Mengapa Publik dan Media Tak Sebut “Teroris” Kepada Bikshu Pembantai Muslim Rohingya


Nestapa yang mendera kaum muslim rohingya telah membangunkan warga dunia bahwa telah terjadi tragedi kemanusiaan di Mayanmar, sebenarnya kita sudah sangat terlambat mendapatkan akses berita tentang saudara kita umat islam Rohingnya. 
Padahal sejatinya penindasan itu sudah berlangsung selama bertahun tahun yang lalu, namun kita baru percaya setelah hampir dua juta muslim Rohingya hidup diluar negaranya, dan lebih dari ratusan ribu nyawa mati teraniaya. 
Bagaimana mungkiin seorang biksu Buddha menjadi dalang di balik neraka bagi kaum Rohingya dimana selama ini citra bhiksu selalu dengan profil dan penampilan yang ramah namun muncul seorang Biksu bernama Ashin Wirathu  menyebarkan kebencian ke tengah masyarakat Myanmar.


Ashin Wirathu menyebarkan ajaran kebencian dalam setiap ceramahnya. Dia selalu menyasar komunitas Muslim, seringkali dia memojokkan Rohingya. Pria inilah yang memimpin demonstrasi yang mendesak orang-orang Rohingya direlokasi ke negara ketiga.
Sepak terjang Ashin yang disebut sebagai pemimpin dalam pergerakan pembantaian Rohingya patut menjadi sorotan, perawakannya yang tenang, pakaiannya yang sederhana, seperti biksu pada umumnya ternyata jauh bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya. Ashin pria berkepala plontos pun tak segan-segan dengan keji menghabiskan nyawa manusia yang tak berdosa.
Fakta – fakta yang telah kita lihat tidak pula mampu membuka mata publik dan media untuk bersikap adil terhadap tragedi ini, kita masih ingat di dalam negeri sematan Teroris atau terduga teroris sangat mudah disematkan kepada para pemuda islam yang belum diketahui kesalahannya bahkan banyak yang meregang nyawa sebelum proses pengadilan.
Namun dalam kasus muslim rohingya apa yang dilakukan oleh Biksu Ashin sebuah genosida terhadap suatu kaum namun sematan sebagai “Teroris” tidak disematkan oleh media maupun publik secara umum, padahal secara terang – terangan kejahatan kemanusiaan itu dilakukan secara terbuka.
Sebuah ironi dan standar ganda media serta persepsi publik terhadap sebuah tragedi kemanusiaan ketika hal tersebut dilakukan oleh mereka yang diluar ummat islam maka labelling itu tak terjadi namun berbeda jika pemuda muslim melakukan kegiatan yang dianggap mencurigakan maka label “Teroris” dengan mudah disematkan.
Semoga Ummat Islam senantiasa diberi kesabaran dan tentunya kita mendoakan agar penderitaan kaum muslim rohingya bisa diakhiri serta berharap keadilan didapatkan oleh seluruh ummat islam di muka bumi ini. (redaksi/sp.com)