash Al Quran dan Sunnah.
Seluruh umat Islam sepakat bahwa Al Quran dan sunnah merupakan sumber yang otoritatif dalam Islam. Walaupun begitu ternyata pemahaman terhadap nash tersebut tidaklah tunggal, namun bermacam-macam.
Alkisah pergilah seorang anak muda dari Indonesia yang bernama Muhammad Darwis ke Mekkah. Saat di Mekkah Darwis mempelajari banyak hal tak hanya keilmuan agama namun juga perkembangan dunia kontemporer. Akhirnya Darwis berkenalan dengan ide-ide yang memang sedang ngetrend pada waktu itu seperti ide purifikasi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, ide pan Islamisme Jamaluddin al Afghani dan ide modernisme Muhammad Abduh. Darwis pun pulang ke kampung halamannya di Kauman dengan nama baru yakni KH. Ahmad Dahlan.
KH. Ahmad Dahlan melihat dan memperhatikan kondisi lingkungannya, beliau melihat bahwa umat Islam masih sangat banyak yang bodoh dan miskin. Beliau sungguh heran, ada sangat banyak kyai pada waktu itu, ada banyak ahli agama, tapi kok umat masih gitu2 aja? Berarti ada yang salah dengan pemahaman dan pengamalan agama pada waktu itu. Kyai Dahlan pun mulai melakukan hal-hal yang dianggap nyeleneh pada zamannya, yang pada zaman ini sudah dianggap biasa. Melihat kasus Kyai Dahlan, boleh jadi hal-hal yang di zaman ini dianggap nyeleneh, di masa depan dianggap biasa. Kyai Dahlan pun wafat dengan meninggalkan warisan yang sangat berharga, yakni persyarikatan Muhammadiyah. Muhammadiyah dengan sangat cepat menyebar ke seluruh Indonesia.
Pada masa awal didirikan, banyak warga Muhammadiyah berprofesi sebagai pedagang atau saudagar. Hal ini membuat pergerakan Muhammadiyah sangat dinamis. Beberapa dekade kemudian, Muhammadiyah memetik buah dari pendidikan modern yang dibangun. Banyak cendekiawan-cendekiawan terdidik yang dihasilkan dari rahim pendidikan Muhammadiyah. Akibatnya adalah warga Muhammadiyah mulai tersedot oleh birokrasi. Warga Muhammadiyah yang pada awalnya kebanyakan pedagang berubah menjadi kebanyakan pegawai.
Pada tahun 1979, terjadilah revolusi di Iran yang diarsiteki oleh Ali Syariati dan digawangi oleh Ayatullah Khomeini. Berkat revolusi Iran yang berhasil ini lalu mulailah terjadi demam kebangkitan Islam. Gerakan-gerakan Islam transnasional mulai menjamur dan tumbuh di Indonesia. Sayangnya pada waktu itu rezim orde baru masih otoriter, hal ini membuat gerakan-gerakan ini bergerak di bawah tanah. Muncullah yang dinamakan dengan usroh, halaqoh, dauroh dll. Gerakan Islam transnasional ini ada 3 yang paling besar, yakni tarbiyah yang terinspirasi dari ikhwanul muslimin, hizbut tahrir dan salafi. Mereka melakukan kaderisasi yang sangat intensif di kampus-kampus, dikarenakan kondisi pada waktu gerakan ini ditekan oleh rezim yang berkuasa, mereka tumbuh menjadi kader-kader yang militan.
Di tempat lain, pada tahun 1980an, Nurcholis Madjid mengeluarkan statement yang mengguncangkan umat Islam pada waktu itu, yakni mengenai sekularisasi. Cak Nur ingin membuat Islam tidak identik dengan parpol, namun beliau ingin Islam bisa mewarnai parpol manapun, Munculah slogan Islam Yes, Partai Islam No. Di masa itupun kementerian agama mengirimkan dosen-dosen agama untuk belajar di barat, kita mengenal 3 pendekat dari Chicago, yakni Cak Nur, Amien Rais dan Syafii Maarif, kita pun mengenal Harun Nasution. Lalu generasi setelahnya pun masih menikmati belajar di luar negeri misalnya Din Syamsuddin, Amien Abdullah dll.
Orde baru pun berakhir, muncullah orde reformasi. Akhirnya pada masa reformasi inilah keran kebebasan di buka dengan sebebas-bebasnya. Gerakan-gerakan Islam transnasional yang semasa orde baru sulit bergerak di masa reformasi sangat bebas mensyiarkan pemikirannya. Begitupun para alumni barat juga dengan bebas mensyiarkan gagasannya, misalnya dengan munculnya JIL.
Bagaimana kabar Muhammadiyah? Muhammadiyah sudah tumbuh dengan sangat banyak amal usaha. Sayangnya efek dari terlalu banyak amal usaha adalah warga Muhammadiyah terjebak dalam rutinitas mengurus amal usaha sehingga elan pergerakannya menjadi berkurang. Di tengah- tengah kesibukan Muhammadiyah mengurus amal usaha, tiba-tiba kita dikagetkan oleh adik-adik kita gerakan Islam transnasional yang masih sangat lincah dalam berdakwah. Saking lincahnya kadang menimbulkan konflik dan gesekan dengan Muhammadiyah.
Bagi gerakan Islam transnasional Muhammadiyah itu terlalu lambat dan kurang greget, spiritualnya juga kurang, maka harus dibuat lebih Islami. Akhirnya mereka mulai melakukan manuver-manuver untuk sedikit demi sedikit merebut dan menguasai aset-aset Muhammadiyah. Ternyata warga persyarikatan sadar atas manuver ini, kita bagai kebakaran jenggot karena ternyata ideologi kita begitu rapuh sampai bisa kecolongan, lalu dimulailah mekanisme pertahanan diri dan pembersihan dari anasir-anasir yang dianggap merugikan Muhammadiyah. Puncaknya adalah penerbitan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor: 149/Kep/I.0/B/2006 tentang Kebijakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengenai Konsolidasi Organisasi Dan Amal Usaha Muhammadiyah.
Pasca penerbitan SK. PP tersebut, Muhammadiyah dan organ Islam transnasional mulai menjaga jarak, bahkan sampai sekarang ada yang masih alergi. Walaupun beberapa tahun berikutnya, isu ini mulai tenggelam, organ-organ transnasional pun mulai membangun yayasan dan amal usaha sendiri sehingga tidak perlu lagi menumpang di amal usaha Muhammadiyah.
Beberapa waktu ini kita disibukkan dengan isu perpolitikan nasional, dari sebelum pemilu 2014, saat pemilu dan pasca pemilu. Pembicaraan kita di medsos berkisar pertengkaran antara siapa capres yang dijagokan dan siapa capres yang dibenci. Bahkan setelah pemilu usai pun masih dibahas juga mengenai kelebihan dan kekurangan presiden kita.
Dalam pemilu 2014 ini harus diakui bahwa Muhammadiyah kalah gesit dan lincah dari NU. Tentu kita bisa ngeles dengan berbagai argumen yang normatif, namun ternyata NU yang notabene adik kita dalam beberapa hal sudah lebih progresif. Namun tentu tak perlu berkecil hati walau tidak banyak kader dalam lingkar kekuasaan namun Muhammadiyah tetap berpolitik meluruskan kiblat bangsa melalui jihad konstitusi. Jihad konstitusi ini tentu lebih berdampak nyata dibanding hanya melaksanakan konferensi atau seminar menentang neo-liberalisme atau imperialisme.
Bagaimana Muhammadiyah di masa depan? Muhammadiyah di masa depan adalah bagaimana kita berMuhammadiyah hari ini. Yang jelas kita perlu gagasan-gagasan kreatif dan segar agar Muhammadiyah tidak usang ditelan zaman. Tentu ironis kalau organisasi yang dahulu di cap modern dan anti kejumudan malah terjebak dalam kejumudan itu sendiri. Inilah tugas kita semua khususnya generasi muda untuk pandai membaca tanda-tanda zaman lalu mewujudkannya dalam bentuk inovasi-inovasi nyata yang bermanfaat untuk persyarikatan.
Robby Karman